alexametrics

Project Based Learning Mudahkan Siswa Pahami Permasalahan Sosial

Oleh: Rini Pujiarti, S.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PPKn merupakan salah satu muatan pelajaran yang sering menimbulkan kebosanan pada siswa. Sama halnya dengan muatan pelajaran yang serupa, yaitu IPS. Kedua muatan pelajaran tersebut kurang mendapat respon yang baik dari siswa. Ada beberapa alasan tentunya. Salah satu alasan utamanya yaitu karena kedua muatan pelajaran itu lebih banyak hafalan. Sebagian besar siswa kurang tertarik dan memiliki kecenderungan malas mengikuti. Hampir sebagian besar kompetensi dasar dalam muatan pelajaran PPKn dan IPS tidak menarik perhatian siswa.

Kondisi demikian tentu tidak boleh dibiarkan oleh wali kelasnya. Guru harus membuat suatu scenario pembelajaran yang dapat mengubah mindset siswa terhadap paradigma tersebut. Guru juga tidak bisa menyalahkan siswa atas kondisi siswa di kelasnya karena berhasil atau tidaknya suatu pembelajaran tergantung bagaimana guru merancang pembelajaran.

Pada materi Permasalahan Sosial yang Ada di Sekitar Kita Akibat Kurangnya Sikap Tanggung Jawab, guru SDN 7 Jebed Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang memilih model pembelajaran kooperatif tipe Project Based Learning. Saefudin (2014:58) berpendapat bahwa project based learning merupakan metode belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata.

Baca juga:  Upaya Guru dalam Mengembangkan Kemandirian Anak Usia Dini

Ada beberapa langkah pada penerapan project based learning, antara lain: memulai dengan sebuah pertanyaan. Pertanyaan harus mengandung permasalahan yang harus dipecahkan dan menghasilkan sebuah penemuan atau produk, membuat suatu perencanaan. Perencanaan dilakukan oleh guru dengan siswa dengan berkolaborasi. Perencanaan meliputi: aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan mendasar dengan mengintegrasikan berbagai subjek yang mendukung, serta menginformasikan alat dan bahan yang dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan proyek.

Menyusun jadwal aktivitas, mengawasi proses pengerjaan proyek, Memberikan penilaian terhadap produk yang dihasilkan. Penilaian di lakukan untuk membantu siswa dalam mengukur ketercapaian standar pada proses dan produk yang dihasilkan, Melakukan evaluasi. Pada akhir proses pembelajaran, guru dan siswa melakukan refleksi terhadap kegiatan yang telah dilakukan, baik secara individu maupun kelompok.

Baca juga:  Asiknya Belajar Bela Negara dengan Picture and Picture

Menurut Daryanto dan Rahardjo (2012:162) model PBL memiliki beberapa kelebihan, anara lain: meningkatkan motivasi belajar peserta didik untuk belajar, mendorong kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan penting, dan mereka perlu untuk dihargai, meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, membuat peserta didik menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problem-problem kompleks, meningkatkan kolaborasi, mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan komunikasi, meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengelola sumber, memberikan pengalaman kepada peserta didik pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek, dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas, menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan peserta didik secara kompleks dan dirancang untuk berkembang sesuai dengan dunia nyata, membuat suasana belajar menjadi menyenangkan, sehingga peserta didik maupun pendidik menikmati proses pembelajaran.

Baca juga:  Belajar Pecahan Sederhana dengan Metode Demonstrasi

Sedangkan kelemahan PBL adalah sebagai berikut: Memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan permasalahan yang kompleks, Banyak orang tua peserta didik yang merasa dirugikan karena menambah biaya untuk memasuki sistem baru, Banyak guru merasa nyaman dengan kelas tradisional, Banyaknya peralatan yang harus disediakan. Peserta didik memiliki kelemahan dalam percobaan dan pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan, Ada kemungkinan peserta didik yang kurang aktif dalam kerja kelompok, Apabila topik yang diberikan pada masing masing kelompok berbeda, dikhawatirkan peserta didik tidak memahami topik secara keseluruhan.

Meskipun ada beberapa kelemahan yang dimiliki, tetapi model pembelajaran PBL ini memberikan pengalaman baru bagi siswa dan interaksi dengan guru menjadi lebih hidup. Selain itu, siswa memahami materi tidak hanya berupa hafalan melainkan mengalami dan menyelesaikan permasalahan sendiri dengan bimbingan guru. (ump2/zal)

Guru SDN 07 Jebed, Pemalang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya