Sikap Terhadap Matematika

Oleh : Rosid Yunianto

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Suatu waktu kita pasti pernah dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut. Apakah kamu suka pelajaran matematika? Apakah matematika berguna bagi kehidupan? Apakah dengan belajar matematika akan membuatmu lebih mudah mempelajari pelajaran yang lain? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut akan memberikan gambaran sikap seseorang terhadap pelajaran matematika.

Salah satu tujuan pendidikan matematika adalah pembentukan sikap siswa. Oleh karena itu sudah sepatutnya dalam proses pembelajaran matematika perlu diperhatikan sikap siswa terhadap matematika. Hal ini penting, mengingat meningkatnya sikap terhadap matematika akan berkorelasi positif dengan prestasi belajar matematika.

Pengertian tentang sikap menurut Sax (1989: 493) adalah “an attitude was defined as a preference along a dimension of favorableness to unfavorableness to a particular group, institution, concept, or object”.

Sedangkan menurut Nitko (2011: 433), “attitudes are characteristics ofpersons that describe their positive and negative feelings toward particular objects, situations, institutions, persons, or ideas” yang berarti sikap adalah karakteristik dari seseorang yang menggambarkan perasaan positif dan negatif mereka terhadap objek, situasi, institusi, seseorang atau ide tertentu. Selain itu, White, et al. (2006: 2) juga menyatakan, “attitudes indicate a person’s judgment ofperforming the behavior as good or bad or that the person was in favour ofor against performing the behavior” yang diartikan bahwa sikap menunjukan keputusan seseorang terhadap unjuk perilaku baik atau buruk berupa bentuk perilaku mendukung atau menentang.

Baca juga:  Belajar PKN Asyik dengan Pembelajaran Kooperatif tipe STAD

Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sikap merupakan suatu kecenderungan untuk melakukan sesuatu sebagai respon terhadap sesuatu, baik itu objek pernyataan ataupun keadaan.

Respons seseorang dalam menghadapi suatu objek menurut Eagly & Chaiken (1993: 10) dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu cognitive responses, affective responses, dan behavioral responses. Cognitive responses berkaitan dengan apa yang diketahui orang tersebut tentang objek sikap. Affective responses berkaitan dengan perasaan atau emosi seseorang yang berkaitan dengan objek sikap. Behavior responses berkaitan dengan tindakan yang muncul dari seseorang ketika menghadapi objek sikap.

Mar’at (1994: 13) menggunakan istilah ketiga komponen respons sikap dengan istilah kognisi, afeksi, dan konasi. Komponen kognisi menjawab pertanyaan apa yang diketahui, dipahami dan diyakini peserta didik terhadap pelajaran matematika. Komponen afeksi merupakan bagian sikap peserta didik yang timbul berdasarkan apa yang dirasakan peserta didik terhadap pelajaran matematika. Komponen konasi merupakan kecenderungan untuk bertindak maupun bertingkah laku sebagai reaksi terhadap kegiatan pembelajaran matematika.

Baca juga:  Wujudkan Nasionalisme melalui Lagu-Lagu Nasional

Menurut Kulm (1980: 356) sikap merupakan perilaku afektif yang terdiri dari lima level, yaitu receiving, yang mana siswa mulai memperhatikan suatu fenomena. Responding, siswa mulai merasakan kehadiran fenomena tersebut. Valuing, siswa mulai berinteraksi dengan fenomena. Organization, siswa mulai mengonsep perilaku dan perasaan tetang fenomena, dan characterization, siswa mengembangkan sebuah filosofi yang konsisten tentang fenomena tersebut. Lebih lanjut lagi Kulm (1980 : 359-361) menjelaskan mengenai objek dari sikap matematika.

Objek-objek tersebut meliputi konten matematika, karakteristik matematika, praktek mengajar, kegiatan di kelas,dan guru matematika. Respon terhadap konten matematika dapat ditujukan pada topik tertentu, misalnya geometri, pecahan, pemfaktoran dan lain sebagainya.

Respon pada konten matematika dapat diberikan misalnya pada pernyataan, “Saya menyukai materi pecahan” atau “Saya menghindari materi pecahan meskipun saya bisa”. Respon terhadap karateristik matematika dapat berupa respon siswa mengenai kegunaan, pentingnya, relevansi, kesulitan, maupun kemenarikan dari matematika. Respon terhadap praktik mengajar dapat berupa respon siswa mengenai cara guru. Respon terhadap guru matematika merupakan respon terhadap sesuatu yang melekat pada guru tersebut.

Baca juga:  Seruya Belajar Mengenal Panca Indra melalui Permainan

Hal yang berkaitan dengan objek sikap dapat diringkas meliputi, matematika sebagai materi pelajaran, proses pembelajaran matematika, dan sumber belajar matematika baik fisik maupun nonfisik. (kj2/lis)

Guru SMP Satu Atap Werdi, Kab. Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya