alexametrics

Sebelas Perusuh Diproses Hukum

Kerusuhan saat Demo di Magelang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Kerusuhan yang terjadi saat aksi demonstrasi di depan kantor DPRD Kota Magelang, Kamis (26/9) lalu terus diusut polisi. Sejauh ini sudah 59 orang diamankan dan menjalani proses hukum.

Kapolda Jateng Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel mengatakan, setidaknya ada belasan orang yang diproses hukum pascakerusuhan tersebut.

“Tiga orang terbukti membawa alat-alat itu. Yang tujuh sedang dalam pemeriksaan, kemungkinan ya 10 sampai 11 orang yang akan diproses hukum dari 59 orang itu,” ungkapnya di Mapolda Jateng, Senin (30/9) kemarin.

Rycko mengatakan, selain mengamankan puluhan orang yang diduga pelaku kerusuhan, polisi juga mengamankan berbagai barang bukti.  “Kita mendapatkan barang bukti batu, kayu, linggis, dan kunci inggris untuk menghacurkan lampu-lampu di jalan. Ada tiga orang yang terbukti membawa alat-alat itu,” bebernya.

Baca juga:  Radar Semarang Edisi 19 Agustus 2019

Dijelaskan, aksi kerusuhan tersebut terjadi setelah para mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor DPRD Kota Magelang sekitar pukul 16.30. Begitu para mahasiswa membubarkan diri, tiba-tiba sekelompok orang melakukan kerusuhan.

“Selang satu jam para mahasiswa pulang, kemudian ada yang melempari rumah wali kota. Mereka tidak mengenakan jaket mahasiswa memecahi lampu jalan,” jelasnya.

Adanya aksi kerusuhan tersebut, petugas langsung melakukan penindakan di lokasi kejadian. Dari penyelidikan, akhirnya petugas berhasil mengamankan sebanyak 59 orang yang diduga terlibat aksi kerusuhan.

“Dari 59 orang itu tidak ada satupun yang mahasiswa. Sebanyak 17 pelajar dan sisanya kelompok punk. Sebenarnya kalau disebut anak punk usianya sudah tidak anak-anak lagi, sudah di atas 18 tahun semua,” jelasnya.

Baca juga:  Mari Rayakan Hari Pers Nasional bersama Jawa Pos Radar Semarang, Download Twibbon HPN 2022 di Sini

Dari hasil penyelidikan, sebagian dari 59 orang yang diamankan dan terbukti terlibat, dilakukan penahanan untuk menjalani proses hukum. Sedangkan sebagian lainnya telah dipulangkan ke orangtuanya karena tidak terbukti. “Guru dan orangtuanya dipanggil untuk membuat surat pernyataan. Mereka juga diberikan pengarahan,” katanya.

Rycko mengimbau kepada semua, termasuk orang tua dan guru termasuk BEM mahasiswa supaya mengingatkan kepada para pelajar untuk tidak ikut turun ke jalan. Alasanya, pihaknya khawatir nantinya akan dimanfaatkan oleh orang tidak bertanggung jawab.

“Yang disayangkan, para pelajar ini datang ke lokasi tidak tahu apa yang sedang diperjuangkan dan bagaimana cara memperjuangkannya. Mereka dimanfaatkan oleh sekelompok orang untuk melakukan kerusuhan, mereka menjadi korban,” ujarnya. (mha/aro)

Baca juga:  12 Anggota Polres Sembuh dari Covid-19

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya