alexametrics

Meningkatkan Keterampilan Motorik Siswa melalui Penugasan Proyek Sederhana

Oleh: Marzukhoh, S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PEMBELAJARAN, motorik diartikan sebagai suatu proses belajar yang menggunakan berbagai keahlian fisik seorang anak dalam bentuk gerakan dan penghalusan kemampuan motorik, serta variabel yang mendukung atau menghambat kemahiran maupun keahlian motorik (Richard Decaprio, 2013:16). Pembelajaran motorik di sekolah berkaitan erat dengan kompetensi keterampilan. Dalam perkembangan dunia pendidikan saat ini, tidak hanya kompetensi pengetahuan saja yang dilatihkan kepada siswa, tetapi keterampilan siswa justru menjadi hal pokok yang musti dilatihkan kepada siswa secara berkala dan berkesinambungan.

Pembelajaran IPA kelas II SD Negeri Kecandran 01 Salatiga dalam pembelajaran terbatas masa pandemi ini, guru merancang pembelajaran dengan melatih motorik dan keterampilan siswa dengan penugasan proyek sederhana. Pembelajaran Tema 2 tentang Kebunku, bertujuan untuk: mengenalkan tumbuhan pada siswa, mengenal pertumbuhan tumbuhan, dan melakukan pengamatan bagian-bagian tumbuhan. Pada awal pertemuan, guru mengenalkan tumbuhan dengan cara membawa media berbagai tumbuhan, baik dari kelompok dikotil maupun monokotil. Hanya saja, dalam hal ini, guru belum mengenalkan istilah monokotil dan dikotil.

Baca juga:  Pemanfaatan Google Workspace for Education dalam Pembelajaran Bimbingan TIK

Berbagai tumbuhan yang ada disekitar sekolah dapat dijadikan sebagai media ajar. Pada saat siswa datang kesekolah untuk tatap muka, guru membawa siswa ke lingkungan sekolah untuk menunjukkan berbagai tumbuhan. Guru memberi kesempatan siswa untuk mengamati dan bertanya. Ada beberapa siswa yang bertanya tentang bagaimana tumbuhan itu bisa tumbuh menjadi besar? Mengapa ada tumbuhan yang berbunga dan ada yang tidak? Mengapa bentuk daun bermacam-macam? Pertanyaan-pertanyaan siswa ini tidak seketika dijawab guru.

Guru meminta siswa untuk mencatat semua pertanyan tersebut. Pembelajaran dilanjutkan didalam kelas dengan menayangkan video tentang tumbuhan dan proses pertumbuhannya. Guru kembali memberikan kesempatan mengamati video dan bertanya. Pertanyaan dicatat kembali dalam buku catatan setiap siswa. Diakhir pembelajaran, guru memberikan tugas kepada siswa untuk menyiapkan biji kacang hijau, kacang tanah, gelas plastik bekas air mineral, dan kapas. Alat dan bahan tersebut dibawa pada pertemuan selanjutnya.

Baca juga:  Pembelajaran Blended Learning sebagai Solusi Daring

Pada pertemuan selanjutnya, guru kembali membawa siswa keluar kelas untuk melakukan penanaman biji. guru memberikan contoh bagaimana cara menyiapkan bahan dan meletakkan biji pada media tanam kapas. Siswa melakukan kegiatan ini secara individual. Guru mengamati satu persatu siswa yang sedang melakukan kegiatan tersebut dan melakukan penilaian keterampilan. Dalam proses ini, ada 3 siswa yang terlihat kaku dan bingung pada saat harus menggunting gelas plastik dan juga meletakkan biji.

Guru membantu dengancara memberi contoh kembali didepan ketiga siswa tersebut, kemudia siswa mengulang kembali sehingga mereka menjadi mampu menggunting dan meletakkan biji. proses ini dicatat dengan baik oleh guru. Semua gelas diletakkan ditempat yng sudah disediakan guru, yaitu disamping kelas yang tidak terkena matahari langsung. Guru memberi tugas kepada siswa untuk melakukan pengamatan setiap hari, jika kapas kering harus ditambahkan air secukupnya.

Baca juga:  Team Assisted Individual, Strategi Mengenal Ciri-ciri Masyarakat Modern

Setelah biji tumbuh menjadi tumbuhan kecil dan pada ketinggian 10 cm, siswa diminta mencabut dan diamati bersama-sama didalam kelas. Setiap siswa diminta untuk menyebutkan nama-nama bagian tumbuhan yang terlihat, kemudian siswa diminta untuk menggambarnya didalam buku catatan. Pada saat siswa menjelaskan bagian-bagian tumbuhan sambil membawa tumbuhan yang mereka tanam, siswa terlihat gembira dan cara menyebutkan bagian-bagian tumbuhan tersebut terlihat percaya diri.

Hanya ada 2 siswa yang masih terlihat takut berbicara didepan kelas, tetapi teman-temanny justru memberikan semangat dan membantu. Proses pembelajaran dengan mengasah keterampilan motorik ini ternyata membawa dampak positif bagi siswa baik dalam segi pengetahuan, keterampilan, serta psikologis. Walaupun pembelajaran dilakukan dengan penugasan proyek yang sederhana, tetapi karena siswa melakukan semuanya sendiri, guru juga memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan masing-masing, maka perubahan keterampilan dan hasil belajar meningkat secara signifikan. (ump2/zal)

Guru SDN Kecandran 01 Salatiga

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya