alexametrics

Belajar Matematika Menyenangkan dengan Model Make a Match

Oleh: Fitriana, S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pembelajaran tatap muka sudah diterapkan. Setelah masa new normal ini ditetapkan oleh pemerintah. Walaupun peserta didik diperbolehkan berangkat hanya 50 persen. Pembelajaran daring yang telah dilakukan hampir lebih dari satu tahun ternyata memberi dampak bagi peserta didik. Baik dampak yang positif maupun dampak yang negatif.

Untuk dampak negatif yang dirasakan oleh guru kelas 4 SD Negeri 2 Turunrejo, Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal adalah menurunnya semangat belajar anak. Karena sudah belajar santai di rumah, kadang-kadang saat pembelajaran daring banyak orang tua yang mengerjakan tugas daring di rumah. Sehingga membuat peserta didik berkurang motivasi belajarnya. Terutama untuk pelajaran matematika, minat dan motivasi peserta didik menurun drastis. Karena sebagian besar peserta didik, terutama kelas 4 ke atas mengganggap matematika adalah pelajaran yang sulit dan susah sekali.

Baca juga:  Belajar Dasar Jaringan Komputer dengan Snowball Throwing

Matematika adalah mata pelajaran yang memberikan banyak manfaat untuk tercapainya masyarakat yang cerdas dan bermartabat melalui sikap kritis dan berpikir logis. Matematika sebagai salah satu ilmu dasar yang penting diajarkan supaya siswa mampu berhitung, berpikir kritis, kreatif, teliti dan logis.

Kurangnya minat peserta didik dalam pembelajaran matematika dapat berpengaruh besar tehadap gairah belajar matematika. Jika hal ini dibiarkan, maka siswa akan semakin tidak menyenangi matematika. Hal ini berakibat pada prestasi belajar matematika akan semakin rendah. Untuk itu diperlukan inovasi dari guru untuk membuat pembelajaran lebih menyenangkan dan berkesan bagi peserta didik.

Guru dapat memilih model pembelajaran make a match atau mencari pasangan. Menurut Kunandar (2008), model pembelajaran make a match adalah model pembelajaran kooperatif dengan cara mencari pasangan soal atau jawaban yang tepat dan siswa yang sudah menemukan pasangannya sebelum batas waktu akan diberi poin.

Baca juga:  Benda Konkret Membantu Mudahkan Hitungan Perkalian

Model pembelajaran kooperatif tipe make a match ini dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). Salah satu keunggulan teknik ini adalah peserta didik mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan.

Kunandar (2008) menyebutkan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe make a match sebagai berikut : (1) guru menyiapkan kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, bagian depan berisi soal, sedangkan bagian belakang berisi jawaban; (2) setiap siswa mendapat satu kartu; setiap siswa memikirkan jawaban dan soal dari kartu yang dipegang; (3) setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya; (4) setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu, maka akan diberi hadiah atau poin; (5) setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya.

Baca juga:  Media Computer-Assisted Learning Mengurai Kejenuhan Belajar Ekonomi

Kelebihan dari model pembelajaran kooperatif tipe make a match yaitu, dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa, baik secara kognitif maupun fisik; ada unsur permainan, metode ini menyenangkan; meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari; dapat meningkatkan motivasi belajar siswa; efektif ebagai sarana melatih keberanian siswa untuk tampil presentasi; efektif melatih kedisiplinan siswa menghargai waktu untuk belajar. Model pembelajaran kooperatif tipe make a match sangat cocok untuk meningkatkan motivasi peserta didik, sehingga belajar matematika menyenangkan berkesan dan lebih meningkatkan rasa percaya diri peserta didik. (kd/aro)

Guru Matematika SD Negeri 2 Turunrejo, Kec. Brangsong, Kab. Kendal

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya