alexametrics

Tingkatkan Keterampilan Berbicara melalui Kegiatan Penerapan Anakes

Oleh : Desi Puspitasari, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pembelajaran bahasa Jawa meliputi empat keterampilan. Yaitu keterampilan mendengarkan, membaca, menulis, dan berbicara. Namun secara umum, kita dapat mengetahui seseorang mampu berbahasa apabila ia menguasai keterampilan berbahasa. Pada pembelajaran bahasa Jawa keterampilan berbicara harus memperhatikan unggah-ungguh basa apabila berbicara dengan orang lain. Pada era globalisasi, penguasaan bahasa Jawa oleh generasi muda sangat memprihatinkan. Kebanyakan mereka tidak memperhatikan unggah-ungguh basa ketika berkomunikasi dengan orang lain, apalagi dengan orang yang lebih tua.

Bahasa merupakan alat komunikasi dalam pergaulan sehari-hari. Ketika seseorang berbicara, selain memperhatikan kaidah-kaidah tata bahasa, juga masih harus memperhatikan sopan santun dalam berbicara yaitu memperhatikan siapa orang yang diajak bicara dan siapa yang dibicarakan. Berbicara kepada orang tua berbeda dengan berbicara pada anak kecil atau yang seumur.

Dalam bahasa Jawa, hal itu disebut unggah-ungguh basa. Unggah-ungguh basa pada dasarnya dibagi menjadi tiga. Yaitu Basa Ngoko, Basa Madya, Basa Krama (Anton Suhono dalam Aryo Bimo, 2010: 1).

Baca juga:  Polres Magelang Gencarkan Vaksinasi Lansia

Pembelajaran bahasa Jawa melalui pendidikan formal di sekolah merupakan sarana pelestarian bahasa Jawa, khususnya dalam berbicara (berdialog) bahasa Jawa sesuai dengan unggah-ungguh basa. Keberhasilan pembelajaran ini akan menentukan eksistensi bahasa Jawa di masa depan.

Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah memuat muatan lokal yaitu bahasa Jawa. Hal ini dimaksudkan agar siswa Sekolah Dasar dan Menengah dapat menguasai bahasa Jawa dengan baik termasuk di dalamnya adalah berdialog sesuai dengan unggah-ungguh basa.
Pengajaran bahasa Jawa khususnya keterampilan berbicara (berdialog sesuai dengan unggah-ungguh basa) masih mengalami kesulitan. Hal ini dapat diketahui dari hasil belajar siswa dalam pembelajaran ini masih rendah serta bahasa yang digunakan oleh siswa dalam berinteraksi dengan siswa lain, guru, kepala sekolah, serta warga sekolah yang lain.

Baca juga:  Tingkatkan Keterampilan Berbicara Peserta Didik dengan Bermain Peran

Kegiatan berkomunikasi di dalam maupun luar jam sekolah juga mereka lakukan tanpa menggunakan bahasa Jawa sesuai unggah-ungguh basa. Setiap ditanya dengan bahasa Jawa, banyak siswa menjawab dengan bahasa Jawa yang belum sesuai unggah-ungguh basa.
Pembelajaran bahasa Jawa pada aspek keterampilan berbicara bahasa Jawa sesuai dengan unggah-ungguh masih belum optimal. Perlu sekali proses pembelajaran ditingkatkan kualitasnya, agar siswa tersebut terampil berbicara (berdialog sesuai dengan unggah-ungguh), sebagai upaya meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Jawa.

Salah satu cara untuk meningkatkan keterampilan berbicara (berdialog sesuai dengan unggah-unguh basa) dengan melalui kegiatan penerapan anakes (analisis kesalahan berbahasa). Kesalahan berbahasa di dalam pembelajaran bahasa merupakan suatu hal yang tidak bisa dihindari. Bahkan Tarigan (1990:67) mengatakan hubungan keduanya ibarat air dengan ikan. Sebagaimana ikan hanya dapat hidup dan berada di dalam air, begitu juga kesalahan berbahasa sering terjadi dalam pembelajaran bahasa.

Baca juga:  Sanksi Edukatif Dapat Mendisiplinkan Siswa yang Indisipliner

Analisis kesalahan berbahasa adalah salah satu cara kerja untuk menganalisis kesalahan manusia dalam berbahasa. Penggunaan bahasa sehari-hari tentu tidak luput dari kesalahan. Dan kesalahan tersebut bervariasi. Melalui analisis kesalahan berbahasa, dapat dijelaskan bentuk kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh siswa baik secara morfologis, fonologis, dan sintaksis yang kemudian memberikan manfaat tertentu bagi proses pengajaran bahasa.

Hal ini menjadi sangat menarik ketika dalam proses pengajaran bahasa dilakukan analisis kesalahan untuk menjadi umpan balik sebagai titik tolak perbaikan dalam pengajaran bahasa untuk mencegah dan mengurangi terjadinya kesalahan berbahasa yang dilakukan siswa. (gr/lis)

Guru Bahasa Jawa SMPN 1 Grabag, Kabupaten Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya