26 C
Semarang
Selasa, 6 Juni 2023

Metode Problem Based Learning Tingkatkan Hasil Belajar Penjasorkes

Oleh: Septian Kukuh Satria

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SALAH satu prinsip yang penting dalam pendidikan saat ini adalah pembelajaran tidak berpusat lagi pada guru. Guru hendaknya membuat pembelajaran yang lebih inovatif. Sehingga mendorong siswa untuk belajar lebih optimal baik di dalam kelas maupun di luar kelas sesuai dengan kurikulum (Sujianto, 2008).

Pendidikan jasmani dan kesehatan merupakan bagian intergral dari pendidikan secara keseluruhan. Maka dari itu, untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, stabilitas emosional, moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.

Perubahan kurikulum merdeka belajar yang menekankan perubahan pada aspek proses pembelajaran yang saintifik tentunya memberikan tantangan tersendiri bagi mata pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (Penjasorkes). Guru harus mampu memperdayakan siswanya, agar semua tujuan yang telah digariskan dalam kurikulum tersebut dapat dicapai secara optimal.

Guru Penjasorkes harus mampu mengembangkan karirnya secara profesional. Guru Penjasorkes di sekolah seharusnya berusaha dengan sebaik mungkin bagaimana agar pembelajaran yang diberikan di lapangan dapat berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa.

Pembelajaran di kelas di antaranya pembelajaran yang sering dilakukan lebih terpusat pada guru (teacher center learning), siswa tidak mendapatkan kesempatan untuk berperan aktif dalam pembelajaran, selain itu siswa kurang tertarik dan cenderung pasif, sehingga siswa tidak mempunyai motivasi belajar atau keinginan untuk belajar, ini berdampak pada hasil belajar siswa (Suginem, 2021).

Berdasarkan permasalahan tersebut dibutuhkan suatu model pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan memperbaiki proses pembelajaran sehingga hasil belajar siswa dapat optimal. Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut yaitu dengan menerapkan model Problem Based Learning (PBL). Seperti yang diterapkan di SMAN 1 Wonotunggal, batang.

Menurut Ridwan Abdullah (2014) pembelajaran Problem Based Learning adalah pembelajaran yang dapat membuat siswa belajar melalui upaya penyelesaian permasalahan dunia nyata secara terstruktur untuk mengonstruksi pengetahuan siswa.

Tujuan dari metode PBL selain siswa memperoleh pengetahun dengan setting permasalahan yang telah disusun, memungkinansiswa untuk mendalami meteri lebih dalam sesuai dengan kapasitas siswa sendiri (Luo, 2017).

Sepak bola dimainkan oleh 11 pemain, dengan pemain 11 ini setiap pemain memiliki perannya masing masing tergantung dari setiap posisi. Misbahuddin & Winarno (2020) menyatakan bahwa, sepak bola ini merupakan olahraga murah meriah yang banyak partisipan dari masyarakat.

Olahraga ini mengandalkan kerjasama tim secara keseluruhan untuk memenangkan pertandingan dengan cara membuat skor dan menghambat tim lawan untuk mencetak skor. Kemudian dalam pelaksanaan kegiatan siswa mengalami kesulitan belajar permaianan sepak bola karena kebanyakan guru masih mengajarkan hanya kepada teknik dalam konteks materi saja, hal ini terlihat dimana siswa siswa kurang mempunyai keterampilan teknik dasar dalam permainan sepak bola.

PBL merupakan model pembelajaran yang berfokus pada siswa atau student center dan diharapkan siswa dapat berperan aktif secara optimal, meliputi siswa mampu melakukan eksplorasi, investigasi, dan memecahkan masalah serta mengevaluasi pada proses mengatasi masalah, sehingga secara tidak langsung minat belajar akan tumbuh dengan sendirinya.

Dengan menggunakan pembelajaran model PBL guru mampu mengoptimalkan aktivitas siswa dalam menemukan masalah dan memecahkannya secara berkelompok atau melalui diskusi.

Menurut Panuntun (2020) PBL dilakukan dengan memberikan masalah yang harus diselesaikan dengan terstruktur, dan memungkin kan berbagai kemungkinan jawaban dari peserta didik, dan merangsang siswa untuk jeli dalam melihat, menggali dan berfikir dengan kritis untuk memecahkan permasalahan dan membangun pengetahun menjadi bangunan yang baru.

Juliyandi (2015) menyatakan bahwa, hasil belajar merupakan hasil dari keterampilan serta keikutsertaan siswa yang aktif secara fisik, dan kognisi serta afektisi dalam proses pembelajaran.

Penggunaan model pembelajaran PBL dengan proses kognisi dan harus diterapkan dengan latihan (teknik) dan dilakukan kerjasama untuk meningkatkan kemampuan teknik dasar sepak bola merupakan perbaduan belajar yang lengkap secara ranah pembelajaran. Kekritisan, Kreativitas, keterbukaan, kerjasama serta kemampuan mencari sumber dan cara pemecahan masalah merupakan hal kunci dalam keberhasilan pembelajaran yaitu adanya peningkatan hasil belajar yang pada muaranya akan terjadi ketuntasan belajar. (*/zal)

Guru Penjasorkes SMAN 1 Wonotunggal, Batang


Baca artikel dan berita terbaru di Google News


Artikel Terkait

Sementara Itu ..

Terbaru

Populer

Menarik

Lainnya