Bangun 6.000 Jaringan Gas Bumi di Semarang Barat

326
MANDIRI ENERGI : Petugas PGN sedang melakukan pengecekan rutin instalasi gas bumi yang sejak 3 bulan lalu mengaliri rumah warga Kelurahan Mlati Baru Semarang Timur Kota Semarang.

SEMARANG, RADARSEMARANG.ID -Masyarakat Kota Semarang yang selama ini menanti manfaat perluasan jaringan gas bumi (Jargas) yang lebih merata, patut bersyukur. Pasalnya, pemerintah pusat melalui Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) menugaskan Perusahan Gas Negara (PGN) untuk membangun 6.000 sambungan rumah (SR) di Semarang Barat Kota Semarang.
Pembangunan jargas baru tersebut meliputi enam kelurahan, yaitu Kelurahan Krobokan, Kelurahan Karang Ayu, Kelurahan Cabean, Kelurahan Bojong Salaman, Kelurahan Salaman Mloyo dan Kelurahan Gisik Drono. “Sebetulnya perluasan Jargas yang diusulkan jauh lebih banyak. Namun akhirnya mengerucut realisasi pada 6.000 SR di wilayah Kecamatan Semarang Barat dan 4.000 SR di Blora. Cuma saat ini yang disetujui pemerintah pusat adalah pembangunan 6.000 SR di Semarang Barat,” kata Manager Sales Area Head PGN Semarang, Heri Frastiono kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Menurutnya, pembangunan 6.000 SR ini program pembangunan single years di tahun 2020. PGN yang akan melakukan pengelolaan dan pengoperasian. “Kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan gas bumi semakin meningkat. Selain lebih aman, juga lebih hemat,” jelasnya.
Sedangkan jargas yang sudah terbangun dan dimanfaatkan masyarakat Kota Semarang saat ini, sebanyak 1.800 SR di Semarang Timur. “Sebetulnya pemerintah pusat menugaskan PGN untuk menyambungkan jaringan gas bumi di wilayah Semarang sebanyak 4.000 SR. Namun baru terbangun 1.800 SR,” imbuh Sales Jargas Semarang-Blora, Astuti saat mengunjungi beberapa pelanggan PGN di rumah warga Kelurahan Mlati Baru Semarang Timur, kemarin.
Menurutnya, selain membangun 6.000 SR di Semarang Barat, PGN juga masih akan menyambungkan sekitar 1.500 SR di Semarang Timur di tahun 2020. Yakni, di sektor 8 Kanalsari Kelurahan Rejosari dan sektor 10 Keluarahan Bugangan.
Mengapa tidak diselesaikan single years? Astuti menjelaskan bahwa sebelumnya Kementrian ESDM yang membangun 4.000 infrastruktur jargas di Semarang Timur. Sempat terhenti. Hingga akhirnya sejak 2017, pemerintah menugaskan PGN untuk menyambungkan jargas dan mengelolanya untuk masyarakat kalangan menengah bawah ini.
“Ini berbeda dengan pembangunan jargas di Semarang Barat, PGN dilibatkan sejak awal pembangunan infrastruktur jaringan. Maka dengan single years, perluasan jargas tersebut sudah bisa terealisasi,” imbuh Heri.
Diakuinya, masyarakat Kota Semarang saat ini sudah teredukasi dan mengetahui manfaat gas bumi. Justru masyarakat sekarang ini ingin secepatkan merasakan manfaat gas bumi. “Gas bumi yang dialirkan ke jargas di Semarang Timur maupun yang akan dibangun di Semarang Barat berasal dari CPP Gundih Kabupaten Blora yang dialirkan PT SPP (Sumber Petrindo Perkasa) Tambaklorok,” jelasnya.
Sementara itu, terkait harga gas bumi per meter kubik, untuk rumah tangga (RT) 1 sebesar Rp 4.250/m3, untuk RT 2 sebesar Rp 6.000/m3 dan PK2 sebesar Rp 6.000/m3. “Ini harga yang berlaku per 1 Desember 2019,” jelasnya.
Sementara itu, jargas yang dibiayai APBN di tahun 2020 untuk wilayah meliputi 6000 SR di wilayah Kecamatan Semarang Barat yang meliputi Kelurahan Krobokan, Karangayu, Cabean, Bojong Salaman, Salaman Mloyo dan Gisik Drono. Kemudian 4.000 SR di Kecamatan Cepu Kabupaten Blora yang meliputi Kelurahan Balun, Cepu, Tambaromo dan Karangboyo.
“Kemudian di wilayah Jawa Timur sebanyak 6.000 SR di Kota Surabaya, 5000 SR di wilayah Kecamatan Jombang, 5.000 SR di Kota Pasuruan, dan 5.000 SR di Kota Probolinggo,” jelasnya. (ida)