alexametrics

Pengenalan Zat Adiktif dan Dampaknya melalui Media Sosial

Oleh: Ratih Widyarni, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, GENERASI muda milenial menjadi sasaran berbagai konten pemberitaan di banyaknya platform media elektronik. Meniru adalah budaya latah bagi sebagian besar anak muda kekinian. Pemuda di berbagai daerah rentan berada pada lingkungan yang bisa membawanya pada pengaruh negatif.

Bijak dalam menggunakan media sosial adalah sikap yang harus dikedepankan oleh pelajar dalam memilih konten yang bermanfaat, terutama yang dapat menunjang dalam hal pembelajaran. Proses kegiatan belajar akibat badai pandemi Covid-19 memaksa guru kreatif dalam menyampaikan materi melalui berbagai aplikasi belajar yang menyenangkan.

Guru memilih menggunakan media sosial karena dianggap mampu memfasilitasi penggunanya untuk saling berkomunikasi atau membagikan konten berupa tulisan, foto, maupun video. Banyaknya media sosial yang ada dapat dipilih oleh peserta didik dalam menyelesaikan tugasnya. Peran guru yang awalnya merupakan pemberi pengetahuan, kini berubah menjadi pihak yang memfasilitasi pembagian pengetahuan karena informasi dan ilmu yang didapat oleh peserta didik tidak lagi hanya didapat dari guru saja (Rasmita Kalasi, 2014).

Baca juga:  Alat Peraga Sederhana, Efisien dalam Pembelajaran Trim Kapal

Maraknya penggunaan narkoba dan sejenisnya menjadi alasan tersendiri bagi guru dalam mengangkat topik ini menjadi sebuah konten belajar agar generasi muda mengetahui resiko penggunaan bahan tersebut pada jangka panjang.

Jenis zat adiktif dan dampaknya merupakan salah satu materi pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam kelas delapan semester satu. Zat adiktif merupakan zat yang dapat menyebabkan ketergantungan apabila dikonsumsi secara terus menerus. Pembelajaran diawali dengan pembentukan kelompok pada kelas secara acak. Selanjutnya peserta didik mengambil pilihan materi melalui undian yang disediakan guru. Beberapa materi yang ada meliputi narkotika, psikotropika, zat psiko-aktif lainnya, dan dampak penggunaan masing-masing ketiga jenis zat adiktif tersebut.

Baca juga:  Masukkan Pil Koplo dalam Tahu Goreng

Setelahnya peserta didik memilih media sosial yang akan digunakan untuk membagikan konten yang telah dia buat. Sebelum diunggah masing-masing kelompok telah mempresentasikan hasil karyanya baik berupa tayangan power point maupun rangkaian materi yang disusun dalam bentuk video. Materi yang disampaikan berupa tambahan gambar-gambar sebagai penjelas.

Karya yang ditayangkan dan mendapat respon terbanyak akan mendapat nilai tambah dari guru pembimbing. Sehingga dituntut kreatifitas siswa untuk membuat materi yang menarik. Penilaian juga dilakukan oleh peserta didik dalam tiap kelompok dengan menyertakan kelebihan dan kekurangan tayangan sebagai bahan perbaikan selanjutnya.

Pembelajaran dengan media sosial di SMPN 5 Batang ini terbukti meningkatkan minat belajar peserta didik pada materi jenis zat adiktif dan dampaknya. Manfaat lainnya peserta didik belajar untuk membuat konten yang positif yang bisa dinikmati oleh orang lain secara luas dengan penuh tanggung jawab. Hal ini akan memberi motivasi bagi pelajar lainnya untuk menjadikan media sosial sebagai sarana belajar dimasa pembelajaran daring. (bat1/zal)

Baca juga:  Mudah Pahami Materi Mutasi dengan Kartu bergambar

Guru SMPN 5 Batang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya