alexametrics

Pangung Kecil Literasi Memotivasi Siswa dalam Belajar Membaca

Oleh : Dian Perdana Riatri, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Literasi merupakan penggunaan praktik-praktik yang ditempatkan secara sosial historis, dan budaya untuk menciptakan dan menafsirkan makna melalui teks. Rick Kern dalam bukunya yang berjudul Literacy as a New Organizing Principle for Foreign Language Education (2003) juga menyatakan bahwa literasi bersifat dinamis – tidak statis – dan bervariasi di seluruh dan di dalam komunitas dan budaya wacana serta mengacu pada berbagai kemampuan kognitif, pada pengetahuan tentang bahasa tertulis dan lisan.

Berdasarkan Peraturan Menteri Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, pada poin pembiasaan yang ke-6 menyatakan bahwa untuk mengembangkan potensi peserta didik secara utuh maka sekolah harus melakukan kegiatan wajib yang salah satunya adalah literasi. Maka muncul Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Gerakan Literasi dilaksanakan dengan berbagai cara sesuai dengan pengembangan yang dilakukan guru dan sekolah.

Selama pandemi kegiatan membaca di perpustakaan untuk sementara tidak dapat dilakukan. Sebagai usaha untuk menjaga dan meningkatkan keterampilan membaca dan melaksanakan program literasi maka diselenggarakan secara terintegrasi dalam program Bulan Literasi. Program ini diterapkan pada siswa kelas 1 SD Kristen Satya Wacana.

Baca juga:  Meningkatkan Pemahaman Isi Wedhatama Pupuh Pangkur dengan Gambar Kehidupan Sehari-hari

Program dilakukan dalam waktu 4 bulan. Dibagi menjadi 4 tahap yaitu : belajar membaca, pengenalan dongeng, presentasi membaca, dan panggung kecil literasi sebagai acara akhir program. Panggung Kecil Literasi menjadi ajang siswa untuk menampilkan keterampilannya di hadapan banyak orang.

Tahap pertama program diawali dengan siswa belajar membaca dengan mengenal bunyi huruf, membaca suku kata, kata, kalimat dan kemudian bacaan singkat. Tahap pertama dilakukan dalam kurun waktu 3 bulan. Pengenalan bunyi huruf diberikan kembali tanpa pemetaan siswa yang sudah bisa membaca dan belum bisa membaca. Hal ini bertujuan untuk menyamakan keterampilan dasar siswa.

Pengenalan dongeng dilakukan dalam waktu satu minggu. Pada tahap ini guru secara rutin akan membacakan cerita setiap hari. Guru mengajak siswa menceritakan kembali cerita yang siswa dengar. Guru dan siswa bersama-sama memahami cerita dengan menjawab pertanyaan berkaitan dengan cerita seperti: judul cerita, tokoh, latar tempat, waktu, nilai moral, dll. Jenis cerita yang disajikan meliputi fabel, dongeng, legenda, cerita rakyat, dll.

Baca juga:  TTS Tingkatkan Motivasi Belajar Siswa dalam Pembelajaran Negara-Negara ASEAN

Tahap ketiga, siswa akan masuk dalam program presentasi membaca. Tahap ini dilakukan selama 2 minggu. Siswa memilih cerita yang hendak dibaca. Siswa mengajukan jadwal membaca sesuai kesiapannya (tidak ditunjuk). Masing-masing siswa akan membaca cerita pilihannya di depan kelas. Mengajukan pertanyaan dan mempersilakan teman-teman di kelas untuk meresponnya.

Tahap ke-3 bulan literasi menjadi acara puncak program. Tiap siswa menyiapkan 1 penampilan secara berkelompok untuk ditampilkan di atas panggung. Ada dua jenis tampilan yang disiapkan yaitu dongeng dan puisi. Kegiatan ini mengundang orang tua untuk hadir menyaksikan penampilan siswa.

Siswa menampilkan dongeng dan puisi secara bergantian. Setiap selesai penampilan maka siswa akan menyampaikan pertanyaan untuk dijawab para penonton yang hadir. Siswa akan memberikan apresasi bagi penonton yang menjawab pertanyaannya dengan benar. Pada akhir acara, setiap siswa akan mendapat medali sebagai tanda bahwa siswa sudah menyelesaikan Program Literasi.

Baca juga:  Semakin Tertarik Belajar Tematik dengan Metode Cooperative Script

Evaluasi program dilaksanakan dengan pemberian kuesioner kepada orang tua. Hasilnya, secara umum program Bulan Literasi sudah sangat baik. Sebanyak 93% responden menyatakan siswa antusias untuk menyiapkan projek presentasi dan panggung kecil literasi. Orang tua dan siswa merasakan manfaat positif dari kegiatan ini. Kegiatan ini juga membantu siswa dalam mengembangkan karakter keberanian, kemadirian, kedisiplinan dan kepercayaan diri. Salah satu alternatif acara yang bisa dikembangkan untuk program literasi selanjutnya adalah drama yang bisa dikolaborasikan dengan musik atau drama musikal. (igi1/lis)

Guru SD Kristen Satya Wacana

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya