alexametrics

Metode Bermain Peran dalam Pembelajaran Pemeranan Teks Drama

Oleh : Ani Rahmawati, S,Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, DALAM proses pendidikan terdapat suatu kegiatan belajar dan mengajar. Pembelajaran bisa dikatakan suatu proses komunikasi dua arah, karena dalam proses pembelajaran terdapat interaksi antara guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik. Mempelajari mata pelajaran Bahasa Indonesia tidak semudah yang kita bayangkan, walaupun Bahasa Indonesia sering kita gunakan dan bukan bahasa asing lagi bagi kita. Bahkan Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang diujikan diakhir jenjang pendidikan mulai dari SD, SMP/MTs maupun SMA

Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia terdapat keterampilan berbahasa dan keterampilan bersastra, keterampilan bersastra tidak kalah penting dengan keterampilan berbahasa, kenapa? karena pembelajaran sastra dapat bermanfaat dalam menunjang kemampuan berbahasa siswa, sebut saja pembelajaran teks drama, dalam pembelajaran teks drama dimana banyak peserta didik malu-malu, bahkan tidak mau memerankan drama didepan kelas, padahal disini guru sudah memberikan motivasi, memberikan contoh tetap saja peserta didik sulit untuk memerankan peran tersebut, dari masalah diatas rendahnya hasil belajar bermain peran peserta didik MTsN 3 Demak dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, maka upaya yang diperkirakan dapat meningkatkan hasil belajar adalah menggunakan Metode Bermain Peran.

Baca juga:  Meningkatkan Hasil Belajar Pecahan dengan Pendekatan Joyful Learning

Bermain peran adalah berperan atau memainkan peranan dalam dramatisasi masalah sosial atau psikologis. Menurut Depdikbud (1999:171) bermain peran adalah salah satu bentuk permainan pendidikan yang digunakan untuk menjelaskan perasaan, sikap, tingkah laku dan nilai, dengan tujuan untuk menghayati perasaan, sudut pandang dan cara berfikir orang lain. Pembelajaran menggunakan metode ini akan membawa peserta didik untuk belajar memecahkan masalah pribadi, dengan bantuan kelompok sosial yang anggotanya adalah teman-temanmya sendiri.

Melalui bermain peran, peserta didik mencoba mengeksploitasi masalah-masalah hubungan antar manusia dengan cara memeragakannya. Di sini langkah-langkah yang saya gunakan pada kegiatan ini adalah Pertama, menentukan topik (semua anggota kelompok berperan aktif untuk menentukan topik tersebut), Kedua, semua anggota kelompok mendiskusikan pembagian tokoh yang akan diperankan. Ketiga, semua anggota kelompok menyusun skenario percakapan masing-masing peran, setelah dialog disepakati mereka menghafal dan memeragakan didepan kelas. Keempat, pada saat itu kelompok memeragakan peran, kelompok lain memperhatikan. Kelima, setelah semua kelompok memperagakan permainan peran, guru mengadakan refleksi mengevaluasi penampilan dan materi yang disajikan. Dari uraian diatas, bermain peran merupakan model pembelajaran yang mampu meningkatkan kualitas kepedulian dan kerjasama, berkreatif, memupuk bakat, dan membagi tanggung jawab dengan membina bahasa lisan menjadi bahasa yang lebih baik agar mudah dipahami orang lain.

Baca juga:  Maksimalkan Pembelajaran Daring di Masa Pandemi, WAG Solusinya

Dari langkah-langkah diatas dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan metode bermain peran yang saya terapkan pada peserta didik kelas VIII di MTs N 3 Demak, maka pembelajaran meningkat drastis dengan diperoleh hasil yang sangat memuaskan dan peserta didik tidak malu-malu untuk memeragakan didepan kelas, dan motode ini pun dapat dimanfaatkan pula pada kegiatan pembelajaran dalam bidang study selain Bahasa Indonesia. (wa2/zal)

Guru MTsN 3 Demak

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya