Mengenal Generasi dan Peran Orang Tua

Oleh : FX Onny Suprantiyo, S.S

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Kesadaran, sesuatu yang kadang kala diabaikan oleh manusia. Kesadaran sepenuhnya ketika menangkap, memahami lalu menyikapi sesuatu (apapun itu). Jika manusia sadar menjalani karunia hidup, kesadaran akan memberi solusi dalam menyikapi suatu keadaan.

Banyak manusia yang mendapat kesadaran karena diingatkan orang. Layaknya orang tua yang selalu mengingatkan anak-anaknya untuk sekolah, belajar dan meraih cita-cita. Untuk menentukan cita-cita, manusia harus memiliki kesadaran diri.

Seperti pada filsafat manusia, bahwa kesadaran akan jati diri sangat penting untuk mengetahui potensi dalam diri seseorang. Jati diri dan potensi seseorang bisa didapatkan melalui pengalaman pribadi maupun aesthesis, pengetahuan (ilmu) dan kontemplasi. Lalu siapa manusia yang paling sering menyadarkan orang lain?

Orang tua, dalam kehidupan menjadi manusia pertama yang berinteraksi dengan anak-anaknya. Orang tua menjadi role mode bagi anak-anaknya. Menjadi orang tua harus berhati-hati, pembentukan karakter hidup anak-anak tergantung dari pola, kebiasaan, tingkah laku dan norma keluarga.

Baca juga:  Menulis Cerita Imajinasi dengan Gampil

Era sekarang, yang dikuasai generasi milenial, generasi Z dan generasi alpha akan sulit bagi generasi baby boomer dan generasi X memberi pemahaman tentang selayaknya manusia hidup. Kehidupan beberapa generasi ini mengalami banyak perbedaan. Generasi baby boomer dan generasi X cenderung memiliki kehidupan yang gagap teknologi serta jengah dengan inovasi (feodalisme). Sedangkan generasi milenial dalam masa transisi, generasi Z dan alpha memiliki tingkat ketergantungan tinggi pada teknologi.

Orang tua harus paham cara mengelola keluarga secara benar. Generasi Z akan sulit menerima pola pikir generasi X yang menganggap teknologi sebagai penghambat sosialisasi. Sedangkan generasi Z dan alpha menganggap teknologi (gadget) sebagai media sosialisasi paling mudah dan efektif. Lalu bagaimana menjadi orang tua yang ideal?

Menurut beberapa artikel yang pernah penulis baca, pengelompokan generasi rata-rata berdasarkan tahun kelahiran. Ada lima generasi yang sekarang masih ‘eksis’ di dunia berdasarkan tahun kelahiran. Pertama generasi baby boomer yang lahir tahun 1946 sampai 1964, generasi ini persentasenya di bawah 10% dari jumlah penduduk Indonesia. Dua, generasi X yang lahir 1965 sampai 1980, keberadaan generasi ini di bawah 20%. Tiga, generasi milenial yang lahir 1981 sampai 1994, memiliki persentase 20-26%. Empat, generasi Z yang lahir 1995-2010 persentasenya antara 27-30% penduduk Indonesia. Lima, generasi alpha yang lahir 2011-2025.

Baca juga:  Mengenal Buku Fiksi dan Nonfiksi di Perpustakaan Sekolah

Dari pengelompokan usia generasi yang dilakukan para ahli, menunjukkan pergeseran generasi secara peradaban sesuai perkembangan zaman. Contohnya, secara kebudayaan, generasi baby boomer masih memegang teguh budaya dan adat istiadat bangsa, generasi X mendapat gempuran budaya asing dan berusaha membaur atau mengawinkan budaya bangsa dengan asing.

Generasi milenial menjadi generasi tertekan karena sedikit literasi untuk mengetahui budaya bangsa dan budaya kolaborasi. Sehingga generasi ini menjadi pengumpul informasi tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan kebudayaan untuk disampaikan kepada khalayak. Lebih tepatnya di masa generasi milenial ini banyak melakukan revitalisasi.

Generasi Z paling diuntungkan. Banyak informasi yang bisa didapatkan melalui teknologi (gadget). Generasi ini akan mengenal berbagai hal melalui teknologi. Sedangkan generasi alpha diharapkan tidak lupa dari mana mereka berasal dan di mana mereka hidup. Untuk itu, peran orang tua sangat dibutuhkan untuk kembali menyadarkan anak-anaknya tentang pola hidup, gaya hidup dan untuk apa hidup.

Baca juga:  Meningkatkan Motivasi BDR dengan Ice Breaking

Keluarga dengan tingkat disiplin baik akan memberi efek langsung pada tingkat kedisiplinan anak. Keluarga dengan gaya “sultan” akan memberi efek langsung juga pada gaya hidup anak yang cenderung hedon. Sebagai orang tua dalam keluarga, pembentukan karakter, adab, akhlak bukan barang dagangan yang bisa ditawar-tawar.

Mengarahkan anak untuk menjaga pola hidup tidak cukup hanya dengan kata-kata, tapi melalui contoh. Generasi sekarang tidak cukup diberi pengarahan tapi dengan tindakan nyata. (mn/lis)

Guru Bahasa Indonesia SMK Bhakti Putra Bangsa Purworejo



Baca artikel dan berita terbaru di Google News

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya