alexametrics

Mudah Pahami Peluang Kejadian dengan “Tarlang”

Oleh : Dwi Indrasari, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Matematika sebagai salah satu mata pelajaran dasar pada setiap jenjang pendidikan formal mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Matematika dianggap oleh sebagian besar peserta didik merupakan pelajaran yang sulit dan ditakuti, khususnya sebagian peserta didik SMP Negeri 1 Tengaran Kabupaten Semarang. Oleh karena itu perlu perhatian khusus bagi para pendidiknya. Salah satu ciri khas matematika adalah pembelajaran yang memiliki obyek bersifat abstrak. Hal itu menjadi penyebab sulitnya guru dalam mengajarkan matematika di sekolah. Seorang guru harus bisa mengubah agar konsep dalam matematika terlihat konkret. Karena anak usia SMP masih berpikir dalam tahap konkret.

Media pembelajaran sangat mendukung pada proses dan hasil akhir dari pembelajaran. Media pembelajaran adalah alat bantu pada proses belajar baik didalam maupun di luar kelas yang dapat merangsang siswa untuk belajar (Azhar:2011). Dengan media pembelajaran, guru akan terbantu pada proses pembelajaran. Serta diharapkan dapat menghasilkan pembelajaran yang menyenangkan yaitu proses pembelajaran yang membuat siswa merasa nyaman dalam belajar. Memberi kesempatan kepada siswa untuk lebih aktif karena ikut terlibat langsung pada saat pembelajaran, tidak hanya guru yang lebih dominan berperan.

Baca juga:  Merbabu Park Kopeng Diserbu Pengunjung, Mayoritas dari Luar Kota

Salah satu materi yang masih susah dipahami oleh siswa kelas VIII semester genap SMP Negeri 1 Tengaran adalah materi Peluang Kejadian. Faktor penyebab peserta didik kurang memahami Peluang kejadian di antaranya belum memanfaatkan media dalam proses pembelajaran. Dengan menggunakan media pembelajaran “Tarlang”(Putaran Peluang) diharapkan dapat memperjelas konsep mencari peluang kejadian atau frekuensi relatif. Media pembelajaran yang digunakan tidak harus yang mahal, tapi bisa memanfaatkan barang di sekitarnya.

Sebelum proses pembelajaran kelas dibagi dalam beberapa kelompok yang beranggotakan 4-5 siswa. Setiap kelompok diberi tugas untuk membawa alat dan bahan di antaranya gunting, kertas karton, sterofom, dobeltip, kertas origami. Kemudian setiap kelompok dibagikan lagi Lembar Kerja (LK), serta dijelaskan prosedur kerjanya. Kertas origami yg berbeda warna terdiri dari empat warna biru, merah, hijau, dan kuning digunting bentuk segitiga kemudian ditempel pada kertas karton kemudian dilubangi bagian tengahnya. Kemudian ditempelkan pada steroform dan ditempel di papan tulis. Cara kerjanya adalah melakukan percobaan memutar Tarlang sampai berhenti di warna apa, misal percobaan pertama berhenti di warna biru, kita putar lagi percobaan kedua berhenti di warna merah. Percobaan ketiga berhenti di warna biru. Dan seterusnya sampai percobaan kelima.

Baca juga:  Belajar Lompat Jauh dengan Memanfaatkan Kardus Bekas

Untuk menentukan peluang kejadian atau frekuensi relatifnya adalah banyaknya kejadian yang muncul (warna yang muncul) dibagi dengan banyaknya percobaan. Peluang kejadian munculnya warna biru berarti warna biru muncul dua kali dibagi banyaknya percobaan yaitu 5 kali, sehingga peluang kejadiannya adalah 2 dibagi 5 atau 0,4. Setiap kelompok bisa melakukan percobaan sebanyak mereka inginkan. Peserta didik terlihat sangat antusias dalam melakukan percobaan.

Dengan media pembelajaran yang sederhana, diharapkan peserta didik dapat langsung praktik dan mempelajari materi peluang kejadian. Guru hanya sebagai fasilitator, peserta didik yang lebih aktif dalam pembelajaran. Media yang diperoleh dari peserta didik sendiri dan dipakai oleh peserta didik sendiri akan membuat pembelajaran lebih bermakna. Dari pemahaman konsep tersebut, maka peserta didik dapat menerapkannya untuk soal yang lebih komplek sehingga mereka merasa mudah dalam menyelesaikan soal tersebut. Penggunaan “Tarlang” ini ternyata cukup efektif dalam proses pembelajaran dan membantu guru dalam mempersiapkan pembelajaran di kelas. Diharapkan dengan pembelajaran yang lebih efektif, akan mendapatkan hasil belajar yang maksimal. Peserta didik lebih memahami pembelajaran dan meningkatkan hasil belajarnya. (igi1/ton)

Baca juga:  Kantong Ajaib Doraemon, Pendukung Kemampuan Membaca Kelas Rendah

Guru SMP Negeri 1 Tengaran, Kabupaten Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya