alexametrics

Renovasi Pembelajaran 4C Berwawasan Literasi Digital

Oleh : Dra. Eva Ratihwulan, M.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Indonesia telah mencanangkan Gerakan Literasi Nasional dengan maksud untuk melakukan percepatan terbangunnya budaya literasi Indonesia yang saat ini ditengarai masih rendah. Hasil survei Central Connecticut State University (2016) menunjukkan bahwa Indonesia ada di urutan 60 dari 61 negara skor PISA dalam hal membaca, dan di urutan 64 dari 72 negara skor INAP masih dikategorikan kurang.

Artinya belum ada ketercapaian minimal yang menggambarkan bahwa indeks baca masyarakat Indonesia belum ada perkembangan dibandingkan negara lain. Seiring dengan itu kehidupan global mengharapkan semua negara memiliki komponen “information literacy”. Asumsinya perlu dibangun lima pilar literasi untuk meningkatkan minat baca. Lima hal tersebut meliputi literasi dasar,literasi perpustakaan, literasi teknologi, literasi media, dan literasi visual (Hartati, 2016).

Hasil kemajuan teknologi dan informatika telah membuka wawasan masyarakat dengan memanfaatkan produk elektronika di antaranya gawai dan sejenisnya. Fasilitas aplikasi android yang tersedia memungkinkan memaksimalkan literasi digital untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Literasi digital menurut Gilster (2007) sebagai kemampuan untuk memahami informasi dengan berbagai format. Tidak sekadar kemampuan mengoperasikan benda elektronik tersebut, tetapi lebih utama cakupan penguasaan ide-ide. Akan terjadi proses berpikir kritis manakala siswa berhadapan dengan media digital daripada kompetensi teknis sebagai keterampilan inti dalam literasi digital.

Baca juga:  Model Outdoor Study Mudahkan Siswa Buat Puisi Sederhana

Di balik kemajuan teknologi, kita jumpai rendahnya keterampilan 4C (communication, collaboration, critical thinking and problem solving, serta creative and innovative) antarguru yang perlu segera dicari solusinya. Salah satu upaya meningkatkan 4C tersebut dengan penerapan literasi digital dalam pembelajaran. Di era pandemi Covid-19 guru “dipaksa” melakukan pembelajaran secara daring dengan mengandalkan teknologi. Tidak menutup kemungkinan pascapandemi literasi digital ini terus digunakan sebagai bentuk renovasi pembelajaran saat siswa belajar di rumah.

Penerapan literasi digital guru dapat mengawali dengan pemanfaatan media sosial YouTube, presentasi membuat video pembelajaran, multimedia pembelajaran interaktif, pemanfaatan akun belajar.id dan g-suites. Selanjutnya diskusi dan kolaborasi tentang literasi digital yang diterapkan dalam pembelajaran. Tentu saja arahnya juga untuk meningkatkan 4C.

Baca juga:  Teknik Podomoro, Belajar Keseimbangan Ekosistem saat Pandemi Jadi Asyik

Di sekolah, literasi digital ini dapat diterapkan ke semua mata pelajaran. Misalnya ada pelajaran yang menuntut siswa menguasai keterampilan menyimak, membaca, dan menulis dapat dilakukan menggunakan media digital komputer, internet maupun telepon pintar. Penerapan lain, guru mengajak siswa membedakan berita bohong dengan berita benar yang tersebar di media sosial maupun internet.

Siswa juga diberitahu tentang alamat situs yang bermanfaat untuk pembelajaran dan penggunaannya. Guru dalam memanfaatkan media digital dapat menyampaikan nilai-nilai universal kepada peserta didik. Guru perlu menjelaskan kebebasan berekspresi, privasi, keberagaman budaya, hak intelektual, nilai-nilai Pancasila, sopan santun bermedia maupun bertutur dan sebagainya.

Siswa akan paham jika media digital ini diibaratkan dengan dua sisi mata uang. Ada sisi kebebasan informasi dan sisi pelanggaran privasi. Kedua sisi tersebut harus dipahami dan digunakan dalam batas tertentu agar tidak merugikan diri sendiri dan pihak lain.
Keterampilan berpikir kritis atau lebih tinggi (HOTS) perlu dipersiapkan dalam menghadapi tantangan global.

Baca juga:  Disiplin, Perlukah?

Keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah dalam proses pembelajaran antara lain dengan memahami interkoneksi antara satu konsep dengan konsep lain dalam mata pelajaran; menggunakan beberapa macam tipe penalaran, pemikiran maupun alasan baik secara induktif maupun deduktif sesuai situasi; mengolah dan menginterpretasi informasi lewat analisis; melakukan penilaian, mengolah data dan menggunakan argumentasi; menggunakan kemampuan untuk menyelesaikan masalah; mencari solusi baik secara umum maupun untuk diri sendiri.

Melakukan perubahan paradigma mengajar untuk meningkatkan kemampuan 4C yang berwawasan literasi digital akan berujung pada ketercapaian pembelajaran yang sesuai harapan. Guru dapat membuat siswa merasa lebih baik dalam belajar berbantuan e-text dan e-library. Siswa akan ekstensif dan intensif menggunakan IT, mudah mengadopsi strategi pembelajaran dengan alat teknologi. Penyelesaian tugas pun menjadi lebih efektif berbantuan perangkat lunak. Dengan demikian pemanfaatan literasi digital harapannya membawa pengaruh positif terhadap performa akademik. (lm/ton)

Guru Bahasa Indonesia SMA Negeri 5 Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya