alexametrics

Kepedulian Orang Tua terhadap Anak di Masa Pandemi

Oleh: Dwi Purwantiningsih, S.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Seiring berjalannya waktu pembelajaran di waktu Pandemi selama dua tahun ini, muncul permasalahan-permasalahan yang dialami oleh siswa, orangtua, dan guru di sekolah dan di rumah. Metode pembelajaran yang belum sepenuhnya normal membutuhkan variasi pembelajaran antara tatap muka secara alami ,maupun secara daring penuh serta kombinasi antara keduanya.

Di sinilah orang tua dituntut perannya yang aktif terhadap pelaksanaan pembelajaran baik secara daring maupun tatap muka ataupun kombinasi antara keduanya.

Peran orang tua sangat penting dalam rangka memantau kondisi siswa,terutama saat berlangsungnya pelaksanaan pembelajaran di rumah. Mereka tidak hanya memantau dari luar siswa artinya hanya sekilas bertanya apakah tugas-tugas sudah dikerjakan siswa, tetapi harus lebih intensif lagi karena harus tahu sampai sebatas mana tugas telah dikerjakan dan kegiatan apa saja yang telah dilakukan putra-putrinya dengan alat bantu komunikasi HP yang dimilikinya.

Ketika orang tua mengalami masalah gaptek terhadap teknologi dan tidak mempunyai kepedulian terhadap apa isi dari HP yang dipegang anak, maka permasalahan itu akan muncul. Hal tersebut dialami oleh banyak orang tua di desa, di mana orang tua tidak paham mengoperasikan HP dan tidak mau melakukan hubungan yang baik/dekat dengan anak.

Baca juga:  Tingkatkan Kemampuan Siswa Menyanyikan Lagu Misa Berbantuan Video

Akibatnya anak tidak percaya pada orang tua karena merasa orang tua tidak paham terhadap apa yang dilakukan anak. Anak tidak terbuka ketika terjadi masalah dengan teman atau orang lain.

Peran guru atau wali kelas, guru BK, dan pihak-pihak lain yang terkait dengan dunia pendidikan diperlukan secara aktif guna menyampaikan informasi tentang kemajuan teknologi, terutama penggunaan HP dan dampak negatifnya agar orang tua yang gaptek tidak mengalami shock ketika muncul masalah pada anaknya.

Contoh permasalahan yang selama ini muncul di sekolah sebagai berikut; bermain game online sehingga menghabiskan kuota dan orang tua merasa keberatan membelikan kuota karena mengira itu dibutuhkan di sekolah, menjalin komunikasi menggunakan media WA dengan teman lawan jenis sehingga menghabiskan waktu belajar dan orang tua menganggap anaknya masih belajar padahal masih chatting-an dengan teman maupun dalam grup tentang hal-hal yang tidak bermanfaat, menjalin hubungan khusus dengan lawan jenis baik dengan teman sekolahnya maupun teman lain yang dikenal lewat media Facebook, Instagram, maupun Twitter, dan media lain.

Baca juga:  Psikomotor dalam Bioteknologi Konvensional

Masalah yang sering dialami siswa selama penulis menjadi pembimbing di sekolah terutama adalah siswa yang sering tidak mau mengerjakan tugas secara daring dengan alasan HP rusak, HP tidak support, malas membuka Google Classroom, tidak masuk GCR dan terlalu lama main game sehingga mata dan pikiran sudah lelah ketika mau mengerjakan tugas.

Solusi terhadap permasalahan tersebut diatas yang telah dilakukan adalah selalu menjalin komunikasi dengan orang tua dengan memasukkan no HP orang tua dalam grup sendiri. Pihak sekolah terutama guru/wali kelas bisa berkomunikasi secara daring dan menghadirkan orang tua ke sekolah ketika putra-putrinya dalam tiap semester belum memenuhi tugas dengan standar minimal yang dibutuhkan sebagai syarat mengikuti Tes Akhir Semester.

Penyelesaian tugas dilakukan baik secara daring maupun offline bagi siswa yang memiliki HP tidak bisa support terhadap tugas secara daring. Untuk permalahan khusus berkaitan dengan hubungan lawan jenis tentu dibutuhkan penanganan khusus baik dari orang tua maupun wali kelas, guru BK, dan kesiswaan. Ketika menemukan di HP siswa ada sesuatu yang mencurigakan maka kesiswaan akan menelusuri masalah yang terjadi dan mengklarifikasi dengan siswa yang bersangkutan serta penanganan secara intensif akan dilakukan.

Baca juga:  Daring (Meguru Karo Wong Nom)

Komunikasi secara terbuka dengan orang tua tentang keadaan anak, terutama dalam mengfungsikan HP tidak pada tempatnya harus diluruskan oleh pihak sekolah sehingga orang tua dan anak bisa saling terbuka dan percaya. Jangan sampai pada diri siswa muncul rasa tidak percaya lagi kepada orang tua maupun guru.

Konseling khusus untuk siswa perlu dilakukan agar siswa menyadari kesalahan yang dilakukan dan bisa memperbaiki kesalahannya dengan penuh kesadaran dan pemahaman diri yang benar yang tentu saja dengan didampingi oleh orang tua. (wa2/ton)

Guru SMP Negeri 1 Warungasem

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya