alexametrics

Meningkatkan Self Regulated Learning Melalui Layanan Konsultasi

Oleh : Nur Nasiyati, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Abad 21, guru menghadapi tantangan dalam mempromosikan perkembangan integral siswa. Meliputi perkembangan di ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Permasalahan umum yang dihadapi siswa adalah rendahnya motivasi dan lemahnya kemampuan mengatur diri dalam belajar.

Self Regulated learning merupakan suatu proses belajar di mana peserta didik menggunakan keterampilan pengaturan diri. Seperti menilai diri sendiri, mengarahkan diri sendiri, mengendalikan dan menyesuaikan diri, untuk memperoleh suatu pengetahuan (Zimmerman, 1989). Siswa dengan regulasi diri tinggi akan lebih fokus pada kinerja belajar serta memiliki motivasi tinggi mencapai hasil belajar maksimal.

Dalam kegiatan belajar mengajar, seharusnya guru tidak hanya melakukan transfer pengetahuan. Tetapi membantu siswa mengembangkan motivasi intrinsik dan kemandirian belajar. Self regulated learning sangat penting bagi siswa untuk membantu dalam mencapai suatu keunggulan. Melatih self regulated learning berarti memberikan siswa lebih banyak kontrol atas pembelajaran mereka sendiri. Guru harus mendorong siswa memahami motivasi mereka sendiri, serta kekuatan dan kelemahan mereka sebagai pelajar. Guru perlu mendukung siswa memahami alasan menggunakan strategi pembelajaran tertentu. Dimana siswa dapat menyesuaikan strategi mereka untuk memenuhi tuntutan tugas yang berbeda.

Baca juga:  Materi, Metode, Media, Evaluasi dalam Pembelajaran Seni Rupa Kelas XI SMA

Siswa dengan kemampuan belajar tinggi dapat terlibat dalam kegiatan kompleks. Kegiatan ini mungkin menuntut tingkat self regulated learning lebih tinggi. Di lapangan seringkali ada kesenjangan antara kemampuan siswa dalam suatu bidang studi dan keterampilan pengaturan diri. Sehingga guru perlu mengajarkan keterampilan self regulated learning yang lebih maju. Kemajuan siswa dalam proses self regulated learning bervariasi tergantung lingkungan belajar dan orientasi tujuan.

Terdapat empat proses terkait dalam self regulated learning, Fase pertama yaitu evaluasi diri dan monitoring. Di mana individu mengevaluasi efektivitas pribadi dalam kaitan tugas belajar. Fase kedua penetapan tujuan dan perencanaan strategi belajar. Fase ketiga monitoring implementasi strategi belajar dan fase terakhir pemantauan hasil strategi. Di mana siswa menilai efektivitas pribadi mereka berdasarkan kinerja belajarnya.

Baca juga:  Karakter Distangwab Siswa di Era Belajar Online

Salah satu upaya yang dilakukan guru BK untuk meningkatkan self regulated learning siswa adalah dengan mengoptimalkan layanan konsultasi. Layanan konsultasi dapat membantu meningkatkan kinerja siswa dan mengurangi perilaku maladaptif. Selain itu berkontribusi pada profesionalisasi guru, seperti meningkatkan pengajaran inovatif.

Sebagai Konsultan, guru BK/Konselor memberi masukan, saran, berbagi akses bagi Konsulti (pihak yang berkonsultasi; yang bisa terdiri atas peserta didik yang berperan sebagai peer konselor, orang tua, guru mata pelajaran, wali kelas, kepala sekolah atau pihak lain yang berkepentingan) untuk membangun pemahaman dan kepedulian, kesamaan persepsi dan memberikan dukungan terhadap penyelesaian masalah peserta didik selaku pihak ketiga.

Layanan konsultasi terdiri atas empat tahap yaitu tahap identifikasi dan analisis masalah. Konsultan mengajukan pertanyaan dan mengumpulkan informasi relevan tentang klien dan lingkungan. Kemudian memberikan informasi dan memutuskan rencananya. Selanjutnya tahap implementasi dan evaluasi, dipantau Konsulti serta dievaluasi kemudian diputuskan rencana tindak lanjutnya.
Dalam layanan konsultasi Guru BK/Konselor sekolah dapat memberikan informasi, pandangan, dan masukan, sesuai dengan kebutuhan dalam rangka meningkatkan self regulated learning siswa. Misalnya siswa mengalami kesulitan belajar, Guru BK/Konselor dapat memberikan informasi terkait strategi belajar efektif dan menyenangkan untuk disampaikan kepada siswa. Melalui layanan konsultasi, perilaku belajar siswa secara individual dianalisis dengan memperhatikan keseluruhan lingkungan belajar. Dengan mengkondisikan lingkungan belajar dan mengajarkan strategi pengaturan diri pada Konsulti maka perilaku belajar efektif siswa dapat ditingkatkan. Agar hasil lebih optimal, seluruh stakeholder sekolah dapat berpartisipasi aktif mendukung implementasi berbagai layanan BK di sekolah. (wa1/fth)

Baca juga:  Peran Guru BK dalam Proses Konseling melalui Media Sosial di Masa Pandemi

Guru BK SMAN 1 Wonotunggal, Kab. Batang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya