alexametrics

Bermain Peran pada Materi Pelaksanaan Kewajiban dan Hak sebagai Warga Negara

Oleh : Ani Khanah, S.Ag

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pada Kompetensi Dasar 3.2 Menganalisis pelaksanaan kewajiban, hak, tanggung jawab sebagai warga negara beserta dampaknya dalam kehidupan sehari-hari, mata pelajaran PPKn tema 6 kelas VI A MI Wahid Hayim Warungasem Kecamatan Warungasem Kabupaten Batang dalam capaian KKM-nya masih tergolong rendah. Pemahaman siswa tentang materi masih kurang dan dalam pembelajaran materi ini masih menggunakan metode konvensional.

Hal tersebut membuat siswa merasa bosan, kurang aktif, dan tidak menyenangkan. Karena mereka hanya mendengarkan keterangan guru melalui ceramah, diperintah untuk membaca materi yang ada di buku pelajaran/ buku tema serta guru menyebutkan beberapa contohnya.

Penulis melakukan inovasi pembelajaran dengan menggunakan metode bermain peran agar siswa lebih semangat, aktif, dan memahami materi dengan suasana menyenangkan. Efektifitas model bermain peran pembelajaran PPKn di MI Wahid Hasyim Warungasem, kelas VI A semester 1, sebagai sumber belajar mandiri dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang efisien.

Baca juga:  Ketika Prokes Menjadi Syarat Mutlak PTM

Bermain peran merupakan penerapan pembelajaran berdasarkan pengalaman. Bermain peran memungkinkan para siswa mengidentifikasi situasi-situasi dunia nyata dan dengan ide-ide orang lain. Identifikasi tersebut cara untuk mengubah perilaku dan sikap sebagaimana siswa menerima karakter orang lain.

Menurut Amri dalam Ningsih (2014, hal.52), metode bermain peran adalah pembelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa dengan cara siswa memerankan suatu tokoh, baik tokoh hidup mapun mati. Metode ini mengembangkan penghayatan, tanggung jawab dan terampil dalam memakai materi yang dipelajari.

Tujuan yang diharapkan dengan penggunaan model bermain peran agar siswa dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain, dapat belajar bagaimana membagi tanggung jawab, dapat belajar bagaimana mengambil keputusan dalam situasi kelompok secara spontan, merangsang kelas untuk berpikir, dan memecahkan masalah.

Hal yang sangat penting dalam bermain peran adalah situasi masalah, yang biasanya disampaikan secara lisan tetapi dapat juga dikemukakan dalam bentuk lain. Misalnya melalui lembaran-lembaran yang dibagikan kepada peserta didik. Dalam lembaran tersebut dikemukakan perincian langkah-langkah yang akan diperankan lengkap dengan watak pemeran masing-masing.

Baca juga:  Terampil Membaca Puisi dengan Model ATM

Bermain peran mempunyai beberapa kelebihan dan juga mempunyai beberapa kekurangan. Sudjana (1989:79) dalam Kurnia (2011) mengemukakan kelebihan metode bermain peran, yaitu: peran yang ditampilkan dengan menarik akan mendapatkan perhatian dari anak, sehingga perhatian anak dapat terfokus pada pembelajaran, dapat ditampilkan dalam kelompok besar maupun kelompok kecil.

Hal ini sesuai dengan jenis metode bermain peran yang terdiri dari metode bermain peran makro dan mikro, dapat membantu anak dalam memahami pengalaman orang lain yang melakukan peran. Melalui bermain peran, anak dapat memahami mengenai tokoh yang dimainkan, dapat membantu untuk menganalisis.

Kemampuan anak dalam menganalisis permasalahan dapat dilatih melalui metode bermain peran, menumbuhkan kemampuan dan rasa kepercayaan diri anak dalam menghadapi masalah. Sedangkan kekurangan dalam metode bermain peran yang dikemukakan Suparman (2006:93) dalam Halida (2011) yaitu kecenderungan tidak bersungguh- sungguh, serta memerlukan waktu yang cukup banyak.

Baca juga:  Mudahnya Mempelajari Satuan Panjang dengan Media konversi

Berdasarkan pendapat mengenai kelebihan metode bermain peran, dapat dilihat bahwa metode bermain peran memiliki banyak kelebihan. Bermain peran dapat menjadi metode pembelajaran yang dapat mendukung perkembangan siswa, sehingga mereka merasa belajar lebih menyenangkan dan tidak membosankan.

Asessment siswa harus diperhatikan terus menerus agar siswa melaksanakan apa yang diinginkan oleh guru sehingga pembelajaran berjalan dengan baik dan sesuai dengan hasil yang diharapkan. Peningkatan hasil belajar siswa harus diperhatikan pada setiap perpertemuan agar guru mengetahui pada tahapan yang mana yang perlu diperbaiki oleh guru. (wa2/ton)

Guru Kelas VI A MI Wahid Hasyim Warungasem, Batang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya