alexametrics

Uniknya Unggah-Ungguh Basa di Kurikulum Merdeka

Oleh : Ery Yuswantoro, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Dunia pendidikan menitikberatkan pada perkembangan kurikulum yang dari tahun ke tahun selalu mengalami perubahan. Kurikulum 2013 yang baru beberapa tahun dilaksanakan membawa dampak yang sangat positif pada kegiatan pembelajaran peserta didik di sekolah. Namun masih ada beberapa kendala pada pelaksanaannya.

Pada tahun 2021, pemerintah mulai mengganti Kurikulum 2013 dengan Kurikulum Merdeka, yang sebelumnya bernama Kurikulum Prototipe. Seluruh sekolah diharapkan melaksanakan Kurikulum Merdeka pada tahun pelajaran 2022/2023. Kurikulum Merdeka dianggap lebih fleksibel, praktis, dan mudah dipahami oleh guru dan peserta didik. Melalui kurikulum ini tujuan pembelajaran akan lebih mudah dicapai dengan hasil yang maksimal.

Pelaksanaan Kurikulum Merdeka membawa dampak perubahan materi pada mata pelajaran muatan lokal bahasa Jawa di Jawa Tengah. Berdasarkan keputusan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah Nomor 423.5/04678 tentang Pedoman Kurikulum Muatan Lokal Bahasa Jawa Jenjang Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah di Provinsi Jawa Tengah, kurikulum mata pelajaran bahasa Jawa mengalami beberapa perubahan.

Baca juga:  Cooperatif Integrated Reading and Compocition Tingkatkan Hasil Belajar Siswa

Perubahan terlihat jelas adalah mengutamakan materi Unggah-Ungguh Basa (Undha-Usuk Basa) atau tingkatan tutur kata. Materi Unggah-Ungguh Basa dalam pelaksanan kurikulum sebelumnya menjadi materi terselubung yang hanya nunut dengan materi yang lainnya sehingga terkesan tidak terlalu dipedulikan atau sekadar angin lalu saja.

Pada Kurikulum Merdeka, Unggah-Ungguh Basa menjadi materi utama. Tidak tersembunyi oleh materi yang lainnya. Bahkan menjadi materi pertama pada semua jenjang pendidikan SD, SMP/MTs, dan SMA/SMK/sederajat, dari fase A, B, C, D, E, sampai dengan fase F. Unggah-Ungguh Basa dirasakan seperti hidup kembali setelah sekian lama kurang menunjukan eksistensinya.

Kurikulum Merdeka menjadikan Unggah-Ungguh Basa sebagai materi yang wajib dikuasai oleh peserta didik untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Jawa (krama/alus/inggil) dalam melakukan komunikasi dengan lawan bicara sesuai tingkatan tuturnya.

Apalagi Unggah-Ungguh Basa ini dipadukan dengan materi Paramasastra yang akan menguatkan tata bahasa peserta didik dalam berkomunikasi menggunakan basa krama secara baik, sopan, halus, tepat sasaran, dan meminimalisasi kesalahan dalam penggunaan kata pada saat berkomunikasi.

Baca juga:  Melatih Kepedulian Sosial di Tengah Pandemi dengan Aqiqah dan Kurban

Menurut Sry Satriya Tjatur Wisnu Sasangka (2007) kerumitan dalam tingkatan tutur kata bukan dalam kalimat krama tetapi bagaimana mengubah basa ngoko menjadi basa krama yang maknanya tidak menyalahi kaidah yang berlaku di masyarakat. Hal ini sangat jelas dan masih banyak kita temui dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagai contoh, ketika ada orang berjalan lewat di depan orang lain, yang diucapkan adalah nyuwun sewu (meminta uang seribu).

Pengucapan seperti ini terlihat krama, halus dan sopan namun tidak sesuai dengan kaidah kebahasaan yang baik dan benar. Harusnya yang diucapkan adalah nuwun sewu (permisi). Pengucapan seperti ini benar namun sering kali dalam kehidupan bermasyarakat sulit diucapkan. Terlihat mudah namun sering disepelekan.

Penerapan Unggah-Ungguh Basa diberikan kepada peserta didik sejak dini untuk menumbuhkembangkan perilaku yang santun, hormat-menghormati, menghargai satu sama lain, mengasah kemampuan berkomunikasi secara benar, halus sopan serta memperhatikan kaidah-kidah penggunaannya.
Ketika komunikasi basa krama/alus/inggil telah dikuasai serta menyatu dalam jiwa sanubari, penutur memiliki pribadi yang sabar dan mudah mengendalikan emosi diri. Hal ini bisa terjadi karena ketika seseorang marah kemudian mengucapkan kata-kata kasar dengan basa karma, akan terjadi suatu hal yang aneh, kata-kata kasar tapi bahasanya halus sekali. Sehingga seseorang tersebut bisa meredam amarahnya dan tidak jadi marah.

Baca juga:  Asyiknya Menelaah Serat Wedhatama dengan GuDiL

Untuk mendapatkan penutur yang mampu berbicara dan menguasai Unggah-Ungguh Basa yang baik dan benar maka perlu dilaksanakan sejak usia sekolah. Peserta didik mempelajari sesuai kaidah-kaidah ketatabahasaan yang sesuai, mempraktikan apa yang telah dipelajari, berkomunikasi dengan teman, guru, dan orang-orang yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan pelaksanaan seperti ini diharapkan dapat membentuk karakter peserta didik yang santun, sopan, hormat, menghargai, mengasihi dan bertutur kata yang baik. Seperti ungkapan orang Jawa yang berbunyi : ajining dhiri gumantung ana ing lathi (menilai orang dari apa yang diucapkannya). (*/lis)

Guru Bahasa Jawa SMAN 1 Rowokele, Kebumen

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya