alexametrics

Dirazia dan Ditilang, Awak Bus Tak Jera

Terminal Terboyo Ditutup, Terminal Bayangan Menjamur

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Terminal Terboyo memang sudah ditutup sejak 1 September 2018 lalu. Namun eksistensi sebagai terminal bayangan masih bisa dirasakan sampai sekarang. Terbukti masih banyak angkutan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) maupun Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) yang berhenti di sana.

PANTAUAN koran ini, masih ada sejumlah bus AKDP yang menaik-turunkan penumpang di terminal bayangan Terboyo. Minggu (1/9) siang. Terhitung ada tiga bus Solo-Semarang yang ngetem menunggu penumpang. Selain itu, ada pula bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) jurusan Surabaya-Semarang dan jurusan Cirebon.

Bus berjajar di sepanjang jalan menuju Terminal Terboyo di sekitaran traffic light. Sejumlah penumpang yang baru turun, menunggu kendaraan lanjutan di pinggir jalan. Sementara yang di dalam bus, menunggu bus untuk jalan.

Penumpang asal Tegal yang enggan disebut namanya memilih menunggu di sebuah warung. Daripada naik bus saat ngetem, ia harus menunggu lebih lama di dalam bus.  Pria yang bekerja di Suarabaya ini mengaku tidak tahu di mana bus seharusnya berhenti. Yang ia tahu, dari Surabaya ia bisa ke Semarang dan pindah bus untuk menuju ke Tegal.

”Saya biasanya ke Solo. Tapi ini nyoba ke Semarang dan turun di sini. Ini nunggu untuk ke Tegal,” ujarnya kepada koran ini.

Sum, pedagang sekitar Rumah Sakit Islam Sultan Agung mengatakan, meskipun Terminal Terboyo sudah ditutup dan akan dialihfungsikan sebagai terminal angkutan barang, masih banyak bus, terutama Solo-Semarang, yang berhenti di Terboyo.

Tidak hanya di sekitar terminal, bus juga mengangkut penumpang yang menunggu di sepanjang jalan sekitar RSI Sultan Agung. Kerapkali bus yang berhenti untuk menaikkan penumpang menyebabkan kemacetan. ”Sudah biasa seperti itu. Sebenarnya kasihan kalau penumpang dari sini. Kalau ketemu calo bakal diminta uang lebih,” ujarnya.

Baca juga:  Terminal Terboyo Dilengkapi Penginapan

Kepala Balai Pengelola Sarana dan Prasarana Perhubungan Wilayah I Bambang Adiono mengatakan, hingga saat ini sebagian besar angkutan penumpang sudah menuju ke Terminal Penggaron. Ia katakan sebagian besar karena dirinya menyadari masih ada beberapa bus yang masih menaik-turunkan penumpang di terminal bayangan Terboyo.

”Sebagian besar sudah masuk ke Penggaron. Tapi kalau kemudian dari Penggaron ke Terboyo saya kurang tahu,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Berulang kali pihaknya mengadakan rapat bersama pengelola perusahaan otobus (PO). Meminta agar mereka tidak lagi menaik-turunkan penumpang di terminal bayangan Terboyo. Rapat terakhir, belum lama ini,  sudah ada kesepakatan bersama bahwa semua bus akan ke Terminal Pengaron.

Bambang meminta semua bus ke terminal resmi demi menjamin penumpang untuk mendapatkan standar pelayanan minimal. Meliputi kemananan, kenyamanan, keselamatan, keterjangkauan dan keteraturan. Aspek-aspek itu  memang hanya bisa didapatkan penumpang di terminal resmi. Seperti terminal tipe B Penggaron.

”Kami tidak bisa menjamin Standar Pelayanan Minimal (SPM) itu kalau di terminal bayangan,” ujarnya dengan menekankan bahwa Terboyo memang bukan merupakan terminal penumpang dan ke depan akan dialihfungsikan menjadi terminal angkutan barang.

Ia menjelaskan, tidak dibenarkan bus menaikkan dan menurunkan penumpang di terminal bayangan Terboyo. Selama ini masih banyak penumpang yang naik dari Terboyo, jelasnya, karena para penumpang masih dimanjakan oleh banyak PO yang ngetem di terminal tersebut.

Baca juga:  Positif Covid, Loncat dari Lantai 6

”Padahal nanti kalau di sana, bisa saja penumpang bertemu dengan calo dan dimintai uang lebih. Atau mungkin harga tiket dinaikkan. Karena memang di sana adalah terminal bayangan,” kata dia.

Bambang meminta semua PO kompak pindah ke terminal resmi, Penggaron. Ketika semua bus kompak masuk ke terminal resmi, maka para penumpang dengan sendirinya akan menuju ke Penggaron.

”Mereka, para penumpang, nanti bisa menggunakan angkutan lanjutan. Seperti angkot, BRT (bus rapid transit) dan yang lainnya menuju terminal. Sebab, rumahnya bus kan memang di terminal. Jadi nanti penumpang juga akan ke sana,” jelasnya.

Mengenai hal ini, ia tambahkan, sekitar dua minggu yang lalu kembali digelar rapat bersama, khususnya untuk trayek Solo-Semarang. Dalam rapat ini semua bus sepakat beroperasi di Terminal Penggaron. Bagi bus yang masih beroperasi di terminal bayangan, biasanya akan dilakukan penertiban bersama Dinas Perhubungan Kota dan Provinsi bersama aparat Satlantas.

”Karena memang bukan terminal bus lagi. Kita arahkan mereka ke Terminal Penggaron sebagai terminal resmi. Bukan terminal bayangan,” kata dia.

Kabid Pengendalian dan Penertiban Dishub Kota Semarang Danang Kurniawan mengatakan, pihaknya sudah berkali-kali melakukan penertiban armada bus yang ngetem di sekitar eks Terminal Terboyo. Hal itu dilakukan sebagai upaya tegas terhadap para awak bus tersebut.

Ngetem-nya mereka di sana (eks Terminal Terboyo) tentunya membuat masyarakat menjadi bingung, apakah terminal tersebut masih berfungsi atau tidak?” kata Danang. Penindakan tegas tersebut berupa penilangan terhadap para awak bus.

Baca juga:  Pakai Kursi Roda, Bos SSJ Diperiksa

Dengan menggandeng aparat Satlantas, pihaknya kerap melakukan operasi di eks Terminal Terboyo. Bukannya kapok, justru para awak bus kerap mengulangi hal itu. Setiap harinya ngetem di eks Terminal Terboyo. “Tidak hanya menilang, namun juga mencabut izin trayeknya sudah dilakukan,” katanya.

“Kita melakukan operasi juga karena banyak laporan masyarakat yang resah tentang banyaknya armada yang masih ngetem di eks Terminal Terboyo,” tambahnya.

Diakui, Dishub Kota Semarang memang hanya memiliki kewenangan sebatas penilangan. Setelahnya, kewenangan ada pada Dishub Provinsi Jateng. Ia berharap, pihak provinsi dapat memberikan sanksi yang membuat jera para armada bus.

“Untuk AKDP kami serahkan ke provinsi, sedangkan bus AKAP kami laporkan ke kementerian. Manakala tidak bisa dibina, sudah kena tilang beberapa kali, kami mohon evaluasi untuk izin trayeknya bisa dicabut atau dibekukan sementara,” ujarnya.

Bahkan dari beberapa hasil operasi gabungan dengan pihak kepolisian, Dishub Kota Semarang kerap mendapati armada yang sudah tidak layak jalan. Mulai dari izin trayek mereka yang sudah mati, kondisi fisik yang jauh dari kenyamanan. “Banyak kita temukan yang membahayakan seperti ban halus atau kaca depan pecah,” tuturnya.

Sejauh ini sudah puluhan armada ditilang ketika Dishub Kota Semarang melakukan operasi di eks Terminal Terboyo. Namun tetap saja hal itu tidak membuat mereka jera. (sga/ewb/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya