alexametrics

Tawarkan Tempat Tinggal Sementara Mirip Rumah Kos

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PT Sango Ceramic Indonesia (SCI) meminta 42 KK warga Depok Timur, Kembangsari, Semarang Tengah segera angkat kaki dari rumah yang ditempati saat ini. Perusahaan keramik ini menawarkan kepada warga uang tali asih serta tinggal di rumah petak di Wonosari, Ngaliyan. Seperti apa kondisi rumah petak yang ditawarkan kepada warga Depok Timur tersebut?

 

MIRIP RUMAH KOS : Mess PT Sango Ceramics Indonesia di RT 6 RW 9 Kelurahan Wonosari, Ngaliyan, yang ditawarkan sebagai tempat tinggal sementara warga Depok Timur.(ADENNYAR WYCAKSONO/RADARSEMARANG.ID)
MIRIP RUMAH KOS : Mess PT Sango Ceramics Indonesia di RT 6 RW 9 Kelurahan Wonosari, Ngaliyan, yang ditawarkan sebagai tempat tinggal sementara warga Depok Timur.(ADENNYAR WYCAKSONO/RADARSEMARANG.ID)

Koran ini sempat mengunjungi mess perusahaan yang disebut sebagai rumah petak itu. Mess itu berada di wilayah RT 6 RW 9, Kelurahan Wonosari. Mess difungsikan bagi karyawan PT Sango yang tinggal di luar kota.

Pantauan koran ini, mess karyawan Sango ini cukup luas dan nyaman. Mirip dengan rumah pada umumnya. Setiap rumah berukuran 5×3 meter. Mess ini lengkap dengan kamar tidur, kamar mandi, dapur dan lainnya. Kompleks mess dibagi blok A sampai O. Setiap blok terdiri atas 5 sampai 12 rumah.

“Sudah empat tahun terakhir saya tinggal di sini, kebetulan memang bekerja di Sango dan bukan warga Semarang, sehingga saya tinggal di mess,” kata Djoko, warga mess yang tinggal di blok F kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Saat ditanya jika mess tersebut sebagai lahan relokasi sementara warga Depok Timur, Djoko mengaku belum mengetahuinya. “Wah kalau itu nggak tahu, Mas, mungkin yang ngatur manajemen,” ujarnya singkat.

Baca juga:  Kebakaran di RSUP dr Kariadi Bisa Dipadamkan

Hal senada diungkapkan Tarwiyati, penghuni mess lainnya. Ia juga mengaku belum mengetahui adanya wacana relokasi warga Depok Timur ke mess ini. “Kalau itu, saya nggak tahu. Mungkin ada yang kosong, karena jumlah mess Sango kan banyak,” jelasnya.

Karyawan yang ingin tinggal di mess, lanjut dia, harus mengajukan izin kepada pemangku atau ketua grup mess. Kemudian ditempatkan di mess yang tidak berpenghuni atau kosong. “Prosesnya izin duluke perusahaan, nanti nembusi ke ketua mess,” bebernya

Koran ini pun coba menghubungi pihak Kelurahan Wonosari. Kepala Kelurahan Wonosari Utomo mengaku belum mengetahui adanya rencana pemindahan 42 KK warga Depok Timur ke mess yang terletak di wilayahnya. “Belum tahu masalah itu, Mas (relokasi, Red). Malah saya baru tahu ini,” ujarnya.

Utomo mengatakan, meski mess milik PT Sango, namun tetap diperlukan pendataan kependudukan jika memang warga Depok Timur ini jadi direlokasi ke wilayahnya. “Besok (hari ini, Red) akan saya tanyakan Mas. Kalau memang jadi kan harus ada izin dan pendataan kependudukan,”katanya.

Baca juga:  1.500 Pedagang Ditempatkan di Johar Utara dan Tengah, Sisanya di Kanjengan

Sementara itu, Satpol PP Kota Semarang akan kembali mempertemukan pihak-pihak yang bersengketa, yakni antara warga Depok Timur dengan PT SCI. “Senin (30/9) kita temukan semua di Kantor Satpol PP,” ujar Kepala Satpol PP Kota Semarang Fajar Purwoto, Minggu (29/9).

Dikatakan Fajar, kesepakatan akan diusahkan kembali dengan mempertemukan kedua belah pihak. Pasalnya, sebelumnya ke dua belah pihak bersikukuh akan menaikkan persoalan tersebut ke ranah hukum. Namun, menurut Fajar, pihak PT SCI sementara ini telah membatalkan rencana membawa kasus ini ke ranah hukum.

“Karena kalau benar ini sampai ke ranah hukum, warga tidak dapat apa-apa, karena memang secara yuridis surat ada di PT Sango (SCI),” kata Fajar.

Sehingga diambil jalan tengah untuk mempertemukan ke dua belah pihak lagi. Dikatakan Fajar, warga setempat juga masih bersikukuh kurang sepakat dengan ganti rugi yang sebelumnya pernah ditawarkan oleh PT SCI. Di mana satu kepala keluarga (KK) akan diberikan tali asih Rp 7,5 juta sampai Rp 12 juta, serta ditempatkan di bangunan mess milik PT SCI di Wonosari. Namun tawaran itu ditolak warga setempat. “Ya, karena menurut warga dengan besaran tali asih tersebut tidak sepadan dengan bangunan rumah yang mereka bangun,” ujarnya.

Baca juga:  Pimpinan Komisi Didominasi PDIP

Dalam hal ini, Pemkot Semarang memposisikan diri di tengah-tengah persoalan tersebut. Menurut Fajar, jangan sampai persoalan ini akan berujung ricuh antara kedua belah pihak. “Karenanya memang harus hati-hati. Kita juga meredam supaya ini diselesaikan secara baik-baik,” ujarnya.

Pertemuan hari ini merupakan kali keenam. Lima kali pertemuan sebelumnya yang sudah difasilitasi oleh Satpol PP Kota Semarang ternyata belum membuahkan hasil. Bahkan di pertemuan kelima, kedua belah pihak bersikukuh untuk melanjutkan persoalan tersebut ke ranah hukum.

“Kita optimistis persoalan ini akan selesai dengan baik-baik,” katanya.

Sementara itu ketika dikonfirmasi, pihak Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Semarang dan DPRD Kota Semarang enggan berkomentar banyak terkait hal tersebut. “Kita belum mau berkomentar, karena memang awalnya belum mengikuti persoalan tersebut,” ujar Ketua DPRD Kota Semarang Kadarlusman. (den/ewb/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya