alexametrics

Berbagi Tentang Model Pembelajaran SOLE

Oleh: Lilis Purwasih, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Keadaan pandemi nyaris menyingkir dari sisi kita, namun demikian pemerintah tetap menerapkan protokol kesehatan meski tidak seketat kemarin. Di dunia pendidikan juga demikian, masing-masing pemerintah daerah dalam hal ini dinas pendidikan berhati-hati mengambil kebijakan prokes.

Pada kesempatan ini saya ingin berbagi pengetahuan perihal model pembelajaran SOLE. Apa itu model pembelajaran SOLE? SOLE (Self Organized Learning Environments) menitik beratkan proses pembelajaran mandiri yang dilakukan oleh siapapun yang berkeinginan untuk belajar dengan memanfaatkan internet dan perangkat pintar yang dimilikinya (Pustekkom Kemdikbud, 2018). Model Pembelajaran ini memiliki tiga langkah besar dalam kegiatannya, yaitu big question, investigation, dan review. Apakah bisa model pembelajaran dengan langkah seperti itu diterapkan secara daring? Padahal dibutuhkan diskusi bersama kelompok ketika tahapan investigasi dilaksanakan. Tidak usah berfikir panjang dan segera mulai tahapan yang bisa dilakukan.

Langkah awal kegiatan ini adalah menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Materi yang akan dipelajari adalah kegiatan ekonomi. Selanjutnya aplikasi yang diperlukan untuk menunjang kegiatan juga segera dipilih. Adapun aplikasi yang digunakan pada saat penerapan pembelajaran adalah whatsapp, Youtube, perekam suara, dan platform google. Untuk menambah referensi materi yang akan dipelajari bersama siswa, portal Rumah Belajar juga dipilih sebagai sumber belajar guru.

Baca juga:  Presentasi dengan Peta Konsep dalam Belajar PPkn Materi Hubungan Struktural dan Fungsional Pemerintah Pusat dan Daerah

Sebelum kegiatan pembelajaran dengan model SOLE dilaksanakan, koordinasi dilakukan bersama orang tua siswa melalui gorup WA. Pada awal kegiatan pembelajaran siswa melakukan presensi online menggunakan googleform. Selanjutnya pada kegiatan pendahuluan, guru menyapa siswa dan mengajak berdoa bersama. Siswa juga mendengarkan guru melalui rekaman suara mengenai tujuan pembelajaran. Guru selanjutnya membagi siswa ke dalam beberapa kelompok. Jika dalam kegiatan tatap muka siswa berkelompok dengan berkumpul dalam satu meja, maka pada sistem daring ini siswa dikelompokkan menjadi grup kecil WA yang terdiri dari 4 sampai 5 siswa dimana guru juga masuk ke dalam kelompok grup kecil tersebut untuk memberikan pengarahan serta memantau jalannya kegiatan diskusi.

Baca juga:  Tak Ada Penindakkan, Galian C Ilegal di Batang Makin Marak

Pada kegiatan inti, siswa mengamati video melalui link youtube yang diberikan oleh guru. Guru meyampaikan pertanyaan yang harus dipecahkan oleh siswa bersama kelompoknya. Siswa melakukan diskusi bersama kelompok melalui grup kecil. Setiap kelompok diberikan kebebasan untuk mencari jawaban dari berbagai sumber belajar, baik melalui buku, majalah, TV, atau sumber di internet. Semua siswa dituntut untuk aktif memberikan pendapat berupa jawaban sesuai dengan informasi yang diperolehnya. Salah satu siswa ditunjuk sebagai sekretaris yang bertugas menulis dan menampung masukan dari masing-masing teman satu kelompoknya. Salah satu siswa juga ditunjuk untuk mempresentasikan jawaban dari kelompoknya yang direkam melalui perekam suara atau video.

Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil pekerjaannya dengan membagi hasil pekerjaan yang telah direkam melalui grup besar WA. Kelompok lain diberikan kesempatan untuk menanggapi atau memberi masukan serta saran melalui pesan atau perekam suara. Kegiatan presentasi dilakukan oleh semua kelompok. Kegiatan penutup dilakukan dengan menyimpulkan materi yang telah dipelajari secara bersama. Siswa menjawab pertanyaan guru mengenai garis besar kegiatan ekonomi dan contoh-contohnya.

Baca juga:  Target Idul Fitri Aman dari Varian Omicron

Praktik pembelajaran yang telah diterapkan jelas sekali memberikan pengalaman yang berbeda dari biasanya. Kemampuan untuk memecahkan masalah, mencari referensi dari berbagai sumber termasuk pemanfaatan IT, dan melatih kepercayaan diri juga dituntut dalam praktik kali ini. Model pembelajaran yang dipilih belum pernah diterapkan dalam pembelajaran sebelumnya.

Pada penerapan model tersebut di dalamnya menggunakan metode kerja kelompok. Biasanya kerja kelompok dilakukan secara langsung atau tatap muka, namun pada kesempatan ini siswa melakukannya melalui aplikasi WA. Awalnya juga ragu, tetapi ternyata bisa berjalan dengan lancar. Siswa antusias dalam mengikuti kegiatan pembelajaran tersebut. Hal tersebut terlihat dari semua siswa yang mencoba menyampaikan idenya ketika diskusi. Dari awal sampai akhir masing-masing siswa selalu merespon pertanyaan pancingan atau sekedar sapaan dari guru. Seperti yang diterapkan di SDN Brayo, Batang. (bat2/zal)

Guru SDN Brayo, Batang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya