alexametrics

Metode Drill Membaca Surah Pendek, Siswa Tak Lagi “Liar”

Oleh: Winarso, S.Pd.I

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pandemi Covid-19 yang melanda dunia, termasuk Indonesia awal tahun 2020 silam, mau tak mau membuat kebiasaan-kebiasaan baru dalam tatanan kehidupan masyarakat, tak terkecuali dunia pendidikan. Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan Pemerintah, dengan tujuan tujuan untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona atau biasa disebut covid-19. Maka sejak itulah, pemerintah mengganti pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran daring atau online seperti melalui platform pembelajaran seperti Google Classroom, E-learning, Google Meet, Zoom dan lain sebagainya. Pembelajaran daring atau yang dikenal dengan istilah e- learning merupakan bentuk pemanfaatan teknologi dalam mendukung proses belajar mengajar jarak jauh. Hal ini meningkatkan perubahan gaya belajar yang semakin pesat (Dimyati,2017).

Pembelajaran daring mungkin cukup efektif untuk mengurangi penyebaran Covid-19, karena melalui pembelajaran online seperti ini peserta didik tidak harus belajar bertatap muka secara langsung dan tidak melakukan kontak fisik yang memungkinkan virus covid-19 bisa menular melalui interaksi antara peserta didik dengan peserta didik, peserta didik dengan guru, maupun guru dengan guru. Namun pembelajaran daring membuat siswa menjadi lebih “liar dan nakal”. Mereka yang selama ini belajar di sekolah dengan diawasi guru, harus belajar mandiri dari rumah, yang mungkin pengawasan dari orang tuanya agak kurang.

Baca juga:  Metode Studysaster Efektif dalam Pembelajaran Daring

Guru tidak bisa mengawasi perkembangan peserta didik sejauh mana mereka memahami materi pembelajaran. Selain itu fakta di lapangan, kebanyakan orang tua yang seharusnya menemani dan mendampingi anak belajar mereka malah sibuk bekerja karena harus memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Bahkan kebanyakan kasus di lapangan kedua orang tua bekerja dari pagi sampai larut malam yang akhirnya anak dibiarkan belajar secara mandiri.

Saat proses pembelajaran kembali diberlakukan dengan tatap muka, penulis yang mengajar Pendidikan Agama Islam (PAI) di kelas 5 SD Negeri 02 Krasak, Sragi, Kabupaten Pekalongan, menjumpai fakta, siswa kembali ke sekolah dengan perubahan perilaku yang agak “liar”. Mereka menjadi malas-malasan masuk ke dalam ruang kelas, saat pelajaran hendak dimulai. Saya yang berusaha mengingatkan anak didik, justru sering mendapat “perlawanan” dari siswa. Ada banyak alasan yang mereka kemukakan saat diminta untuk masuk kelas atau belajar lebih serius di dalam kelas. “pak guru, belajarnya dari rumah saja, lebih asyik” begitu kata-kata yang sering dikatakan siswa kepada penulis.

Baca juga:  Google Classroom, Solusi Menulis Laporan Fiksi di Era Pandemi

Dengan kondisi ini, saya kemudian mencoba mencari solusi, agar siswa kembali dengan tuntunan yakni sopan santun, menghormati dan menghargai guru serta berperilaku layaknya siswa. Penulis, menerapkan metode pembelajaran dengan drill. Menurut Syaiful Sagala (2006: 61), pengertian metode drill yakni suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan kepada siswa untuk memperoleh keterampilan, ketangkasan, kesempatan, dan kecepatan. Keterampilan tersebut dapat dikuasai dengan adanya kebiasaan-kebiasaan yang sudah terbangun pada siswa. membaca surat-surat pendek. Dalam metode ini, penulis setiap hari mewajibkan siswa membaca bacaan surat-surat pendek didepan. Seperti surat An-Nas, Al-Kautsar, Al-Ikhlas, Al-Falaq,Al-Lahab, surat An-Nasr, Surat Al-Quraisy dan lain-lain.

Dalam metode ini, saya menyebutkan surah yang akan dibaca, kemudian peserta didik membaca surah tersebut dengan dipandu penulis. Dan, setelah metode drill dengan membaca bacaan surah-surah pendek, menjelang masuk kelas, ternyata mampu memberikan ketenangan kepada siswa. Terbukti anak didik lebih mudah di atur, bersikap tidak liar lagi, tidak seperti saat pertama kali masuk PTM pasca selesainya penerapan pembelajaran daring. Meski siswa sudah kembali “menemukan” perilaku sebagai layaknya pelajar, penulis tetap akan menerapkan metode pembelajaran semacam ini, agar siswa tidak hanya pandai secara akademik, namun memiliki akhlak yang baik. (kj1/aro)

Baca juga:  ESSEMMU Mengukir Prestasi Peserta Didik

Guru PAI SD Negeri 02 Krasak, Kec.Sragi, Kab. Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya