alexametrics

Model CIRC Bangkitkan Daya Serap Materi Bilangan Bulat Kelas Tujuh

Oleh : Alfiah S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PEMBELAJAN Jarak Jauh (PJJ) membawa dampak besar dari daya serap siswa dalam menuntut ilmu. Siswa terdampak tidak menguasai konsep dasar yang terdapat dalam satu pelajaran, terutama pelajaran matematika. Siswa banyak yang mengalami kesulitan dalam mengoperasikan bilangan, walaupun hanya operasi penjumlahan.

Kebanyakan siswa menggunakan alat bantu kalkulator dalam menyelesaikan masalahnya di kelas. Pemandangan yang sangat memprihatinkan. Di masa usia sekolah, anak-anak lebih mementingkan bermain game atau bermain di luar kemampuan intelektualnya atau otak kirinya. Sedianya siswa kelas tujuh harus sudah mampu melakukan operasi hitung penjumlahan, pengurangan, dan perkalian. Namun di awal pembelajaran tatap muka (PTM), kemampuan siswa di luar ekspetasi. Hal ini yang menantang guru Matematika untuk mengubah pola pembelajaran di kelas lebih tajam.

Hal itu seiring dengan kebijakan Merdeka Belajar dan Merdeka Mengajar. Kemerdekaan menjadi kesadaran baru bagi siswa. Tentu, harapannya siswa dapat berpikir kritis dan kreatif. Untuk itu, guru matematika di kelas VII SMP Negeri 34 Semarang menerapkan model pembelajaran Cooperative Learning tipe CIRC dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif siswa. Terutama pada materi bilangan bulat.

Baca juga:  Menariknya Belajar Bilangan Bulat dengan Pendekatan IG

Dalam model pembelajaran CIRC, siswa dikelompokkan secara hiterogen yang terdiri atas 4 atau 5 siswa. Dalam kelompok ini tidak dibedakan tingkat kecerdasan siswa. Dengan pembelajaran kelompok, diharapkan siswa dapat meningkatkan pikiran kritisnya, kreatif, dan menumbuhkan rasa sosial yang tinggi. Sebelum dibentuk kelompok, siswa diajari menjadi pendengar yang baik, dapat memberikan penjelasan kepada teman sekelompok, berdiskusi, mendorong teman lain untuk bekerja sama, menghargai pendapat teman lain atau sebaliknya.

Salah satu ciri pembelajaran kooperatif adalah kemampuan siswa untuk bekerja sama dalam kelompok kecil yang hiterogen. Masing-masing anggota dalam kelompok memiliki tugas yang setara. Keberhasilan kelompok sangat diperhatikan. Maka siswa yang pandai ikut bertanggung jawab membantu temannya yang lemah dalam kelompoknya. Dengan demikian, siswa yang pandai dapat mengembangkan kemampuan dan keterampilannya, sedangkan siswa yang lemah akan terbantu dalam memahami permasalahan yang diselesaikan dalam kelompok tersebut.

Baca juga:  Layanan BK di Masa Pandemi

Kegiatan pokok dalam CIRC untuk memecahkan soal cerita secara merdeka belajar meliputi rangkaian kegiatan bersama yang spesifik yaitu, 1) salah satu anggota kelompok membaca atau beberapa anggota saling membaca, 2) membuat prediksi atau menafsirkan atas isi soal cerita, termasuk menuliskan apa yang ditanyakan dengan suatu variabel tertentu, 3) saling membuat ikhtisar atau rencana penyelesaian soal cerita, 4) menuliskan penyelesaian soal ceritanya secara urut artinya menuliskan urutan komposisi penyelesaiannya, dan 5) saling merevisi dan mengedit pekerjaan atau penyelesaian jika ada yang perlu direvisi.

Dengan mengadopsi model pembelajaran Cooperative Learning tipe CIRC dalam merdeka belajar, maka yang ditempuh guru matematika adalah, 1) guru menerangkan garis besar materi bilangan bulat, 2) guru memberikan latihan soal termasuk cara menyelesaikan soal cerita yng terkait dengan bilangan bulat tersebut, dan 3) guru siap melatih siswa untuk meningkatkan keterampilan siswanya dalam menyelesaikan soal cerita melaui penerapan Cooperatiive Learning tipe CIRC.

Baca juga:  Meningkatkan Kemampuan Berpikir Logis dengan Logika Matematika

Ternyata model pembelajaran Cooperative Learning tipe CIRC dalam penerapan merdeka belajar dapat mengatasi keprihatinan guru serta orang tua terhadap daya serap siswa selama pasca PJJ. (bat2/ida)

Guru Matematika SMP Negeri 34 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya