RADARSEMARANG.ID, Batang - Di tengah lengang dan terjalnya jalur alternatif Alas Roban, Batang, seorang pemuda tampak duduk di pinggir jalan sambil menata enam botol kecil berisi pertalite.
Namanya Agung, 25 tahun, perantau asal Babat, Lamongan, yang kini menjadikan tikungan hutan Alas Roban sebagai tempat bertahan hidup.
Tidak ada kios, tidak ada atap, hanya selembar plastik sebagai alas tidur dan keberanian menghadapi malam yang kian menusuk.
Agung sudah satu tahun hidup menggelandang setelah konflik keluarga memaksanya meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. “Tepat bulan November ini genap satu tahun saya pergi dari rumah,” tuturnya lirih, Selasa (18/11/2025).
Baca Juga: Sakit Gigi Melemahkan Hidupmu, Ini Obat Ampuh yang Bisa Dibeli di Apotek
Sejak itu perjalanan hidupnya berubah menjadi kisah panjang yang penuh luka dan ketabahan.
Botol-botol kecil pertalite itulah sumber kehidupannya. Satu botol berisi setengah liter ia jual seharga Rp7.000. Setiap hari ia hanya menjual lima botol, kadang tidak habis sama sekali.
Semua ia beli dari pengecer karena SPBU melarang pembelian dengan jerigen. Selain bensin, Agung juga menjual masker eceran untuk menambah pemasukan. “Yang penting bisa makan,” katanya pasrah, tapi tetap tersenyum.
Baca Juga: Operasi Zebra Candi Dimulai! Balap Liar dan Kendaraan Tak Laik Jalan Diburu
Agung adalah anak kedua dari lima bersaudara. Ia sempat kuliah di Universitas Jember jurusan Informatika, namun harus drop out setelah hidupnya porak-poranda. Konflik bermula saat kios kecil yang ia buka ternyata lebih laris dari kios keluarga.
Situasi makin memburuk setelah ayahnya meninggal pada 2018. Agung yang dekat dengan almarhum merasa tak punya rumah lagi.
Baca Juga: Heboh Spanduk Misterius Sudutkan Kepala SD di Pekalongan, Dinas Pendidikan Bilang Begini
Ia kemudian mengembara dari kota ke kota. Pernah menjadi pemulung di Blora, tapi ditipu hingga HP-nya dibawa kabur.
Pernah pula ditampung Dinsos Semarang, namun kabur saat mengetahui keluarganya mencoba menjemput.
“Saya tidak ingin pulang,” ucapnya, air mata jatuh perlahan. Meski demikian, Agung mengaku selalu mendoakan ibunya setiap malam.
Baca Juga: 5 Obat Jerawat Apotek Paling Ampuh 2025, Nomor 5 Bikin Kamu Terkejut
Kini, Agung berjualan di dekat pemakaman umum Dukuh Bunderan, Desa Plelen, Kecamatan Gringsing. Area itu sepi, namun justru memberikan ketenangan baginya. Bila hujan turun deras, makam menjadi satu-satunya tempat ia berteduh.
“Daripada basah kuyup,” katanya sambil menunjukkan plastik lusuh yang selama ini menjadi alas tidur.
Di jalur sunyi itu, di antara deru kendaraan yang melintas, Agung melanjutkan hari-harinya—dengan bensin eceran, segenggam keberanian, dan secercah harapan yang ia pelihara diam-diam.
Baca Juga: Pekalongan Open Dance Sport 2025: Balgis Kagum Dengan Olahraga dan Kompetisi ini
Sejak kisahnya viral di media sosial, banyak masyarakat datang menunjukkan kepedulian. Ada yang membeli bensin tanpa menawar, ada yang sengaja tidak meminta kembalian, bahkan ada yang memberikan nasi bungkus. “Saya sangat bersyukur, mereka baik sekali,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Meski hidupnya penuh cobaan, Agung tidak pernah kehilangan harapan. Ia ingin tetap bekerja jujur, tidak meminta-minta, dan berusaha berdiri di atas kaki sendiri.
Alas Roban mungkin bukan tempat ideal untuk membangun masa depan, namun di situlah Agung menemukan keteguhan: bahwa hidup bisa terus berjalan selama ia tidak menyerah.(han)
Editor : Baskoro Septiadi