alexametrics

Bangkitkan Rasa Percaya Diri di dalam Kelas melalui Pendekatan Siswa

Oleh : Warkumi, S.Pd.SD.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh pendidik untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik lebih aktif dalam mengembangkan potensi diri, kecerdasan, kepribadian, akhlak mulia,dan keterampilan yang diperlukan ketika di masyarakat. Salah satu belum berhasilnya guru dalam mencapai ketuntasan dalam pembelajaran yaitu guru kurang mengajak peserta didik kelas bawah. Dalam belajar, siswa kelas 2 SDN 01 Siwalan belum merasa enjoy, karena usia anak masih menyukai permainan, malu bertanya dan lain sebagainya. Dan alasan lain peserta didik hanya datang dan duduk di kelas mendengarkan guru ceramah, sehingga menyebabkan peserta didik mengantuk dalam menangkap pembelajaran.

Guru yang hanya berceramah dalam mengajar juga menyebabkan pembelajaran menjadi membosankan dan menjadikan waktu pembelajaran menjadi terasa lama. Guru juga jarang memberikan peluang kepada peserta didik untuk belajar dengan berdiskusi dalam kelompok. Untuk itu perlu adanya solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan-permasalah dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Dan salah satu pilihan guru untuk mengaktifkan pembelajaran di kelas adalah dengan merespon pertanyaan anak untuk menumbuhkan keberanian bertanya anak, dengan cara memberikan kesempatan kepada anak untuk berpikir sebelum mengajukan pertanyaan. Jika guru belum pasti dengan jawabannya atau belum bisa untuk menjawab pertanyaan anak, tidak ada salahnya guru mengakui kalau guru juga tidak mengetahui jawabannya.

Baca juga:  Belajar Tata Surya dengan Pendekatan Kontruktivisme Lebih Imajinatif

Banyak penghambat yang sering dialami oleh guru dalam menumbuhkan keberanian bertanya itu pasti ada, diantaranya adalah siswa kurang merespon pada saat ibu gurunya berbicara di depan kelas, sehingga tidak mengerti apa yang dibicarakan. Terkadang anak juga merasa malu, takut untuk bertanya sehingga anak lebih memilih untuk berdiam. Cara-cara guru mengatasi penghambat tersebut adalah dengan melakukan pendekatan kepada individu atau guru menunjuk anak untuk berani mengajukan pertanyaan, sehingga dapat melatih keberaniaan anak. Dan dengan memberi pembiasaan kepada anak untuk bertanya dengan sopan yaitu dengan mengangkat tangan kanan baru berbicara, sehingga kelas tidak begitu ribut dan anak-anak yang lain juga dapat mendengarkan apa kata temannya. Alasan guru memilih cara mengatasi faktor penghambat adalah untuk melakukan pendekatan kepada anak-anak dan memberikan pembisaan kepada anak-anak untuk berani bertanya berpikir sebelum mengajukan pertanyaan.

Baca juga:  Teknik Finger Painting Peningkat Kreativitas Siswa Belajar Seni Budaya

Untuk memecahkan permasalahan diatas, penulis melakukan langkah-langkah untuk memberikan kesempatan kepada anak supaya bisa berpikir sebelum mengajukan pertanyaan yaitu : Pertama, dengan cara menanyakan kepada semua anak dahulu siapa yang ingin mengajukan pertanyaan dari gambar yang diperlihatkan. Kedua, jika guru belum belum bisa untuk menjawab pertanyaan anak, tidak ada salahnya guru mengakui kalau guru juga tidak mengetahui jawabannya. Ketiga, pada saat guru mengecek kehadiran anak, guru bertanya kepada anak siapa saja yang tidak hadir hari ini dan siapa yang tahu ke mana temannya? Anak menyebutkan nama temannya yang tidak datang dan ada anak yang menyampaikan pesan teman yang tidak dapat masuk. Keempat, pada saat hafalan guru menunjuk salah satu anak untuk memimpin temannya pada saat hafalan, misalnya nama-nama hari. Kelima, kemudian masuk ke kegiatan inti yang disampaikan oleh guru kelas yaitu tentang pengenalan huruf vokal dan huruf konsonan melalui kartu huruf bergambar, yang awalnya guru menuliskan huruf vokal dan kemudian dibawahnya dituliskan huruf konsonan di papan tulis.

Baca juga:  Pembelajaran Geografi dengan Inquiry Based Learning Meningkatkan Pola Pikir Peserta Didik

Harapan penulis setelah melakukan beberapa tindakan supaya siswa dapat mengeluarkan pendapat, sehingga pembelajaran lebih aktif, siswa semakin mempunyai banyak pengalaman, siswa juga dapat membangkitkan rasa percaya diri. Hasil akhir dari proses kegiatan belajar tersebut 70 % berhasil dan hasil belajar di atas rata-rata KKM sekolah. (kj1/ton)

Guru Kelas 2 SDN 01 Siwalan Kec. Siwalan Kab. Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya