alexametrics

Memparafrasekan Puisi Repot? Ayo Mencoba Chain Word

Oleh : Ririn Setiyowati, S.Pd, SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Dalam muatan pembelajaran Bahasa Indonesia kelas enam semester gasal, terdapat kompetensi dasar mengubah teks puisi ke dalam teks prosa dengan tetap memerhatikan makna isi teks puisi. Kompetensi ini disebut juga parafrase. Indikator dari KD ini adalah siswa dapat menyusun paragraf dari puisi anak. Materi ini kurang diminati siswa karena banyak kesulitan dalam melaksanakannya. Di dalam puisi selalu menggunakan diksi tertentu agar tercipta keindahan bahasa, ataupun demi menyelaraskan sajak dari kalimat sebelumnya.

Sementara siswa belum sepenuhnya mempunyai wawasan ragam kosa kata puitis. Dan kesulitan yang dialami guru terletak pada alokasi waktu yang kurang memadai. Dari hambatan-hambatan di atas menyebabkan hasil belajar siswa pun belum memuaskan karena hasil belajar siswa saat penilaian harian masih di bawah KKM.

Di SD Negeri Cepagan 02 Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang, penulis memanfaatkan metode chain word untuk memparafrasekan puisi. Chain word disebut juga kata berkait. Penulis menggunakan metode ini dengan tujuan memudahkan siswa dalam mengubah diksi puisi menjadi kosa kata umum, sekaligus merangkai kata puisi menjadi kalimat utuh untuk menyusun paragraf prosa tanpa menghilangkan makna asli dari puisi.

Baca juga:  Mengenal Binatang Air melalui WhatsApp

Media yang penulis pilih sebagai sumber belajar adalah buku antologi puisi yang tersedia di perpustakaan sekolah. Dapat juga puisi dari majalah dwi mingguan Bobo yang tersaji di pojok baca ruang kelas.

Langkah-langkah metode chain word adalah sebagai berikut. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dengan jumlah anggota masing-masing kelompok tiga sampai empat orang. Sebaiknya memang jumlah anggota tidak terlalu banyak karena dapat mengurangi efektifitas dalam diskusi. Penegelompokan ini bertujuan memudahkan siswa dalam berpendapat tanpa rasa takut atau canggung.

Tahap selanjutnya anak membaca puisi dalam kelompoknya, mencatat kosa kata bermakna serta menuliskan sinonimnya. Karena dalam puisi selalu menggunakan diksi yang indah maka siswa dapat mencari padanan kata yang lebih umum dan mudah dipahami.

Baca juga:  Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa pada Materi Integral dengan Zoom Meeting

Setelah semua diksi diperoleh sinonimnya maka siswa mengembangkan kosa kata tersebut menjadi paragraf dengan metode chain word. Semisal, pada puisi yang berisi tentang polusi maka kaitan kata yang diperoleh adalah pencemaran, debu, asap, sesak, bising, tak nyaman dan lain-lain. Maka kata-kata ini dapat dikaitkan menjadi kalimat utuh dalam menyusun paragraf prosa.

Kalimat utuh yang dapat disusun dari kata-kata di atas adalah sebagai berikut. Dewasa ini pencemaran lingkungan sekitar kita tak dapat dihindari lagi. Debu jalanan terasa menyesakkan dada. Asap kendaraan bermotor selalu menyisakan emisi gas beracun yang membuat pernapasan kita terganggu. Belum lagi suara bising saat berbagai bebunyian kendaraan beradu. Kondisi yang merugikan kesehatan ini terasa tak nyaman.

Baca juga:  Membaca Puisi dengan Google Classroom

Tahap terakhir, siswa menuliskan parafrasenya di papan tulis beserta puisi pilihannya. Guru memberikan kesempatan kepada semua kelompok untuk mengapesiasi. Setiap siswa menempelkan bintang pada parafrase yang paling sesuai dengan puisinya. Kemudian guru memberikan penguatan materi dan mengkonfirmasi hasil diskusi parafrase siswa.

Melalui pemanfaatan metode chain word ini, memparafrasekan puisi dalam bentuk prosa tak lagi menjadi materi sulit. Minat siswa dalam kegiatan belajar pun meningkat dari pembelajaran serupa sebelumnya. Indikator minat siswa ini tampak pada kegiatan diskusi yang semuanya aktif berpendapat, juga antusias masing-masing grup untuk menjadi kelompok terbaik. Penilaian harian dari KD ini sangat memuaskan karena semua siswa berhasil melampaui kriteria ketuntasan minimal. (wa2/aro)

Guru SDN Cepagan 02, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya