alexametrics

Melejitkan Kemampuan Menyelesaikan Permasalahan Fisika

Oleh: Wisnu Ardlian Sugiyarto

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pembelajaran era ini guru diwajibkan untuk melaksanakan pembelajaran berpusat pada siswa. Berubah dari dikasih tahu menjadi mencari tahu dari berbagai sumber, guru bukan lagi sumber belajar. Pelaksanaannya di lapangan masih terdapat kendala diantaranya adalah keterbatasan waktu pembelajaran. Seperti yang diungkapkan Nugroho dalam International Journal of Active Learning. Nugroho menyebutkan bahwa masih banyak kendala dalam implementasi kurikulum diantaranya adalah keterbatasan waktu pembelajaran (2018:58).

Penulis sebagai pelaksana kegiatan pembelajaran di lapangan mengalami masalah persis sama seperti yang disebutkan Nugroho, yaitu keterbatasan waktu pembelajaran terutama dalam hal aplikasi konsep untuk menyelesaikan persoalan (soal) fisika SMA. Hasil survei penulis terhadap rekan sejawat tentang implementasi pembelajaran menunjukkan bahwa semakin sering melakukan pembelajaran dengan pendekatan ilmiah, semakin banyak waktu yang dibutuhkan dan semakin sedikit waktu yang bisa digunakan untuk latihan aplikasi konsep persoalan fisika. Akibatnya peserta didik kurang terampil dalam mengaplikasikan konsep untuk menyelesaikan permasalahan fisika.

Baca juga:  Pembelajaran Tematik Asyik dan Menyenangkan melalui WhatsApp Forum

Guru tidak punya cukup waktu untuk memperdalam konsep peserta didik dengan membahas permasalahan fisika baik dalam bentuk soal HOTS. Akibatnya kemampuan menyelesaikan permasalah fisika peserta didik tidak menigkat. Pada akhirnya guru kembali ke model pembelajaran lama, berpusat pada guru dan peserta didik diberi tahu tanpa menggunakan pendekatan ilmiah dalam pembelajaran. Keadaan tersebut perlu dicarikan solusi agar guru punya cukup waktu untuk pendalaman konsep.

Telepon pintar dewasa ini bukan lagi barang mewah. Hampir seluruh peserta didik memiliki telepon pintar bahkan mereka bawa kemanapun hingga ke ruang yang paling privat. Di dalamnya terinstall berbagai aplikasi pesan cepat, permainan, pemutar musik atau video, serta media sosial diantaranya yang paling populer adalah YouTube. YouTube menjadi media sosial terbanyak digunakan di tanah air. Dalam laporan bertajuk Digital 2022: Indonesia, Data Reportal membeberkan bahwa jumlah pengguna YouTube di Indonesia mencapai 139 juta orang atau setara 50 persen dari total penduduk selama 2022.

Baca juga:  Meningkatkan Kebiasaan Belajar dengan Layanan BK Teknik Diskusi

YouTube terbukti sangat efektif sebagai alat untuk pembelajaran. Menurut Irawati (2016), YouTube mampu meningkatkan kemampuan literasi digital, motivasi, dan pemahaman konsep, serta memunculkan kriteria-kriteria pembelajaran yang berhasil. Hal senada disampaikan oleh Cahyono (2019) dalam Jurnal Kajian Kependidikan Islam bahwa YouTube bisa dijadikan bahan pengembangan materi untuk pembelajaran. Guru dengan sangat mudah mencari materi yang sesuai untuk pembelajaran ataupun mengembangkan materi sendiri sesuai dengan kebutuhan kelas.

Penggunaan aplikasi lain yang tak kalah populer dikalangan perserta didik dan guru adalah Google Form. Google Form adalah layanan dari Google yang memudahkan penggunanya dalam membuat survei kuesioner, formulir, atau semacamnya dengan basis online atau digital. Dengan fungsinya tersebut, tak mengherankan jika banyak guru yang memanfaatkan layanan ini untuk berbagai keperluan. Penggunaan YouTube dan Google Form sangat mudah dan gratis. Selain itu platform tersebut bisa diakses dimanapun dan kapan saja asal terhubung dengan internet.

Baca juga:  Asyiknya Belajar Sistem Koloid dengan Bermain Crossword Puzzle

Guru memanfaatkan YouTube dan Google Form untuk memperkuat pemahaman konsep dan meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah fisika. Guru membuat video pembelajaran dan pembahasan soal HOTS, kemudian diunggah di YouTube. Google Form digunakan untuk memastikan siswa mengakses video yang telah di unggah dan memberikan pertanyan lanjutan terkait video. Berbekal niat dan kesungguhan memanfaatkan aplikasi tersebut maka akan tercapai efisiensi waktu pembelajaran, meningkatnya kompetensi menyelesaikan permasalahan fisika peserta didik, pembiasaan literasi digital, peningkatan profesionalisme guru, dan penghasilan tambahan bagi guru. (wa1/aro)

Guru SMA Negeri 1 Wonotunggal

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya