alexametrics

Hadapi Problematika di Masyarakat dengan Pembelajaran Life Skill

Oleh : Ririen Pratignyowati, S.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, “Demi Minyak Goreng Curah Murah, Warga Malang Geruduk Pasar Kepanjen Rela Antre Sejak Pagi”. Begitu informasi yang berseliweran di berbagai media Selasa 31 Mei 2022 – 13:17 WIB. Dalam berita disebutkan pada hari itu ratusan warga desa di Kabupaten Malang memadati Pasar Kepanjen. Hanya untuk mendapatkan minyak goreng curah bersubsidi yang dijual dengan harga Rp 14.000 per liter dengan maksimal pembelian sebanyak lima liter untuk setiap orangnya.

Terbayang dalam benak kita, bahwa beberapa bulan lalu harga minyak goreng subsidi Rp14.000 per liter. Semula diberlakukan untuk minyak goreng bermerek/kemasan seperti Sanco, Bimoli, Tropical, Fortune, Rose Brand dan Sovia. Sedangkan harga minyak goreng kemasan non subsidi saat itu mencapai Rp 50.000 per dua liter. Menjelang Ramadan dan Idul Fitri subsidi dicabut. Sehingga harga kembali naik bahkan menjadi hampir dua kali lipat. Kelangkaan minyak goreng dan harga yang melambung tinggi sangat meresahkan masyarakat. Terutama mereka yang sehari-hari berprofesi sebagai pedagang kecil dan penjual gorengan.

Baca juga:  Pro Student Medsos sebagai Upaya Menambah Penghasilan Peserta Didik

Dari problematika di atas, guru dengan basic ilmu kimia berupaya untuk bisa mengajarkan pada siswa bagaimana cara menghadapi kondisi yang penuh dengan keterbatasan sebagai dampak dari pandemic covid -19 melalui pelatihan Life Skill. Life Skill (kecakapan hidup) adalah pelajaran berharga mengenai kecakapan hidup yang sebaiknya diajarkan pada anak sejak dini. Dengan memiliki life skill, anak diharapkan mampu beradaptasi dengan baik dalam kehidupan.

Menurut kurikulum 2013 edisi revisi mata pelajaran Kimia adalah bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) bertujuan membekali peserta didiknya agar mampu menyelesaikan berbagai permasalahan di kehidupan nyata dengan menerapkan konsep-konsep ilmu sains. Life skill yang terdapat dalam mata pelajaran Kimia merupakan reorientasi pendidikan dari subject matter oriented (berorientasi pada materi pelajaran) menjadi life-skill oriented (berorientasi pada kecakapan hidup). (Nurfina Aznam : 2002).

Baca juga:  Pembelajaran Tatap Muka Berbasis Proyek dengan Memanfaatkan Medsos

Pada mata pelajaran kimia di SMK, kecakapan hidup yang dikembangkan adalah kecakapan hidup generik/umum (general life skill) dan kecakapan akademik (academic skill). Kedua kecakapan hidup itulah yang harus dimiliki siswa setelah dia menyelesaikan study. Menjadi tugas guru untuk memilih dan memasukkan berbagai macam kecakapan hidup ke dalam pengalaman belajar pada setiap kompetensi dasar (KD) yang dipilih setelah melalui analisa terlebih dahulu. Namun pada saat sekarang ini terdapat beberapa perubahan pada SMK Pusat Keunggulan diantaranya mapel Kimia dan Fisika digabung dengan nama baru IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial). https://radarsemarang.jawapos.com 9 Oktober 2021

Merasa peduli dengan kondisi di masyarakat, guru berupaya membekali peserta didik dengan dasar-dasar pengetahuan, keterampilan dan sikap (hardskill dan softskill). Agar mendapatkan pengalaman hidup dari kegiatan belajar mengajar di sekolah. Melalui mapel IPA pada siswa kelas X TPG (Jurusan Teknik Perancangan dan Gambar) SMK Negeri 3 Semarang di semester genap, guru mengajarkan berbagai keterampilan. Di antaranya Pembuatan Minyak Goreng Nabati Melalui Proses Fermentasi. Keterampilan ini sangat besar manfaatnya apabila dipraktikkan siswa di rumah karena harga minyak goreng dipasaran saat ini cukup tinggi.
Dengan fermentasi yang dilakukan jadikan proses pembuatan minyak goreng lebih praktis (mempersingkat waktu) sehingga menghemat bahan bakar.

Baca juga:  Peran Pembelajaran Sastra dalam Pendidikan Karakter di Sekolah

Dalam kegiatan ini, guru menggunakan dua macam bahan fermentasi. Yaitu, fermipan/gist dan nanas. Dari penggunaan nanas yang dicampurkan kelapa parut diambil santannya akan dihasilkan minyak goreng mengandung vitamin A dengan warna kuning tua. Sedangkan campuran fermipan/gist pada kelapa parut yang diambil santannya akan dihasilkan minyak goreng dengan warna lebih muda. Kegiatan tersebut diharapkan bisa membuat siswa-siswi SMK Negeri 3 Semarang memiliki keterampilan membuat minyak goreng nabati yang sehat. Sebagai salah satu solusi dari problematika yang terjadi di masyarakat. (ks/fth)

Guru SMKN 3 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya