alexametrics

Aplikasikan Model Pembelajaran TPACK pada Pembelajaran Sejarah SMA

Oleh : Titiek Rahayu S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Di Indonesia generasi Z (Gen Z) bisa dikategorikan generasi yang lahir sekitar tahun 1995 setelah layanan internet pertama oleh Indonet di Indonesia tersedia pada tahun 1994. Rideout et.al, (2010) menggunakan istilah generasi M2 dimana pada usia 8-18 tahun generasi ini lebih banyak menghabiskan waktu berinteraksi dengan media genre baru seperti komputer, internet, dan video games.

Menurut Pujiriyanto (2019), generasi Z atau M2 besar kemungkinannya tidak sempat menjalani kehidupan analog, namun langsung masuk ke dalam lingkungan digital. Interaksi dengan media generasi sebelumnya seperti televisi, media cetak, dan musik audio mulai berkurang intensitasnya. Fenomena ini bukan hanya mengubah “apa” yang dipelajari, namun mengubah cara “bagaimana” generasi Z ini mempelajarinya.

Perubahan ini menuntut guru untuk memahami karakteristik peserta didik abad 21. Kemudian mengembangkan dan mengaplikasikan model pembelajaran di kelas yang sesuai dengan karakter mereka, tidak terkecuali dalam pembelajaran mapel sejarah yang seringkali diidentikkan dengan konten dan gaya penyampaian old school yang jika disandingkan dengan karakteristik belajar generasi Z dapat menjadi gap problem yang cukup serius.

Berdasarkan permasalahan tersebut, penulis berusaha mengaplikasikan proses pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik abad 21 dalam pembelajaran sejarah yang diampu di kelas XI SMA Negeri 2 Slawi. Model pembelajaran yang dipakai adalah TPACK (Technology Pedagogy Content Knowledge) dimana menurut Pujiriyanto (2019), model pembelajaran ini merupakan kerangka pengintegrasian teknologi ke dalam proses pembelajaran yang melibatkan paket-paket pengetahuan tentang teknologi, materi, dan proses atau strategi pembelajaran.

Baca juga:  Mengembangkan Budaya Literasi Sejarah dengan Explicit Instruction

Dalam model pembelajaran TPACK, guru dapat menggunakan teknologi pembelajaran untuk memudahkan proses belajar peserta didik baik dalam proses perencanaan, penyampaian materi, penugasan, maupun evaluasi. Pembelajaran melalui model TPACK ini sesuai dengan kecenderungan peserta didik yang lebih menyukai proses pembelajaran yang menyajikan informasi dengan ragam bentuk visual maupun audio dan dapat diakses melalui gadget.

Dalam pengajaran sejarah, penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran dapat memberikan ruang yang luas bagi guru untuk menyajikan variasi bentuk sumber belajar, memberikan keleluasaan bagi peserta didik untuk mengeksplorasi materi pembelajaran, serta meminimalisir metode ceramah searah yang cenderung membosankan.

Penerapan TPACK dalam pembelajaran sejarah SMA kelas XI ini mencakup 8 domain pembelajaran menurut Yeh et.al (2014). Ke delapan domain untuk penerapan TPACK yang telah dilakukan adalah, 1) menggunakan TIK untuk menilai peserta didik. Dalam pembelajaran sejarah yang penulis lakukan di kelas XI, proses evaluasi dilakukan dengan menggunakan aplikasi test online seperti Quizizz dan Google Form yang dapat dilakukan secara fleksibel dan efisien. 2) Menggunakan TIK untuk memahami materi pembelajaran. Contohnya mengemas materi abstrak ke dalam animasi video, menggunakan Youtube dengan mengarahkan pada sumber-sumber valid mengenai suatu peristiwa sejarah, serta memberikan rujukan tautan untuk belajar lebih lanjut dan sebagainya. 3) Mengintegrasikan TIK untuk memahami peserta didik. Contohnya meminta peserta didik memvisualisasikan idenya menggunakan Jumboard untuk membuat peta konsep mengenai peristiwa sejarah serta menggunakan Whatsapp atau Google Classroom untuk berinteraksi secara personal dengan peserta didik. 4) Mengintegrasikan TIK dalam rancangan kurikulum termasuk kebijakan. Kegiatan yang dilakukan adalah dengan melakukan pengembangan sumber belajar digital, diskusi rutin pengembangan konten digital, memasukkan program peningkatan melek TIK bagi guru dan sebagainya. 5) Mengintegrasikan TIK untuk menyajikan data. Contohnya menggunakan TIK untuk menyajikan data akademik, data induk peserta didik, data mutasi peserta didik, membuat grafik dan sebagainya. 6) Mengintegrasikan TIK dalam strategi pembelajaran. Kegiatan yang dilakukan adalah mengembangkan pembelajaran hybrid di masa PTM-Terbatas, mengelola forum diskusi online via Whatsapp dan Google Classroom, menggunakan video pembelajaran untuk memotivasi peserta didik dan sebagainya. 7) Menerapkan TIK untuk pengelolaan pembelajaran. Contohnya menggunakan TIK untuk presensi online di Google Classroom, memasukkan dan mengolah nilai peserta didik, menggunakan e-rapor dan sebagainya. 8) Mengintegrasikan TIK dalam konteks mengajar. Proses yang dilakukan adalah menyediakan pilihan pembelajaran berbasis online yang disajikan melalui Learning Management System berupa Google Classroom, menggunakan sumber belajar berbasis teknologi serta mengarahkan peserta didik untuk menyusun penugasan maupun proyek dengan mengaplikasikan teknologi misalnya untuk membuat presentasi online via Jumboard, ringkasan materi dalam bentuk Google Site ataupun Spreadsheet dan Google Document.

Baca juga:  Pembelajaran IPS dengan Model Pembelajaran Take and Give

Penggunaan teknologi dalam pengaplikasian model TPACK pada pembelajaran sejarah kelas XI SMA ini terbukti dapat mempermudah guru dalam mengelola kelas serta mampu membantu peserta didik untuk belajar baik secara tatap muka maupun daring. (ump1/ida)

Guru Sejarah SMA Negeri 2 Slawi

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya