alexametrics

Praktik Kimia di Sekolah Pelaksana Program Kewirausahaan

Oleh: Erni Riyanti, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pendidikan di Indonesia yang dijalankan dengan menggunakan kurikulum sebagai pedoman pendidikan yang diberikan kepada anak didik agar pendidikan yang diberikan sesuai dengan arah dan tujuan dari pendidikan itu sendiri. Pendidikan di Indonesia memiliki tujuan tersendiri yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3, yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Rancangan Kurikulum 2013 merupakan implementasi kecakapan abad 21 atau diistilahkan dengan 4C (Critical Thinking, Creativity, Collaboration dan Communication). Integrasi capaian kemampuan tersebut dirumuskan, terutama dalam mata pelajaran Kewirausahaan dalam Kurikulum 2013. Sejak 2016, Direktorat Pembinaan SMA telah melakukan penguatan program kewirausahaan dengan memberikan dana bantuan untuk beberapa sekolah yang menyebar di 34 provinsi.

Proses pengembangan kewirausahaan dilaksanakan dengan berbasis provinsi wilayah dan memperkuat kolaborasi ekosistem Asosiasi, Bisnis, Komunitas, Pemerintah dan Media (ABCGM). Selanjutnya program Kewirausahaan di SMA adalah sekolah yang diharapkan dapat berperan dalam mengembangkan dan membudayakan nilai-nilai kewirausahaan dengan tujuan antara lain: meningkatkan daya inisiatif sekolah untuk mengembangkan program kewirausahaan (Buku Pedoman Program Kewirausahaan SMA, 2019)

Baca juga:  Pembelajaran Asyik Menulis Anekdot melalui Teknik Parafrase

Penerapan konsep / karakteristik kewirausahaan di SMA pelaksana Program Sekolah Kewirausahaan tidak hanya berfokus pada proses pembelajaran mata pelajaran Prakarya dan Kewirausanaan serta pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kewirausahaan saja. Akan tetapi juga diimplementasikan pada pelaksanaan pembelajaran seluruh mata pelajaran di sekolah. Penerapan ini salah satunya dituangkan dalam penyusunan RPP yang harus memuat kecakapan abad 21 yang dikenal dengan istilah 4C.

Skill 4C ini mencakup sejumlah keterampilan personal dan sosial yang ada dalam pembelajaran abad 21, yaitu: 1) Critical thinking adalah: di mana sesorang diarahkan kepada berpikir kritis dalam memecahkan suatu masaalah atau suatu kasus (problem solving). Dalam memecahkan suatu masaalah perlu melalui proses. Proses ini disebut juga dengan proses melatih diri untuk mencari kebenaran .

2) Creativity (Keterampilan berkipkir kreatif) disebut juga dengan berpikir tanpa dibatasi aturan yang cenderung mengikat. Seseorang dapat melihat suatu masalah dari berbagai perspektif atau sudut pandang, sehingga pikirannya lebih terbuka dalam menyelesaikan masalah.

Baca juga:  Laboratorium Virtual di Masa Pandemi

3) Collaboration (Keterampilan Bekerja Sama atau Berkolaborasi) adalah suatu aktivitas kerja sama kelompok yang terdiri dua orang atau lebih untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan secara bersama. Di mana dalam berkoloborasi nantinya akan terlatih dalam mencapai solusi terbaik dan dapat diterima oleh semua anggota kelompok.

4) Communication (Ketrampilan dalam Berkomunikasi) adalah suatu kemampuan dalam mencapai ide atau pemikiran dilakukan secara jelas, efektif dan cepat. Komunikasi dimaknai sebagai kemampuan anak dalam menyampaikan ide dan pikirannya secara cepat, jelas, dan efektif. (Saifullah,S.Pd., M.Pd, https://pauddikmasaceh.kemdikbud.go.id/, 2020)

Selain dengan membuat RPP dengan skill 4C, konsep kewirauhsahaan juga bisa diterapkan dalam pembelajaran berbasis praktikum. Dengan metode praktikum tidak hanya konsep kewirausahaan yang bisa diterima peserta didik, tetapi praktik kewirausahaan juga bisa diterapkan. Sebagai contoh pada pembelajaran mapel kimia. Ada beberapa materi praktik kimia yang bisa langsung menerapkan praktik kewirausahaan, antara lain: Koloid kelas XI (praktik koagulasi dengan membuat es krim, keju, pasta gigi). Sifat koligatif larutan kelas XII (praktik penurunan titik beku dengan membuat es lilin atau es krim).

Baca juga:  Belajar Sejarah Menyenangkan dengan Model Pembelajaran Index Card Match

Perbedaan proses pembelajarannya terletak pada kegiatan awal dan akhir praktikum. Kegitan awal sebelum praktikum peserta didik diminta untuk mendata semua kebutuhan alat dan bahan serta dinominalkan untuk memperoleh besarnya biaya variabel dan biaya tetap. Setelah praktikum, peserta didik dilatih untuk menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) berdasarkan biaya yang telah dihitung dan jumlah prosuk yang dihasilkan, sehingga diperoleh biaya produksi untuk satu produk.

Dengan demikian dalam sekali praktikum peserta didik mendapatkan konsep kimiawi dan kewirausahaan juga. Keterampilan ilmu pengetahuan dan kewirausahaan ini akan sangat bermanfaat bagi peserta didik, terutama yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Selain itu, akan terbentuk generasi penerus yang tidak hanya menguasai konsep secara teori, tetapi juga praktik di lapangan yang bisa bersaing di era 4.0 saat ini. (ump2/aro)

Guru SMA Negeri 1 Bringin, Kabupaten Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya