alexametrics

Model Pembelajaran Make A Match Tingkatkan Kemampuan Kognitif Anak Usia Dini

Oleh : Sri Rejeki, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, TK Bina Kasih II Dlimoyo, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung merupakan lembaga yang memberikan layanan pendidikan kepada anak usia dini pada usia 4-6 tahun. Dalam konteks pendidikan anak usia dini, TK Bina Kasih II Dlimoyo memiliki peran cukup besar dalam proses optimalisasi kemampuan anak berikut dengan hal-hal penanaman nilai-nilai agama pada anak.

Para guru harus dapat memberikan layanan secara profesional dalam rangka peletakan dasar ke arah pengembangan sikap, pengetahuan dan keterampilan agar anak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan serta mempersiapkan diri untuk memasuki pendidikan dasar.

Dalam Undang-Undang Tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (Khatijah, 2015 : 4).

Baca juga:  Pengenalan Teknologi Sederhana melalui Metode Bermain pada Anak Usia Dini

Menurut Asrul Sitorus Dkk (2016:188) kunci sukses yang menentukan keberhasilan implementasi kurikulum adalah kreativitas guru. Karena guru merupakan faktor penting yang besar pengaruhnya, bahkan sangat menentukan berhasil tidaknya anak dalam belajar.
Banyak guru di TK/PAUD jarang menggunakaan teknik permainan dalam pembelajaran. Karena alasan yang bermacam-macam. Di antaranya memakan banyak biaya, perlu persiapan yang lama, perlu kreativitas guru yang tinggi dan banyak orangtua yang memandang aneh jika pembelajaran disampaikan dengan bermain.

Padahal bermain adalah sesuatu yang sangat disenangi anak usia dini. Guru dapat menggunakannya untuk menyampaikan pembelajaran kepada anak dan hal ini dapat digunakan dalam pengembangan kognitif anak melalui model pembelajaran Make a Match (permainan mencari pasangan).
Model pembelajaran Make a Match dikembangkan oleh Lorns Curran (1994) dimana model pembelajaran anak diajak mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan.

Baca juga:  Meningkatkan Keterampilan Bercerita dengan Bermain Peran BonTa

Berdasarkan Permendiknas No. 58 Tahun 2009 tentang Muatan Kurikulum PAUD meliputi bidang pengembangan pembiasaan meliputi aspek perkembangan moral dan nilai nilai agama, aspek perkembangan sosial emosional dan kemandirian. Pengembangan kemampuan dasar mencakup kemampuan bahasa, kognitif, dan fisik motorik. Penyebab dari permasalahan di TK Bina Kasih II Dlimoyo, saat mengajar guru menerapkan strategi ceramah sehingga membuat anak pasif. Kegiatan pembelajaran selalu menggunakan majalah dan buku tulis serta kegiatan menghafal dan mengingat fakta. Penggunaan metode bermain yang sangat minim. Kurang variasinya guru dalam menggunakan model pembelajaran.

Proses pembelajaran ini akan lebih menarik dan sebagian besar anak sangat antusias dalam mengikuti proses pembelajaran metode make a match. Keaktifan anak akan tampak saat mencari pasangan bermain. Hal ini dapat dilihat pada saat anak mendapatkan kartu yang dipegang. Yaitu jenis kartu bergambar geometri, lalu anak mencocokan dan mencari pasangan kartu bentuk sesuai ukuran, jenis dan bentuknya yang dipegang oleh temannya.

Baca juga:  Pembelajaran Akuntansi Dengan Metode Toserba

Permainan ini sesuai indikator yang ingin dicapai yaitu memasangkan benda sesuai bentuk ukuran dan jenisnya serta indikator menyebut, menunjukkan dan mengelompokan bentuk lingkaran, segitiga,dan segiempat. Model pembelajaran Make a Match dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak usia dini dalam memahami materi mengenal bentuk geometri di TK Bina Kasih II Dlimoyo.

Secara teoritis, manfaat dan tujuan pembelajaran Make a Match berguna sebagai khazanah ilmu pengetahuan bidang pendidikan formal dan nonformal. Untuk mengetahui upaya guru dalam mengatasi permasalahan kemampuan kognitif mengenal bentuk geometri pada anak, menambah wawasan guru tentang model pembelajaran yang mampu menambah kemampuan kognitif anak dan menjadi referensi guru dalam melakukan kegiatan melatih kognitif anak. (*/lis)

Guru TK Bina Kasih II Dlimoyo, Kec. Ngadirejo, Kabupaten Temanggung

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya