alexametrics

Belajar Sejarah Menyenangkan dengan Make A Match

Oleh: Dra. Lilik Eko Pudjinastuti, MSi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pembelajaran sejarah selama ini dirasakan kering. Sangat teoritik dan membosankan. Karena masih berkutat pada pendekatan chronicle dan cenderung menuntut anak agar menghapal suatu peristiwa. Bahkan sebagian besar peserta didik sebagai salah satu komponen dalam sistem pembelajaran memandang pelajaran sejarah kurang penting.

Hal ini disebabkan karena proses pembelajaran yang dilakukan pendidik masih menggunakan cara konvensional dalam menyampaikan materi, yakni dengan ceramah.

Pembelajaran didominasi oleh guru. Guru kurang memberikan motivasi. Sehingga peserta didik kurang antusias. Pemahaman peserta didik terhadap materi kurang. Pelajaran sejarah menjadi tidak menarik dan hasil belajar peserta didik menjadi rendah.

Berdasarkan hasil observasi pada proses pembelajaran kelas XI MIPA 1 SMA Negeri 2 Mranggen, Kabupaten Demak, menunjukkan sebagian besar peserta didik motivasinya terhadap pelajaran sejarah materi Peristiwa Sekitar Proklamasi Kemerdekaan dan Maknanya bagi Bangsa Indonesia rendah. Hal ini diketahui dari aktivitas peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung dan hasil belajar peserta didik yang belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM).

Baca juga:  Tingkatkan Hasil Belajar Ekonomi dengan Tutor Sebaya

Selama proses pembelajaran berlangsung, ditemukan fakta bahwa: (1) Peserta didik kurang memperhatikan pendidik pada saat menjelaskan materi pelajaran, seperti:mengobrol dengan teman sebangku, mengantuk, kurang aktif, kurang memperhatikan penjelasan pendidik. Hasil ulangan harian rendah.

Dari 35 peserta didik, hanya 44 persen yang berhasil mencapai batas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). KKM yang ditetapkan bagi kelas XI SMA Negeri 2 Mranggen adalah 73. Dari data tersebut menunjukkan bahwa pemahaman peserta didik masih perlu ditingkatkan.

Oleh karena itu, pendidik memilih model pembelajaran yang tepat sebagai suatu alternatif dalam proses pembelajaran, yaitu model pembelajaran yang menyenangkan, yang mendorong peserta didik aktif dalam pembelajaran sejarah. Sehingga menyadarkan peserta didik bahwa sejarah tidaklah membosankan. Salah satu model pembelajaran kooperatif Make a Match.

Make a Match adalah model pembelajaran yang menggunakan kartu jawaban dan kartu soal, di mana dalam pengaplikasi tiap peserta didik mencari pasangan kartu yang berisi soal maupun jawaban dari materi belajar tertentu. Langkah-langkah pembelajaran model kooperatif Make a Make dilakukan dengan langkah sebagai berikut: (a) Pendidik membuka pelajaran, melakukan apersepsi untuk menyiapkan mental dan membangkitkan motivasi belajar pesert a didik. (b) Pendidik menyampaikan tujuan pembelajaran dan kompetensi yang harus dicapai. (b) Pendidik menyampaikan alur pembelajaran kooperatif make a match. (c) Peserta didik dibagi menjadi dua kelompok. Terdiri atas kelompok yang membawa kartu soal dan kelompok yang membawa kartu jawaban. (d) Pendidik membagi kartu soal dan kartu jawaban kepada peserta didik. (e) Peserta didik mencari pasangan dari kartu soal/kartu jawaban masing-masing sesuai dengan waktu yang ditentukan. (f) Peserta didik yang berhasil menemukan pasangan kartunya, berdiri dalam satu kelompok dan diberi poin.(g) Peserta didik yang gagal mendapatkan pasangan diberi hukuman untuk menari/menyanyi. (h) Demikian selanjutnya diulang lagi sesuai dengan waktu yang ditentukan, sehingga siswa mendapatkan kartu yang berbeda. Di akhir jam pelajaran, peserta didik secara individual mengerjakan soal post test yang diberikan oleh pendidik untuk mengetahui hasil belajar setelah pembelajaran dilakukan (Shoimin, 2014).

Baca juga:  Pembelajaran Berbasis Permasalahan Sosial Tingkatkan Kemampuan Berpikir Analitis

Penerapan model pembelajaran kooperatif Make-a Match dapat meningkatkan hasil belajar, motivasi, dan antusiasme peserta didik pada kelas XI MIPA1 SMA Negeri 2 Mranggen. Hal ini terbukti dari perolehan hasil belajar siswa yang meningkat. Nilai rata-rata tes mencapai 65 persen, meningkat menjadi 83 persen. Ketuntasan klasikal mencapai 57 persen dengan 15 anak tuntas belajar, meningkat menjadi 86 persen, dengan 30 anak tuntas belajar.

Penerapan model pembelajaran kooperatif Make a Match membuat suasana belajar berbeda. Peserta didik tidak cepat bosan, aktif, bersemangat, lebih senang dalam mengikuti pembelajaran, karena bisa belajar sambil bermain. Penulis menyarankan agar model pembelajaran kooperatif Make a Match dapat menjadi alternatif bagi pendidik dalam melaksanakan pembelajaran sejarah maupun mata pelajaran lain, karena lebih efektif untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik, dan dapat memberikan respon yang baik kepada peserta didik. (*/aro)

Baca juga:  Pembentukan Karakter melalui Pendidikan Jasmani dan Olahraga

Guru SMA Negeri 2 Mranggen, Kabupaten Demak

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya