alexametrics

Terciptanya Pembelajaran Aktif dan Kreatif melalui Model Jigsaw dalam Belajar Sejarah

Oleh : Agnes Susilo Isgus Krismiyati

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pembelajaran melibatkan peran serta peserta didik dalam menemukan sumber belajar sangat dituntut dalam pembelajaran Kurikulum 13. Peserta didik dituntut aktif kreatif dalam belajar, guru berperan hanya sebagai fasilitator.

Pembelajaran dituntut mampu memotivasi peserta didik dalam meningkatkan kreativitas peserta didik. Motivasi belajar adalah seluruh daya penggerak dalam diri peserta didik yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menimbulkan kegiatan belajar yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan membei arah pada kegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar dapat tercapai (Sardiman,1986:75).

Pembelajaran model Jigsaw merupakan kegiatan belajar yang berpusat pada peserta didik dalam pembelajaraan tutorial. Guru menyusun sintaks pembelajaran yaitu peserta didik dikelompokkan ke dalam tim-tim yang terdiri atas beberapa peserta didik. Menurut Yuzar dalam Isjoni (2010:78) mengatakan dalam pembelajaran kooperatif Jigsaw peserta didik belajar dalam kelompok kecil yang terdiri 4 sampai 6 orang heterogen dan bekerja sama.

Pembentuk kelompok diskusi dengan subbab materi yang berbeda. Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/subbab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan subbab. Setelah selesai berdiskusi sebagai tim ahli setiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang subbab yang mereka kuasai dan setiap anggota lainnya mendengarkan. Setiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi.

Baca juga:  Manfaat Whatsapp dalam Pembelajaran Daring

Penerapan model pembelajaran Jigsaw pada materi Upaya Indonesia dalam Menjaga Perdamaian Dunia peserta didik termotivasi dalam memahami dan penganalisa peran Indonesia dalam dunia internasional. Masing-masing peserta didik masuk dalam kelompok diskusi dengan materi yang berbeda. Pembelajaran dengan metode Jigsaw menjadi menarik, aktif dan kreatif karena masing-masing peserta didik berupaya mencari materi yang sesuai dengan subbab yang telah ditentukan guru.

Dalam mencari dan menemukan materi pada subbab yang telah ditentukan ternyata lebih luas dan lebih mendalam dalam penguasaan materi. Peserta didik mempunyai tanggung jawab dalam kelompok diskusi. Dari masing-masing kelompok mempunyai tim ahli yang bertugas untuk menyampaikan materi subbab kepada kelompoknya setelah mereka berkumpul dalam tim ahli.

Baca juga:  Permasalahan Pembelajaran di Masa Pandemi

Tim ahli bekerja bertugas menyampaikan presentasi kepada teman satu kelompoknya dan disampaikan kepada anggota kelompok serta dilakukan secara bergantian dengan kelompok lainnya. Tim ahli saling memberikan informasi kepada kelompok lain secara bergantian. Dalam pembelajaran Jigsaw ini peserta didik yang aktif dalam menemukan materi dalam kelompoknya akan lebih banyak bertanya dan mampu mengembangkan pertanyaan kepada tim ahli yang menjelaskan di kelompoknya dengan lebih leluasa dan memakai bahasa yang mudah dicerna sesama peserta didik.

Sementara tim ahli juga mampu memberikan penjelasan dengan lebih menguasai materi. Sehingga pembelajaran lebih interaktif dan menyenangkan. Dalam pembelajaran, ada sekitar sepuluh persen anak yang tidak antusias dalam mengikuti pembelajaran. Mereka yang tidak aktif adalah yang tidak kooperatif dan tidak terlibat dalam kerja kelompok sehingga mereka cenderung tidak merespons.

Baca juga:  Peran Penting Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak

Pembelajaran model Jigsaw terbukti mampu membangkitkan minat pesera didik dalam mengikuti proses belajar mengajar. Serta terbukti efektif dalam menyampaikan materi Upaya Indonesia dalam Mengisi Perdamaian Dunia. Karena materi ini bersifat berkembang sesuai dengan perkembangan yang up to date dalam kancah percaturan dunia internasional. Guru dalam proses pembelajaran berperan sebagai fasilitator dan bersama peserta didik menyimpulkan bersama tentang materi yang dibahas dan disampaikan.

Peserta didik diberi pengalaman baru untuk mencari sendiri sumber belajar. Sehingga pengalaman yang baru akan selalu melekat dalam memori peserta didik karena terlibat langsung dalam proses pembelajaran.Peserta didik termotivasi untuk berpikir kritis dan analitis sehinggi pembelajaran akan terbentuk untuk berpikir tingkat tinggi/HOTS. Pembelajaran menjadi berhasil karena peserta didik sebagai pusat dan pelaku belajar dan bukan lagi sebagai objek belajar. (ng3/lis)

Guru Sejarah Indonesia SMAN 1 Ngluwar, Kabupaten Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya