alexametrics

Discovery Learning Tingkatkan Hasil Belajar Tematik

Oleh: Titin Sumarni, S.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Sebagaimana yang tertera dalam Undang-undang RI No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Depdiknas: 2003 ) bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Mengacu pada pembelajaran sebagai suatu proses pengalaman melihat, mengamati, mengalami, dan memahami suatu yang dipelajari untuk memperoleh hasil yang telah ditentukan melalui pembinaan, pemberian, penjelasan, pemberian bantuan, dan dorongan motovasi dari pendidik maka peran guru merujuk pada kegiatan pembelajaran tersebut adalah dapat melakukan kegiatan pembelajaran yang mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor secara lebih bermakna bagi kehidupan sehari-hari peserta didik. Dengan demikian, pendidikan itu tidak boleh lagi tematik sebagai suatu proses yang terlihat pada waktu dan ruang tertentu saja. Pendidikan harus tematik sebagai suatu proses yang berkelanjutan, mulai dari usia anak kecil sampai pada usia dewasa.

Baca juga:  Asyiknya Belajar Aksara Jawa dengan Model Scramble

Dari hasil observasi pada pembelajaran tema 3 subtema 2 pembelajaran 3 di kelas VI SD Negeri Pudakpayung 02 didapatkan fakta bahwa hasil belajar siswa di kelas tersebut masih sangat rendah. Hasil belajar yang diperoleh selama tes kurang memuaskan, bahkan di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM). Dari 26 siswa kelas VI SD Negeri Pudakpayung 02 diperoleh jumlah siswa yang memenuhi KKM sebanyak 42 persen (11 orang siswa), sedangkan siswa yang masih di bawah KKM 58 persen (15 orang siswa).

Berdasarkan permasalahan tersebut, maka salah satu model yang dapat digunakan untuk menciptakan suasana belajar yang aktif, dapat memecahkan masalah dalam proses pembelajaran yaitu model pembelajaran discovery learning. Karena model pembelajaran discovey learning adalah memahami konsep, arti, dan hubungan melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan.

Baca juga:  Media Audio Visual yang Mengasyikkan bagi Siswa

Sedangkan pelaksanaan model discovey learning melalui tahapan berikut: 1)Pemberian rangsangan (stimulation). 2) Pernyataan/Identifikasi masalah (problem statement). 3) Pengumpulan data (data collection). 4) Pengolahan data (data processing). 5) Pengolahan data (data processing). 6) Menarik simpulan/generalisasi (generalization). Beberapa kelebihan penerapan discovery learning dalam pembelajaran adalah 1)Dalam penyampaian bahan discovery, digunakan kegiatan dan pengalaman langsung. 2) Dalam discovery lebih realistis dan mempunyai makna. Sebab, para anak didik dapat bekerja langsung dengan contoh-contoh nyata. 3) Discovery banyak memberikan kesempatan bagi para anak didik untuk terlibat langsung dalam kegiatan belajar mengajar.

Kegiatan demikian akan banyak membangkitkan motivasi belajar. Karena disesuaikan dengan minat dan kebutuhan mereka sendiri. Sedangkan kelemahan discovey learning membutuhkan waktu yang lama untuk membantu peserta didik dalam menemukan teori atau pemecahan masalah lainnya. Dengan menerapkan model pembelajaran discovey learning diharapkan peserta didik lebih aktif, senang mengikuti pembelajaran, dan lebih mandiri dalam menemukan konsep yang dipelajari, yaitu pembelajaran tematik tema 3 sub tema 2 pembelajaran 3 yang mengandung muatan pelajaran IPA materi listrik dan Bahasa Indonesia materi teks eksplanasi.

Baca juga:  Memahami Makna Bersatu dalam Keberagaman dengan Pembelajaran Kontekstual

Dari hasil perbaikan pembelajaran yang telah dilaksanakan di kelas VI SD Negeri Pudakpayung 02 Semarang, pada pembelajaran materi tema 3 subtema 2 pembelajaran 3 dengan penerapan model discovey learning , maka diperoleh hasil belajar berupa nilai rata-rata kelas yang pada kondisi awal hanya sebesar 66, kemudian meningkat menjadi 88. Sedangkan persentase ketuntasan belajar yang pada kondisi awal hanya sebesar 42 persen, lalu meningkat menjadi 100 persen. Dengan pencapaian tersebut, maka disimpulkan bahwa penerapan model discovey learning dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik pada pelaksanaan pembelajaran tematik di Kelas VI SD Negeri Pudakpayung 02 Semarang. (ump1/aro)

Guru SD Negeri Pudakpayung 02 Banyumanik Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya