alexametrics

Mengenal Keberagaman Karakteristik Individu dengan Model Kartu Berpasangan

Oleh : Ririn Maskanah, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pendidikan (PPKn) sebagai salah satu muatan kurikulum pendidikan dasar, menengah dan tinggi diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republiki Indonesia. Komitmen yang kuat dan konsisten terhadap prinsip dan semangat kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 perlu ditingkatkan terus menerus untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sejarah perjuangan bangsa dan semangat kebangsaan suatu bangsa akan selalu terus dipelajari, dipelihara dan diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya. Presiden Soekarno pernah menyatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa-jasa pahlawan. Membelajarkan sejarah kepada siswa pada hakikatnya adalah membantu siswa menigkatkan keterampilan berpikir melalui kajian peristiwa masa lampau. Belajar tentang peristiwa perjuangan bangsa dalam membentuk suatu negara atau bangsa tidak cukup hanya dengan memperkenalkan nama tokoh dan tahun. Guru juga hendaknya mampu membantu peserta didik untuk berpikir bukan hanya mempertanyakan apa, siapa dan kapan melainkan perlu menanyakan mengapa dan bagaimana.

Baca juga:  Com-Class Solusi Praktis Tingkatkan Kualitas Interaksi dan Kompetisi Belajar di Kelas

Pembelajaran sejarahyang baik adalah pembelajaran yang dapat membuat peserta didik menjadi peka (sensitif) bahwa orang tidak akan mengalami peristiwa serupa dengan cara yang sama di masa mendatang (Sayage dan Amstrong, 1996). Seorang pendidik dituntut untuk selalu memperbaharui proses pembelajaran ke arah yang lebih baik. Dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran PPKn, guru harus menggunakan model pembelajaran yang berlangsung dalam suasana kondusif juga perlu dikembangkan pola pembelajaran yang menyenangkan (enjoyfull learning). Tetapi tentunya bukan sekadar menyenangkan tetapi juga harus bermakna. Pembelajaran akan bermakna jika ada lesson point yang didapat oleh siswa. Lesson point akan didapat jika melibatkan semua indra dan aktifitas yang menarik.

Baca juga:  Pembentukan Karakter Peserta Didik melalui Pembelajaran Daring Biologi

Membelajarkan sejarah kepada siswa pada hakikatnya adalah membantu siswa meningkatkan ketrampilan berpikir melalui kajian peristiwa masa lampau dan dari hasil pengamatan dan pengalaman. Siswa cenderung tidak begitu tertarik dengan pelajaran PPKn, karena dianggap sebagai pelajaran yang hanya mementingkan hafalan semata. Kurang menekankan aspek penalaran sehingga menyebabkan rendahnya minat belajar muatan PPKn siswa kelas IV semester 2 di SDN 1 Gubugsari Tahun 2021/2022 KD 3.3 menjelaskan keberagaman karakteristik individu dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh karenanya perlu dicari strategi baru dalam pembelajaran PPKn yang melibatkan siswa secara aktif dan bertujuan meningkatkan hasil belajar siswa juga pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan menimbulkan kreativitas. Adapun model pembelajaran kartu berpasangan merupakan alternatif pembelajaran yang digunakan untuk meningkatkan partisipasi dan keaktifan siswa.

Langkah-langkah penerapan model pembelajaran kartu berpasangan adalah sebagai berikut : 1) Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban. 2) Tiap siswa memikirkan jawaban atau soal dari kartu yang dipegang. 3) Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya. 4) Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin. 5) Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan kartu temannya akan mendapat sanksi yang telah disepakati bersama. 6) Guru dan siswa membuat simpulan terhadap materi pelajaran.

Baca juga:  Teori Kondisioning dan Implementasinya dalam Pendidikan Agama Islam

Sesuai dengan data temuan tampak ada peningkatan nilai siswa mencapai ketuntasan 85% setelah menggunakan model pembelajaran kartu berpasangan dan siswa termotivasi untuk terlibat aktif sehingga belajar siswa lebih bermakna dan menyenangkan. (kd/ton)

Guru SDN 1 Gubugsari Kecamatan Pegandon Kabupaten Kendal

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya