alexametrics

Revitalisasi Budi Pekerti melalui Pembelajaran PAK di Sekolah

Oleh: Dwi Endang Sujati , M.Hum

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PENDIDIKAN Agama Kristen dan budi pekerti sebagai pendidikan nilai moralitas manusia yang disadari dan dilakukan dalam tindakan nyata. Di sini ada unsur proses pembentukan nilai tersebut dan sikap yang didasari pada pengetahuan mengapa nilai itu dilakukan. Semua nilai moralitas yang disadari dan dilakukan itu bertujuan untuk membantu manusia menjadi manusia yang lebih utuh, yang membantu orang dapat lebih baik hidup bersama dengan orang lain dan dunianya (learning to live together) untuk menuju kesempurnaan.

Nilai itu menyangkut berbagai bidang kehidupan seperti hubungan sesama (orang lain, keluarga), diri sendiri (learning to be), hidup bernegara, alam dunia, dan Tuhan. Penanaman nilai moralitas tersebut melibatkan unsur kognitif (pikiran, pengetahuan, kesadaran), dan unsur afektif (perasaan) juga unsur psikomotor (perilaku).

Tujuan utama dari pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di sekolah adalah untuk mcmbentuk sikap siswa yang apresiatif dan kreatif terhadap kemajuan bangsa dilihat dari moral. Jika siswa sudah mampu bersikap apresiatif terhadap nilai-nilai Agama yang sesuai dengan ajaran, maka mereka sekaligus juga mampu menangkap nilai-nilai dan amanat yang ada. Budi pekerti yang diajarkan melalui pembelajaran Pendidikan Agama Kristen diharapkan dapat digunakan sebagai referensi untuk memperbaiki moral bangsa yang telah mengalami penurunan pada masa modern ini. Oleh karena itu , ini membahas upaya merevitalisasikan nilai-nilai budi pekerti melalui pembelajaran Pendidikan Agama Kristen tersebut.

Baca juga:  Memahami Karakteristik Pembelajaran Seni Budaya

Kata kunci: Budi pekerti, nilai moralitas

Dewasa ini pendidikan Agama Kristen dan budi pekerti di sekolah banyak dibicarakan kembali dalam konteks pembangunan (kembali) moral bangsa. Sedemikian gencarnya pembicaraan tentang topik ini, sehingga sebagian orang beranggapan seakan-akan budi pekerti sebagai sesuatu yang baru atau merupakan binatang yang baru. Padahal tidak seperti itu.

Sebagai suatu materi pendidikan maupun mata pelajaran,Pendidikan Agama Kristen dan budi pekerti timbul tenggelam dalam kurikulum pendidikan nasional Indonesia. Ada saatnya budi pekerti tampil sebagai mata pelajaran yang dominan dalam kurikulum, kemudian disatukan dengan mata pelajaran lain, lalu terpisah lagi. Pada saat materi Pendidikan Agama Kristen dan budi pekerti diintegrasikan atau disisipkan ke dalam mata pelajaran lain, maka mata pelajaran yang mendapatkan titipan itu adalah yang paling dekat dengan sifat, karakter, atau misi mata pelajaran ini, seperti Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan.

Perubahan ini mencerminkan pandangan bangsa ini terhadap arti pendidikan budi pekerti, dan sekaligus merefleksikan terjadinya pergulatan pemikiran yang berlangsung sejak Indonesia merdeka hingga saat ini. Hal tersebut juga menggambarkan perubahan kepedulian bangsa ini terhadap pendidikan yang bernuansa etika-moral yang diwakili oleh struktur kurikulumnya.

Baca juga:  Pembelajaran Asyik Materi Perkembangbiakan pada Manusia dengan Google Classroom

Pendidikan budi pekerti dan pendidikan agama pada saat itu dapat dikatakan “terpinggirkan” oleh haru-biru semangat pendidikan Pancasila. Memasuki pertengahan tahun 1980-an hingga akhir 1990an, sejalan dengan warna keagamaan sangat mendominasi sistem pendidikan nasional, pendidikan budi pekerti seakan-akan hilang — kecuali hanya tercantum dalam salah satu ciri manusia Indonesia seutuhnya dalam tujuan pendidikan nasional.

Namun setelah muncul Era Reformasi, yang menyaksikan sosok bangsa ini yang lunglai, terkapar dalam ketidakberdayaan akibat berbagai krisis yang dialaminya. bangsa ini berusaha mencari kembali akar budayanya dan nilai-nilai dasarnya, maka bertemulah dengan sebuah nama, yang dianggap sebagai bagian inti dari budaya bangsa, yakni “budi pekerti”. Sejak saat itulah, pendidikan budi pekerti dihidupkan dan menjadi tema besar dalam sistem pendidikan nasional, sehingga saat ini yang mendapatkan penekanan kuat dalam GBHN. Siapa yang seharusnya memainkan peran penting dalam pendidikan budi pekerti.

Para ahli dan praktisi pendidikan tampaknya sepakat bahwa pendidikan budi pekerti atau moralitas sangat penting dan mesti segera terwujud. Namun bagaimana bentuknya, cara dan modelnya, ukurannya, pelakunya, penilaiaanya, dan semacamnya masih menjadi perbincangan dan mungkin juga perdebatan. Kalau kemudian jawabannya berupa mata pelajaran bernama Pendidikan Agama dan budi pekerti yang diberikan dengan hafalan seabrek ketentuan kebijakan, maka tunggu saja kegagalannya. Bukankah sekolah-sekolah kita telah overload dengan pelajaran P4 yang sarat dengan ajaran etika itu?. Juga pelajaran agama, sejarah, bahasa, tatanegara atau kewarganegaraan, kebudayaan dan lainnya yang memang sebenarnya mengandung nilai-nilai untuk terbentuknya budi pekerti?.

Baca juga:  Peran PAK dalam Keluarga terhadap Perilaku Remaja

Praktik etika dan budi peketi tidak akan cukup hanya diberikan sebagai pelajaran yang konsekuensinya hafalan atau lulus dalam ujian tulis. Barangkali akan baik jika mata pelajaran yang biasanya kearah kogntif itu diorientasikan pada pemberian alokasi waktu untuk mengajak anak didik mendiskusikan topik-topik atau bagian-bagian dari apa yang disebut moral. Sedangkan prakteknya harus diukur dari kehidupan keseharian.

Kelulusan anak didik tidak cukup hanya dengan mengantongi nilai kategori lulus ujian tulis mata pelajaran budi pekerti, namun harus dilihat kepribadian, tingkah laku sehari-hari. Penanaman agama dan budi pekerti luhur sangat perlu dimunculkan kembali dan segera diterapkan lewat jalur pendidikan formal atau sekolah. Seperti yang diterapkan di SMAN 4 Semarang. (*/zal)

Guru SMAN 4 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya