Peluang dan Tantangan Ekskul Tahfidz di Sekolah Negeri

Oleh : Wildhan Mustofa Setiawan, S.Ag

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Minat belajar menghafal Alquran di Indonesia mengalami peningkatan. Materi hafalan sudah mulai masuk di banyak sekolah terutama sekolah Islam. Mulai tingkat SD, SMP hingga SMA maupun Madrasah. Hal ini tentu sangat membanggakan. Karena akan membawa keberkahan bagi dunia pendidikan. Semakin banyak siswa berkeinginan kuat menghafal Alquran maka akan semakin banyak siswa memiliki karakter kedisiplinan kuat, tajam ingatannya serta bersih jiwanya.

Hal ini sesuai dengan faedah menghafalkan Alquran. Yaitu, akan mendapatkan kebahagiaan, tentram jiwanya, tajam ingatannya. Selain itu orang yang menghafal Alquran mempunyai kefasihan dalam berbicara. Yang tidak kalah penting faedah menghafalkan Alquran, akan memiliki identitas yang baik dan berperilaku jujur serta terbentuk kedisiplinannya. Karena seorang penghafal harus konsisten dan menghargai waktu dan kesempatan yang dimilikinya. (Ahsin. W, 1994)

Tidak semua siswa berkesempatan mendapatkan pembelajaran tahfidz. Siswa yang mempunyai minat tinggi menghafal Alquran tentu akan memilih sekolah Islam. Apalagi sekolah Islam yang menyediakan boarding bagi penghafal Alquran akan menjadi pilihan utama. Lantas bagaimana dengan sekolah negeri. Mampukah memfasilitasi siswa-siswa yang berminat menghafalkan Alquran?

Baca juga:  Rencana Pengembangan Mulok Kajian Kitab Suci (BTQ)

Mewadahi siswa-siswi di sekolah negeri yang berminat menghafalkan Alquran dilaksanakan dengan cara mengadakan ekstrakurikuler tahfidz Alquran. Bagaimana karakteristik ekstrakurikuler yang merupakan kegiatan diluar jam pelajaran, maka kegiatan ekstrakurikuler tahfidz pun juga dilaksanakan diluar jam pelajaran sekolah dengan bimbingan guru PAI. Kegiatan ini dilaksanakan setelah sepulang sekolah.

SMP Negeri 2 Salatiga membuka program ekstrakurikuler tahfidz juz 30 yang merupakan program baru sejak tahun 2021. Bukan tanpa alasan tentunya program ini diselenggarakan. Berawal dari komunikasi dengan beberapa orang tua peserta didik yang menghendaki agar putra putrinya dapat menjaga serta menambah hafalan qurannya yang telah diperoleh ketika duduk di sekolah dasar. Terutama orang tua yang menyekolahkan putra-putrinya di Sekolah Dasar Islam maupun Madrasah Ibtidaiyah.

Baca juga:  Talking Stick Memudahkan Memahami Permainan Bulu Tangkis

Tahun 2021 setidaknya terdapat 13 peserta didik yang berasal dari Sekolah Dasar Islam maupun Madrasah Ibtidaiyah. 9 peserta didik di antaranya telah mulai menghafalkan Alquran. 9 Peserta didik inilah yang sangat berminat untuk mengikuti program ekstrakurikuler tahfidz juz 30.

Hal ini semakin menguatkan alasan untuk segera membuka ekstrakurikuler tahfidz juz 30. Karena setidaknya ada 9 peserta ekstrakurikuler tahfidz juz 30 jika tidak ada penambahan dari peserta didik yang berasal dari SD Negeri atau umum.

Dari hasil penjaringan minat peserta didik di SMP Negeri 2 Salatiga terdapat 30 peserta didik yang bersedia mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tahfidz juz 30. Hal ini tentu cukup menggembirakan karena perkiraan sebelumnya hanya sekitar 10 sampai dengan 15 anak. 30 calon peserta ekstrakurikuler tahfidz juz 30 ini mempunyai latar belakang yang beragam. 2 peserta didik berasal dari MI. 6 peserta didik berasal dari SD Islam dan 22 lainya dari SD Negeri.

Baca juga:  Pembiasaan Kegiatan Keagamaan di Sekolah Negeri

Sebagai program baru di SMP Negeri 2 Salatiga, ekstrakurikuler tahfidz juz 30 dilaksanakan dengan berbagai kendala dan tantangan diantara kendala dan tantangan tersebut adalah : Pertama, kemampuan membaca Alquran yang beragam. Beberapa diantaranya masih sangat rendah kemampuannya.

Kegiatan ekskul tahfidz sering digunakan untuk mempelajari bacaan Alquran para peserta. Bahkan terkadang menjadi prioritas. Sehingga tidak ada penambahan hafalan.

Kedua, minat yang masih rendah dalam mengikuti program ekskul tahfidz juz 30. Beberapa di antaranya hanya sekedar mendaftar dan jarang berangkat. Ketiga, dukungan orang tua terhadap putra-putrinya juga masih rendah.

Hal ini terlihat dari pernyataan para peserta. Bahwa sebagian besar orang tua belum bertanya tentang perkembangan ekstrakurikuler tahfidz yang diikuti putra-putrinya di sekolah. (ks/fth)

Guru SMP N 2 Salatiga

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya