alexametrics

Mini Wall-Magazine Meningkatkan Kreativitas Siswa Menjaga Lingkungan

Oleh: Muhammad Khaeri

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PENCEMARAN lingkungan yang terjadi lingkungan sekitar tempat tinggal siswa menjadi sebuah fenomena yang biasa bagi siswa itu sendiri. Menurut mereka sampah atau air sungai yang tercemar bukanlah hal yang baru. Mereka sudah terbiasa elihat kondisi seperti itu. Bahkan mereka juga ikut-ikutan untuk membuang sampah sembarangan dan mencemari air sungai dengan limbah dari rumah tangga. Kejadian ini tidak seharusnya menjadi sebuah kebiasaan atau bahkan budaya bagi siswa dan masyarakat di lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, penyampaian materi pencemaran lingkungan diberikan dengan tujuan untuk mengubah pola pikir siswa agar tidak ikut-ikutan mencemari lingkungan.

Menurut Darmiayati Zuchdi (2014) dalam penelitian yang dilakukan oleh Mariza Fitriati, Rachmat Sahputra, Ira Lestarie (2019) Pembelajaran yang dilakukan dengan mengaitkan lingkungan tempat tinggal peserta didik atau terkait dengan situasi nyata dunia sekitar peserta didik akan menjadikan pembelajaran lebih bermakna. Untuk itu pembelajaran IPA perlu ditekankan pada penyelidikan mengenai kejadian dan fenomena yang terdapat di lingkungan sekitar secara utuh. Dalam konteks ini, pembelajaran kontekstual secara tidak langsung masuk ke dalamnya. Melihat kenyataan yang ada, sebuah pembelajaran yang dapat mengubah pola pikir siswa dan cara pandang siswa terhadap lingkungan perlu dilakukan.

Baca juga:  Pembelajaran Aktif Sosiologi dengan Picture And Picture

Penulis menggunakan mini wall-magazine untuk dijadikan sebagai media pembelajaran bagi siswa. Mini wall-magazine ini dibuat dari kertas asturo atau kertas pelangi yang di dalamnya berisi tulisan-tulisan siswa tentang pencemaran lingkungan dan cara menanggulanginya. Siswa secara berkelompok membuat sebuah proyek tulisan yang dituangkan ke dalam majalah dinding kecil (mini wall-magazine). Terlebih dahulu siswa melakukan observasi di lingkungan sekitarnya. Mereka mengumpulkan data berbagai macam pencemaran yang terjadi di lingkungan sekitar sekolah dan rumahnya. Setelah terkumpul informasi yang lengkap, kemudian mereka membuat berbagai macam bentuk tulisan seperti laporan, berita, dan karya sastra. Tulisan-tulisan tersebut mereka satukan dan mereka pasang di mini wall-magazine.

Tidak berhenti pada tulisan-tulisan yang dipampang di mini wall-magazine, siswa juga ditugasi untuk mengunjungi mini wall-magazine kelompok lain dan memberikan tanggapan atas tulisan yang disajikan. Tanggapan tersebut bisa berupa komentar atas pemikiran yang tertuang, pujian atas hasil karya, bahkan ada yang memebrikan pertanyaan. Tanggapan-tanggapan tersebut juga dituliskan dalam sticky-notes.

Baca juga:  Tingkatkan Skill Bolabasket lewat Pendekatan Inklusi

Hasil pengamatan guru terhadap aktivitas siswa tersebut menunjukkan adanya perubahan pola pikir siswa dan perilaku siswa terhadap pencemaran lingkungan. Siswa yang semula mudah membuang sampah tidak pada tempatnya, sekarang mereka bisa membuang sampah di tempat sampah tanpa harus disuruh dan diingatkan berulang-ulang. Siswa juga tidak perlu disuruh untuk melaksanakan tugas piket harian dalam kebersihan kelas dan lingkungannya. Mereka bertanggung jawab atas tugas yang sudah dibebankan kepadanya.

Dengan demikian, tidak hanya kreativitas siswa dalam menuangkan gagasan dan pemikiran tentang pentingnya mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi siswa juga mulai mengubah pola berpikir mereka bahwa kebersihan lingkungan sangatlah penting demi kesehatan mereka dan orang-orang di lingkungannya. Hal yang tidak luput dari pengamatan adalah meningkatnya aktivitas berliterasi siswa dengan selalu memperbarui konten mini wall-magazine dengan isu-isi pencemaran lingkungan dan penanggulangannya secara berkala setiap bulannya. Seperti yang diterapkan di SMPN 1 Bawang, Batang. (wa2/zal)

Baca juga:  Enjoy, Tumbuhkan Kreativitas Siswa melalui Pendekatan Bervariasi

Guru SMPN 1 Bawang, Batang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya