alexametrics

Mengapa Malu Sekolah di Madrasah Kalau Madrasah Bisa Lebih baik

Oleh : Ima Maghfiroh, S.Pd.I

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, “Sekolah di mana mas ?” “Di Madrasah Aliyah, Bu.” “Kenapa tidak di sekolah kejuruan atau di sekolah atas yang lebih bonafit?”. Demikian percakapan yang aku dengar siang itu. Rasanya miris ketika masih ada yang membandingkan madrasah dengan sekolah.

Madrasah merupakan sekolah umum berciri khas Islam. Ciri khas Islam yang dimaksud adalah terdapatnya mata pelajaran akidah, akhlak, Alquran Hadist, fikih, sejarah kebudayaan Islam dan bahasa Arab yang membedakannya dengan sekolah. Madrasah lahir dan berkembang sejalan dengan perkembangan Islam Indonesia dan eksistensinya telah diakui sepanjang sejarah bangsa.

Dulu madrasah distigma sebagai pendidikan kelas dua, pendidikan alternatif dan kerap menjadi “lembaga bengkel” karena di dalamnya tempat anak-anak bermasalah secara moral. Madrasah menjadi tempat perbaikan akhlak setelah sekolah dianggap kurang berhasil menjadikan mereka anak-anak baik. Kini sudah banyak madrasah yang dinilai memiliki keunggulan dibanding dengan lembaga pendidikan lainnya. Sedikitnya orang yang mengetahui tentang kurikulum di madrasah, membuat sebagian orang berpikir kalau madrasah hanya khusus mengajarkan tentang ilmu agama, bahkan lebih ekstrem lagi mereka berpikir madrasah hanya tempat calon lebe atau moderen.

Baca juga:  Pembelajaran Mastery Learning Tingkatkan Pemahaman Materi Keliling Lingkaran

Sekarang ini banyak madrasah yang bermutu dan hal itu bisa dilihat dari prestasi baik akademik maupun bidang olah raga. Selain itu mutu juga bisa dilihat dari karakter kepala madrasah, guru, dan karyawan menciptakan perilaku yang luhur dan beradab. Mutu tidak berdasarkan pada mahalnya biaya pendidikan.

Sedih rasanya melihat anak datang ke madrasah memakai jaket berwarna hitam seperti anak-anak genk punk, bahkan mereka sulit sekali melepas jaketnya saat di dalam kelas. Setelah ada pendekatan dari pihak BP/BK ternyata dia sekolah di madrasah karena saran orang tuanya, dan sebenarnya dia kurang suka atau takut dibuly teman-temannya. Karena malu dan takut di-bully itulah mereka menutup diri dengan jaket hitam, mereka ingin menunjukkan kepada masyarakat kalau siswa madrasah pun bisa menjadi anak punk.

Baca juga:  Lebih Mudah Mengenal Sudut-Sudut dengan Jadut

Tidak mudah mengubah anak-anak tersebut, harus dengan pendekatan secara pribadi agar mereka tidak tersinggung dan merasa rendah diri. Wali kelas bertindak sebagai orang tua memanggil anak-anak itu secara pribadi. Pertama, selama di kelas anak tersebut tidak boleh mengenakan jaket hitam seperti identitas punk, kemudian perlahan-lahan tidak boleh memakai di lingkungan madrasah. Pihak madrasah mengganti kesenangan mereka dengan membuatkan seragam baru yaitu seragam program keahlian, bersamaan dengan kegiatan program keahlian yang ada di madrasah.

Perlahan tapi pasti anak-anak menyukai kegiatan progam keahlian yang ada di madrasah, di antaranya teknik komputer jaringan, teknik sepeda motor, tata busana dan akuntansi. Sekarang ini madrasah memberikan jawaban untuk keinginan siswa, membimbing mereka dengan program keahlian tersebut sehingga bakat dan minat mereka tersalurkan. (wa2/ton)

Baca juga:  Metode Pembelajaran Home Visit pada Masa Pandemi Covid-19

Guru MI Islamiyah Sijono

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya