alexametrics

Melatih Pembiasaan Anak dengan Mata Pelajaran PJOK di Sekolah Dasar

Oleh : Agus Budi Susanta, M.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Sekolah menurut Abullah (2011) berasal dari bahasa latin, yaitu skhole, scola, scolae atau skhola yang berarti waktu luang atau waktu senggang. Sekolah adalah kegiatan di waktu luang bagi anak-anak di tengah kegiatan mereka yang utama, yaitu bermain dan menghabiskan waktu menikmati masa anak-anak atau remaja.

Menurut KBBI pengertian sekolah yaitu salah satu bangunan atau lembaga yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan berbagai jenjang pendidikan. Dalam proses kegiatan belajar mengajar ini maka akan ada interaksi antara guru dan siswa dimana interaksi tersebut dikendalikan oleh seorang guru supaya proses pembelajaran bisa berjalan dengan baik dan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan selama ini proses pembelajaran di Sekolah Dasar (SD) yang menjadi favorit dari peserta didik adalah mata pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK). Apabila mata pelajaran tersebut tidak diajarkan karena kondisi cuaca, anak-anak akan kecewa. PJOK adalah suatu proses pembelajaran aktivitas jasmani yang didesain untuk meningkangtkan kebugaran jasmani, mengembangkan keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan aktif, dan sikap sportif, kecerdasan emosi (Wawan S. Suherman, 2004:23).

Baca juga:  Penanaman Konsep Perkalian pada Siswa Sekolah Dasar

Pembelajaran PJOK disukai oleh anak-anak dikarenakan pelajaran ini bisa dijadikan tempat untuk mengekspresikan dirinya seluas-luasnya bahkan apabila pelajaran dilakukan di lapangan anak berteriak sekeras-kerasnya.

Anak yang mempunyai temperamen keras dan pemarah juga bisa disalurkan melalui berbagai permainan. Dalam pembelajaran PJOK banyak model yang bisa guru gunakan untuk mengeksplor anak sehingga akan kelihatan karakternya.

Anak-anak sekarang berbeda dengan zaman 90-an ketika pada masa itu setiap guru memberikan perintah akan selalu dilakukan. Tetapi sekarang, karakter anak lebih terbentuk oleh media sosial yang kadang di luar kewajaran dan bahkan belum pada masanya anak untuk melakukannya.

Sehingga kadang kita sering menjumpai anak yang berani melawan gurunya baik dengan perkataan ataupun tindakan. Game online salah satu candu bagi anak-anak didik. Kita bisa melihat dan merasakan bagaimana anak sering marah atau teriak-teriak di kala sedang bermain game bahkan kata-kata kotor terlepas dari mulut mereka. Hal-hal seperti ini seharusnya menjadi perhatian yang serius bagi guru.

Baca juga:  Nilai Moral Romeo and Juliet sebagai Sumber Belajar Siswa

Dengan dijadikannya PJOK menjadi pelajaran yang favorit maka ini bisa menjadi bahan yang bisa guru gunakan untuk melatih pembiasaan yang baik untuk anak didik. Pembiasaan dalam keseharian itu sangat penting untuk membentuk karakter anak terutama di sekolah usia dini atau sekolah dasar.

Teori pembiasaan klasik (Pavlov, 1848-1936) untuk menimbulkan atau memunculkan reaksi yang diinginkan yang disebut respons, maka perlu adanya stimulus yang dilakukan secara berulang-ulang. Selaku pengajar PJOK bisa memberikan stimulus ini pada peserta didik dengan cara anak melakukan hal-hal kebaikan. Misalnya membersihkan kelas apabila kelas belum bersih maka pelajaran PJOK belum akan dimulai.

Hal ini penulis laksanakan di SDN Gulon 5 Salam. Dan kegiatan ini bisa berjalan dengan baik. Selain kegiatan tersebut juga membiasakan salat Dhuha sebelum pelajaran PJOK. Karena di SDN Gulon 5, 100 persen siswanya beragama Islam. Keberhasilan ini bisa kita lihat setiap ada pelajaran PJOK tanpa disuruh anak-anak sudah melakukan kegiatan tersebut dengan sendirinya dengan pantauan atau pengawasan dari guru.

Baca juga:  Pembelajaran Daring dengan Metode Jigsaw untuk Materi Perbandingan

Dari hal-hal kecil inilah kita harus membiasakan kegiatan yang positif untuk anak didik supaya bisa menjadikan kebiasan yang baik. Baik di lingkungan sekolah, masyarakat atau di lingkungan keluarga. Tanpa kita sadari dari kegiatan yang dianggap kecil ini, akan menjadikan kesan tersendiri bagi peserta didik apabila sudah dewasa. Atau bahkan sudah menjadi orang tua bagi anak-anaknya. (mj/lis)

Guru SDN Gulon 5 Salam, Kabupaten Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya