24 C
Semarang
Minggu, 29 Januari 2023

Pembentukan Karakter Siswa Melalui Gerakan Literasi Sekolah

Oleh : Mujiyana, S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Banyak permasalahan berkaitan dengan merosotnya karakter anak bangsa. Semua itu harus segera diatasi. Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana yang mempunyai peran penting dalam membentuk sumber daya manusia berkarakter. Salah satu cara untuk menerapkan pendidikan karakter di sekolah dasar yaitu melalui budaya Literasi.

Pada abad ke-21 kemampuan berliterasi peserta didik berkaitan erat dengan tuntutan keterampilan membaca yang berujung kemampuan memahami informasi secara analitis, kritis, dan reflektif. Tetapi, pembelajaran di sekolah saat ini belum mampu mewujudkan hal tersebut.

Pada tingkat sekolah menengah (usia 15 tahun) pemahaman membaca peserta didik Indonesia (selain matematika dan sains) diuji oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD—Organization for Economic Cooperation and Development) dalam Programme for International Student Assessment (PISA).

PISA 2009 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-57 dengan skor 396 (skor rata-rata OECD 493). Sedangkan PISA 2012 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-64 dengan skor 396 (skor rata-rata OECD 496) (OECD, 2013). Dari data tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

Baca juga:  Tingkatkan Literasi Digital Anak Sekolah Dasar

Gerakan literasi sekolah merupakan salah satu bentuk kesadaran pemerintah pentingnya membangun budaya literasi dalam dunia pendidikan. Supaya tercipta budaya membaca dan menulis di lingkungan sekolah sebagai upaya terwujudnya long life education.

Program ini dicanangkan dalam rangka menginisiasi Permendikbud No. 23 Tahun 2015 mengenai penumbuhan budi pekerti yaitu penumbuhan minat baca melalui kegiatan 15 menit membaca.

GLS dikembangkan berdasarkan sembilan agenda prioritas (Nawacita) yang terkait dengan tugas dan fungsi Kemendikbud, khususnya Nawacita nomor 5, 6, 8, dan 9. Butir Nawacita yang dimaksudkan adalah 5) meningkatkan kualitas hidup manusia dan masyarakat Indonesia; 6) meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya; 8) melakukan revolusi karakter bangsa; 9) memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia.

Baca juga:  Peningkatan Minat Baca Siswa melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS)

Tujuan GLS untuk menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat. Sedangkan tujuan khususnya yaitu:

a. Menumbuhkembangkan budaya literasi di sekolah. b. Meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat. c. Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan. d. Menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam
buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca.

Program GLS yang diterapkan dalam lingkungan Sekolah Dasar Negeri 02 Wonosari, Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan di antaranya : 1) Jadwal berkunjung ke perpustakaan, siswa diwajibkan meminjam buku, menyusun resume dari beberapa lembar buku yang telah dibacanya kemudian wajibkan pula untuk mengembalikan buku.

Baca juga:  Pembelajaran Asyik dan Pembentukan Karakter Siswa dengan Metode Hypnoteaching

2) Pemberdayaan mading sekolah. 3) Membaca buku non-pelajaran sebelum proses belajar dimulai. 4) Posterisasi Sekolah, membuat poster-poster yang berisi ajakan, motivasi maupun kata mutiara yang ditempel atau digantung di beberapa spot di kelas atau di sekolah.

5) Membuat pohon literasi di setiap kelas. 6) Membuat sudut baca di beberapa tempat di sekolah. 7) Mengadakan lomba karya literasi antar kelas.

Buku yang dibaca/dibacakan adalah buku yang diminati. Metode membaca dapat dilakukan dengan membacakan buku dengan nyaring (read aloud) dan membaca dalam hati (sustained silent reading/SSR).

Dengan gerakan GLS, siswa mampu menganalisis cerita, menangkap pesan moral cerita serta mampu meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari.

Menjadi bekal siswa memahami dan bersikap kritis terhadap berbagai informasi yang didengar dalam lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. (gp/fth)

Kepala SDN 02 Wonosari, Kec. Karanganyar, Kab. Pekalongan


Baca artikel dan berita terbaru di Google News


Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Menarik

Artikel Menarik Lainnya