alexametrics

Tingkatkan Hasil Belajar Matematika melalui Trial and Error

Oleh : Solikhah S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, DI era menuju 5.0 ini orang semakin mencari cara mengajar dengan cepat dan tepat serta menyenangkan dengan teknik mengajar yang didesain dengan bantuan video pembelajaran. Dengan adanya kemajuan IPTEK ini menuntut adanya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan bersaing. Peningkatan kualitas SDM menjadi syarat vital demi tercapainya tujuan pembangunan yang salah satunya adalah dalam bidang pendidikan.

Mengajar matematika bagi guru merupakan tantangan tersendiri. Pasalnya ada beberapa orang menganggap matematika merupakan momok yang menakutkan. Bahkan saat ingin memulai KBM saja sudah dihantui dengan berbagai alasan yang bisa mengakibatkan otak kita menjadi terkotak-kotak bahwa matematika adalah SULIT (susah dan berbelit-belit). Sebagai guru dalam hal ini pandai-pandailah dalam meramu suatu metode dan teknik yang digunakan. Tidak hanya satu metode yang digunakan, namun berbagai metode dan teknik yang bisa digunakan sehingga mencapai hasil belajar yang diinginkan.

Baca juga:  Pahami Makna Proklamasi Kemerdekaan dengan Metode Role Playing

Aktivitas coba-coba untuk belajar diteliti dengan seksama oleh ahli psikologi Amerika Serikat Edward L Thorndike. Proses belajar dengan coba-coba disebut juga trial and error. Belajar melalui trial and error menuntut kesabaran karena berlangsung secara bertahap. Sebelum seseorang berhasil maka seringkali dihadapkan pada kesalahan-kesalahan. Secara bertahap kita akan mengetahui bagaimana cara menyelesaikan masalah dengan cara terbaik dan tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan.

Dari permasalahan tersebut, maka sebagai guru kelas V SD Negeri 5 Gempolsewu, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal, menggunakan metode trial and error untuk meningkatkan hasil belajar matematika yang lebih menekankan kepada suatu metode belajar mencoba dan terus berusaha sampai bisa. Satu metode digunakan dan belum mendapatkan hasil yang diinginkan, maka bisa mencoba dengan metode lain yang dirasa tepat sehingga siswa mampu menerima materi dengan sempurna.

Baca juga:  Permudah Menyusun Karya Ilmiah dengan Bimbingan Face to Face

Satu metode misalnya metode gasing atau lebih tepatnya melanjutkan materi yang berhubungan dengan materi sebelumnya. Apabila metode ini terdapat 60 persen dari siswa yang mampu menyerap materi, maka bisa digunakan metode lain. Misalnya metode Kumon bisa digunakan untuk melengkapi penyampaian materi yang belum sepenuhnya diserap oleh siswa. Yaitu memberikan tugas kepada siswa disesuaikan dengan tahap pemahaman siswa tersebut, sehingga mampu mengoptimalkan pengetahuan siswa tersebut dengan tidak meninggalkan siswa yang kurang dalam memahami suatu materi.

Kesimpulannya bahwa tidak semua siswa memiliki daya serap materi secara yang sama, namun guru bisa mengetahui mana siswa yang cepat paham dan siswa yang lambat paham. Pemberian tugas kepada siswa lebih ditekankan pada tingkat kemampuan daya serap siswa tersebut. Setelah beberapa waktu menggunakan metode-metode yang relevan dengan pembelajaran Matematika didapat hasil yang memuaskan. Siswa secara bertahap mampu mengenal, mengolah, dan menganilisis suatu permasalahan dan sehingga mampu menemukan pemecahan masalah, meski dengan cara pemecahan masalah yang berbeda namun didapat hasil yang sama. Ada yang memakai cara cepat ada pula yang memakai cara lambat namun guru bisa menyamakan persepsi kepada siswa secara bertahap.

Baca juga:  Meningkatkan Hasil Belajar IPS dengan Pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples

Tantangan seperti ini memang harus dilakukan oleh seorang guru yang profesional, meskipun bekerja lebih ekstra untuk memahamkan suatu konsep kepada siswa agar semua siswa memiliki pengetahuan yang sama tentang suatu konsep dengan hasil yang memuaskan. (kd/ida)

Guru SDN 5 Gempolsewu, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya