Otomatisasi Pertanian dalam Pembelajaran Praktik Budidaya Tanaman

Oleh: Agus Ikwanto. SP. MPd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Sekolah pertanian secara umum kurang diminati masyarakat. Sebagian orang tua bahkan ada yang mengatakan pada anaknya, jika mau jadi petani kenapa harus sekolah di pertanian. Sungguh ironis. Padahal Indonesia merupakan negara agraris. Dimana mayoritas masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dari hasil bertani.

Potensi pertanian bagi generasi muda sangat menjanjikan. Karena hasil pertanian merupakan kebutuhan dasar yang paling utama. Dengan pengelolaan serius ditambah semangat, mindset yang baik, pemanfaatan teknologi, menjadikan peluang usaha pertanian modern memiliki prospek dan pasar cerah.

Contoh pertanian yang dapat digeluti pemuda adalah hidroponik, aeroponik, organik, dengan memanfaatkan teknologi dan otomatisasi. Mulai dari pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan, panen dan pasca panen hingga pemasaran.

Setyorini (2001) berpendapat bahwa sistem pendidikan berkontribusi terhadap pengembangan sektor pertanian. Doktrinasi dan indoktrinasi lebih efektif jika dilakukan berdasarkan materi yang terukur dan tersusun, waktu dan pola penyampaian yang dirancang untuk mengarahkan pada tujuan tertentu.

Baca juga:  Video sebagai Alternatif Pembelajaran Praktik Larutan Asam Basa

Pertanian dalam arti luas berhubungan dengan ilmu eksakta dan social. Namun sektor hulu yang menjadi motor utama sistem agribisnis lebih banyak berhubungan dengan ilmu eksakta, seperti biologi, lingkungan, cuaca, iklim, tanah dan air dan sebagainya.

Generasi muda sebagai ujung tombak kemajuan pertanian banyak yang meninggalkan pertanian. Inilah PR besar bagi SMK Negeri H. Moenadi sebagai sekolah pertanian untuk merubah mindset anak muda agar mencintai dunia pertanian. Mulai proses pembelajaran dibenahi dan tata kembali agar anak-anak lebih menarik belajar. Pembenahan dapat dilakukan mulai dari kurikulum, sarpras, dan pelaksanaan pembelajaran khususnya produktif (pertanian).

Proses pembelajaran produktif harus mulai melirik dengan penerapan model ottomatisasi kegiatan praktek di lahan agar tidak terkesan bahwa pertanian kotor. Pembelajaran secara kolaborasi dan komprehensif dengan semua mapel yang diajarkan di sekolah. Pembelajaran produktif/pertanian dibuat model project learning.

Baca juga:  Pembelajaran Praktik Kultur Pakan Alami di Masa PJJ

SMKN H Moenadi sudah mulai berbenah semua lini agar proses pembelajaran lebih menarik dan mudah dipahami peserta didik. Perangkat pembelajaran disusun dan dibuat lebih simple berupa video pembelajaran dan mendatangkan pakar usaha dari DUDI sebagai guru tamu.

Sarana pembelajaran praktek menggunakan peralatan digital yang serba otomatis dan peralatan mesin modern mulai diterapkan. Disini dapat dicontohkan peralatan modern yang sudah dimiliki seperti: drone untuk pemetaan lahan dan pembuatan video pembelajaran, sistem pengairan/pemberian nutrisi pada tanaman dengan menggunakan HP, Screenhouse serba otomatis, peralatan pengolahan sampai panen menggunakan mesin modern.

Sistem otomatisasi/digitalisasi pertanian sudah dimualai di SMK Negeri H. Moenadi, walaupun belum sempurna. System ini menggabungkan system pertanian model irigasi tetes (screen tanaman melon) atau sprayer (di green house tanaman anggrek). Khususnya dalam penyiraman, dan pemberian nutrisi sudah melalui internet dalam pengoperasiannya.

Baca juga:  Tingkatkan Kemampuan Pengolahan Kue Indonesia dengan Jobsheet Bergambar

Disini dapat kami contohkan model penyiraman dan pemberian nutrisi melalui pemanfaatan internet dalam pengoperasiannya. Adapun alur sistem tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: Pertama kita siapkan bak penampungan air dan nutrisi, pasang pompa air, pasang sprinkler atau sistem irigasi tetes yang langsung mengenai tanaman. Di antara bak penampungan kita pasang timer (pembagi waktu pengairan dan lain-lain) dan jaringan internet.

Itulah gambaran singkat pemanfaatan digitalisasi / otomatisasi pertanian di SMKN H. Moenadi Ungaran. Khususnya dalam pembelajaran Budidaya Tanaman. Untuk mengenalkan pada peserta didik untuk memahami bahwa pertanian dapat memanfaatkan teknologi digital. Harapannya generasi muda bisa terjun langsung ke bisnis pertanian atau menjadi petani modern yang selalu berinovasi. (tt1/fth)

Guru SMK Negeri H. Moenadi, Ungaran, Kabupaten Semarang



Baca artikel dan berita terbaru di Google News

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya