alexametrics

Pohon literasi Mudahkan Siswa Pahami Materi Pluralitas Masyarakat Indonesia

Oleh : Siti Waliyah, S.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pandemi covid-19 membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Pada awal pandemi, dimana siswa langsung dihadapkan dengan belajar secara daring tentunya mengalami banyak kendala. Untuk mengatasi dampak pada kegiatan pembelajaran di awal pandemi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengeluarkan kebijakan tentang pedoman pelaksanaan Kurikulum pada satuan pendidikan dalam kondisi khusus yang diatur dalam Permendikbud No 719/P/2020 tertanggal 4 Agustus 2020. Satuan pendidikan dalam kondisi khusus dapat menggunakan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran peserta didik.

Pembelajaran secara daring dan luring yang dilakukan di satuan pendidikan membuat guru dan siswa kurang optimal dalam melakukan proses pembelajaran sehingga guru mengalami kesulitan dalam melakukan asesmen. Kondisi pada saat siswa belajar secara daring mengubah beberapa hal. Perubahan terbesar tampak pada perilaku siswa seperti kedisiplinan dalam berangkat sekolah, tindakan dan ucapan kurang sopan, tanggungjawab menyelesaikan pekerjaan kurang, rasa saling menghargai terhadap guru dan sesame siswa berkurang, kejujuran dan kemandirian juga mengalami penurunan.

Baca juga:  Peran Guru BK dalam Belajar dari Rumah

Hal tersebut membuat guru harus berpikir bagaimana cara mengatasinya, agar proses belajar secara luring (tatap muka) yang seharusnya dapat membantu siswa mencapai kompetensi dasar dalam belajar dapat tercapai. Guru harus lebih dapat memahami kondisi siswa sehingga tujuan belajar dapat tercapai. Strategi dan model pembelajaran yang tepat akan menjadi kunci suksesnya mengatasi masalah tersebut.

Pada saat jam pelajaran IPS kelas VIII materi Pluralitas Masyarakat Indonesia, saya menggunakan model diskusi kelompok dan hasil diskusi dibuat karya dalam bentuk pohon literasi. Setiap kelompok dalam kelas terdiri dari 3 – 4 siswa. Pertemuan pertama anak berdiskusi membahas materi tentang pluralitas masyarakat Indonesia di dalam kelas dan pada pertemuan kedua anak membuat pohon literasi dari hasil diskusi. Saat mengerjakan pohon literasi siswa diberi kebebasan mencari tempat yang memudahkan mereka untuk mengerjakannya.

Baca juga:  Belajar Tempo dalam Bermain Rekorder dengan Aplikasi Metronome Beats

Ada kelompok yang mengerjakan di musala sekolah, halaman sekolah, lapangan, depan kelas, dan ruang kelas. Kebebasan menentukan tempat mengerjakan karya mereka, membuat mereka nyaman dan semangat dalam mengerjakan tugas kelompoknya. Bahan-bahan dibuat sesederhana mungkin, sehingga memudahkan mereka mendapatkan di sekitar tempat tinngal. Bahan yang diperlukan untuk membuat pohon literasi berupa : pot tanaman kecil, ranting pohon yang sudah dikeringkan, pasir atau kerikil, benang, kertas asturo, lem, penggaris dan gunting.

Pohon literasi yang dibuat siswa merupakan hasil diskusi yang sudah dilaksanakan sebelumnya. Setiap siswa dalam kelompok mendapat tugas untuk membuat rangkuman tentang materi yang didiskusikan. Hasil rangkuman mereka dituliskan di kertas asturo yang sudah dibuat beragam bentuk. Ada yang berbentuk daun, bulatan, buah, kotak, dan lain-lain sesuai imaginasi mereka. Setiap siswa menuliskan rangkuman pada potongan kertas asturo yang sudah dibentuk minimal empat.

Baca juga:  Hidupkan PJJ IPS dengan Kuis Interaktif Berkala

Setelah selesai menuliskan rangkuman di kertas asturo, kemudian kertas tersebut diberi lubang dibagian atas dan sesudahnya diberi benang untuk ditautkan pada ranting yang sudah ditanam di pot. Pot tanaman diberi sedikit pasir atau kerikil untuk menanam ranting. Semakin banyak kertas asturo yang tergantung di ranting, semakin baik nilai kelompok tersebut. Dengan catatan bahwa kertas asturo yang digantung berupa ringkasan hasil diskusi, bukan kertas kosong.

Dengan menggunakan model pembelajaran di atas, siswa kelas VIII merasa antusias dalam belajar dan hampir setiap siswa aktif berkolaborasi dengan temannya dalam menyelesaikan tugas. Hal ini memudahkan siswa dalam memahami materi tentang pluralitas masyarakat Indonesia. Dengan menggunakan model ini minimal dapat mengatasi kejenuhan anak dalam belajar di ruang yang tertutup pada saat jam tatap muka. (bat2/ton)

Guru SMP Negeri 3 Subah, Kabupaten Batang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya