alexametrics

Belajar Fenomena Gerhana melalui Diorama

Oleh: Nur Kholik, S.Pd.I.,S.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Sesuatu yang abstrak bagi anak sekolah dasar akan menjadi sesuatu yang sulit untuk dipelajari. Karenanya perlu sebuah terobosan pembelajaran yang membuat siswa tidak hanya berimajinasi semata, namun juga dapat mengalami secara realita yang ada. Hal ini sejalan dengan teori belajar kognitif, di mana tahap perkembangan anak SD (6-12 tahun) adalah operasional konkrit. Pada tahap ini ketika siswa belajar, pada intinya harus dengan sesuatu yang nyata baik benda peraganya maupun peristiwanya.

Pada saat mempelajari fenomena gerhana bagi anak-anak SD kelas VI di materi Gerhana Bulan dan Gerhana Matahari adalah sesuatu yang sulit dipahami jika hanya di narasikan atau di teorikan saja. Perlu daya dukung peraga yang bisa memotret kejadian tersebut untuk bisa di tangkap pemahannya oleh para siswa. Tentunya peraga tersebut tidak hanya sekadar gambar atau video saja, tetapi sesuatu yang siswa juga terlibat pembuatannya. Sehingga siswa akan lebih paham kondisi dan peristiwa yang melingkupinya. Hal yang paling memungkinkan dan bisa menggambarkan realita sebenarnya tentang fenomena gerhana adalah membuat diorama gerhana.

Baca juga:  Matematika Semakin Menarik dengan Media Tebak Angka

Media diorama adalah karya seni rupa tiga dimensi atau sering juga disebut dengan media serba aneka. Rayandra Asyar (2012: 47) mengungkapkan bahwa media tiga dimensi merupakan media yang tampilannya dapat diamati dari arah pandang mana saja dan mempunyai dimensi panjang, lebar, dan tebal. Bahan untuk membuat diorama gerhana cukup mudah di dapat, yakni dari kardus bekas. Kenapa memanfaatkan kardus bekas? Hal ini dikarenakan posisi SD Negeri 1 Gedong, Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal memang dekat dengan pertokoan kelontong, sehingga mudah untuk mendapatkannya.

Selain kardus, juga bisa digunakan styrofoam dan senter. Juga bola plastik tiga ukuran, sebagai tiruan Bulan, Bumi, dan Matahari. Untuk mendapatkan suasana kegelapan luar angkasa, serta agar lebih kelihatan terang sinar senternya, maka kardus bagian dalam dilapisi kertas hitam. Pada ujung salah satu kardus dilubangi guna memasukkan cahaya dari senter tersebut.

Baca juga:  Asyik Belajar Peran Pelaku Ekonomi dengan Picture and Picture

Setelah siswa melakukan simulasi dengan diorama karya mereka, dilanjutkan dengan presentasi akan apa yang sudah mereka temukan dalam percobaan dengan diorama masing-masing siswa. Setelah itu, siswa juga diminta mengemukakan akan dampak terjadinya gerhana bagi kehidupan manusia. Termasuk di dalamnya pelajaran yang bisa diambil dari adanya gerhana tersebut.

Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam atau populer dengan Sains seperti di atas, adalah wujud dari kemerdekaan pembelajaran. Di mana siswa menyelidiki fenomena tertentu untuk membuktikan kebenarannya.

Proyek-proyek pembelajaran yang mudah dan murah sebenarnya bisa dilakukan dalam berbagai mata pelajaran yang kita kelola di kelas. Tentunya dengan mempertimbangkan bahwa tahapan perkembangan anak sekolah adasar berada pada tahap operasional konkrit. Pembuktian seperti yang ada dalam materi gerhana pada muatan pembelajaran kelas VI SD akan mampu mengubah pandangan siswa bahwa gerhana adalah fenomea alam yang bisa dipelajari. (kd/aro)

Baca juga:  Blended Learning Mudahkan Siswa Belajar Sistem Pencernaan Manusia

Guru SD Negeri 1 Gedong, Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya