alexametrics

Loose Part sebagai Media Pembelajaran Berbasis Proyek di PAUD

Oleh : Siti Ruqojah.S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Maraknya proses pembelajaran yang berorientasi kemampuan akademis membuat anak usia dini terpengaruh tingkat kesejahteraan hidupnya. Artinya kemerdekaan masa anak-anak untuk mengeksplorasi diri menjadi terbatasi. Adanya tuntutan orang tua agar anak bisa membaca dan menulis menjadikan guru mengajar lebih memperhatikan hasil daripada proses.

Realitas saat ini, masih banyak ditemukan proses belajar yang kurang memperhatikan usia dan tingkat perkembangan, serta tidak berpusat pada anak. Fakta di lapangan ditemukan pemaksaan pada konten akademik pada aspek-aspek tertentu, yang merupakan tuntutan Sekolah Dasar.

Lembaga PAUD merupakan bentuk satuan pendidikan yang menangani secara langsung anak-anak usia dini. Untuk itu, diperlukan pemahaman bahwa pendidikan di PAUD harus sesuai dengan usia perkembangannya. PAUD berkualitas merupakan satuan pendidikan yang memiliki lingkungan belajar aman, nyaman dan mampu memfasilitasi anak agar berkembang dengan utuh. Secara garis besar, layanannya dapat dibagi menjadi kualitas proses pembelajaran dan kualitas pengelola satuan sesuai dengan peraturan pemerintah yang terdapat pada SNP No 57 Tahun 2021.

PAUD berkualitas ditentukan dari kualitas layanannya. Bukan kondisi sarana prasarana dan kelengkapan fasilitas. Sarana prasarana adalah pendukung dalam memastikan lingkungan belajar aman dan nyaman bagi peserta didik.

Cara belajar anak usia dini sebaiknya melalui kegiatan yang menyenangkan serta menggunakan media belajar untuk memperkaya pengalaman anak. Kegiatan bermain yang menyenangkan membutuhkan strategi dan media yang mendukung perkembangan dan kemampuan anak sesuai tahapan perkembangan dan usia. Guru harus menyiapkan perencanaan dan media sesuai untuk mendukung kegiatan anak. Media yang digunakan harus menarik, aman, mudah didapat dilingkungan sekitar lembaganya.

Baca juga:  Youtube sebagai Media Pembelajaran Jarak jauh (PJJ)

Salah satu media yang dapat digunakan adalah bahan loose part. Menurut Sally Haughey, pendiri Fairy Dust Teaching, Loose part adalah bahan-bahan yang terbuka, dapat dipisah, dapat dijadikan satu kembali, dibawa, digabungkan, di jajar, dipindahkan dan digunakan sendiri ataupun digabungkan dengan bahan-bahan lain. Loose part dapat digunakan bagi anak usia dini sebagai media belajar yang memiliki tekstur dan bentuk berbeda-beda. Dapat berupa benda alam maupun sintetis yang sangat banyak dan mudah didapat disekitar rumah. Dari bahan alam seperti tanah, batu, batu bata, kerikil, kerang, pasir, ranting, daun, bunga, biji- bijian. Ada juga plastik, botol plastik, tutup botol, sedotan, ember (bahan plastik), mur, baut, perkakas dapur kaleng, uang koin, paku (bahas logam), balok, tongkat, triplek, seruling, pentungan (bahan kayu dan bambu), kapas, kain perca, tali, pita karet (bahan dari benang dan kain), botol kaca, gelas kaca, cermin, manik-manik, kelereng, ubin (bahan dari kaca dan keramik) pembungkus makanan, kardus gulungan tisu, karton, styrofoam ( bahan dari bekas kemasan) dan masih banyak lagi yang lainnya.

Baca juga:  Alat Peraga sebagai Media Pembelajaran

Pembelajaran dengan menggunakan media sesuai dengan himbauan direktorat Paud tahun 2021 yang menekankan agar pembelajaran berbasis proyek. Pembelajaran lebih ditekankan melalui bermain berdasarkan prinsip konstruktivistik. Yaitu anak membangun pengetahuan baru, inquiry atau menemukan, memecahkan masalah, serta sebagai pembelajar terintegrasi sesuai dengan usia perkembangannya. Pembelajaran berbasis proyek dapat dimaknai sebagai kegiatan yang dilakukan oleh anak dengan mengeksplorasi secara mendalam berbagai topik melalui aktivitas berkreasi menggunakan berbagai bahan atau material terbuka.

Pembelajaran berbasis proyek merupakan salah satu pembelajaran yang dapat memfasilitasi karakteristik anak yang unik, spontan, menyukai kebebasan dalam belajar, aktif, memiliki rentang perhatian yang pendek, memiliki rasa ingin tahu yang besar. Mengapa pembelajaran anak Paud harus berbasis proyek? Pada kenyataannya, pembelajaran ini dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah, melatih anak berpikir fleksibel, melatih berpikir tingkat tinggi, mengembangkan kemandirian, melatih anak berpikir kritis, mengurangi masalah perilaku kelas, dan mengembangkan keterampilan sosial.

Guru seharusnya menggunakan media dalam pembelajaran dalam menciptakan pembelajaran menyenangkan. Membuat anak tidak bosan saat belajar. Supaya menarik dan mengundang anak bermain, loose part perlu ditata (invitasi). Melalui invitasi guru bertanya atau mengundang anak memikirkan serta mengeksplorasi suatu konsep.

Baca juga:  Efektivitas Metode Scramble dalam Menentukan Gagasan Pokok

Selanjutnya mendesain proyek dengan menentukan jenis proyek yang akan dilakukan. a) Guru mendiskusikan kegiatan main sesuai dengan tema hasil kesepakatan antara guru dan anak. b) Pengerjaan proyek bisa, proyek kelas, kelompok atau individu. c) Waktu menyelesaikan proyek dapat disesuaikan dengan minat anak. d) Mendiskusikan alat dan bahan main yang dibutuhkan disesuaikan rancangan atau perencanaan proyek.

Pengembangan proyek, guru dapat mengajukan pertanyaan terbuka. Misalnya bagaimana cara agar semua ayam ada di dalam kandang tidak dimangsa binatang buas? atau apa yang dapat dilakukan agar kandang yang dibuat dapat menampung banyak ayam?

Refleksi proyek, Anak mengkomunikasikan hasil proyek kepada teman dan guru. Guru mengajak anak merefleksi apa saja pengalaman yang didapatkan selama bermain proyek yang dibuat.
Dengan demikian anak merasa ingin tahu serta ingin berkreasi di tema-tema selanjutnya dengan kebebasan dalam belajar sesuai dengan karakteristik alamiah anak.

Selain memberikan pengalaman berbeda bagi anak-anak, penggunaan loose part dapat digunakan sebagai ajang penyiapan generasi golden age menjadi lebih berkualitas. (kd/fth)

Guru TK Tarbiyatul Athfal 04 Protomulyo

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya