alexametrics

Pentingnya Meningkatkan Kemampuan Nonteknis dalam Adaptasi Teknologi Pendidikan

Oleh: Zaenuri, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SALAH satu arti kata semangat berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah nafsu (kemauan, gairah) untuk bekerja, berjuang, dan sebagainya. Kemauan bekerja khususnya bagi guru jangan dianggap remeh. Mereka masih tetap semangat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai guru. Apalagi di masa sekarang ini ada satuan pendidikan yang sudah melaksanakan pembelajaran tatap muka terbatas ada yang simulasi pembelajaran tatap muka terbatas. Untuk satuan pendidikan khususnya di Sekolah Dasar kami SD Negeri 1 Wonosari Kecamatan Pegandon Kabupaten Kendal sudah bisa melaksanakan pembelajaran tatap muka terbatas. Hal ini sesuai surat edaran dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kendal.

Kegiatan Pembelajaran akan lebih menarik apabila menggunakan alat komunikasi yang terkoneksi dengan internet. Namun sebagian besar guru menggunakan sarana komunikasi berupa HP hanya digunakan untuk memberikan tugas kepada siswanya melalui WA grup di kelasnya bukan merupakan kegiatan proses belajar mengajar. Untuk itu guru perlu memiliki kemampuan nonteknis dalam adaptasi teknologi.

Baca juga:  Banser Kaliwungu Digembleng Tanggap Bencana

Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran Guru hendaknya memiliki kemampuan nonteknis dalam adaptasi teknologi Pendidikan. Berdasarkan webinar ”Program Semangat Guru: Seri Kemampuan Nonteknis Dalam Adaptasi Teknologi” di laman ayogurubelajar.kemdikbud.go.id. Guru harus memiliki kemampuan nonteknis dalam adaptasi teknologi yang meliputi enam hal.

Resilience merupakan kemampuan untuk bangkit dan pulih ketika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai harapan. Resiliensi juga merupakan kemampuan menghadapi situasi sulit dan bertumbuh dari pengalaman yang kurang positif dan dapat membuat kita mencapai tujuan.
Critical thinking artinya kemampuan untuk berpikir secara jernih dan rasional tentang apa yang harus dilakukan atau apa yang harus dipercaya. Berpikir kritis diartikan sebagai proses berpikir mendalam, juga mencakup kemampuan untuk evaluasi diri dan membuat seseorang jadi lebih mandiri.

Creativity merupakan kemampuan untuk mencipta. Sebagai guru harus memiliki semangat belajar akan sesuatu yang baru, bukan hanya tugas untuk dikerjakan. Oleh sebab itu guru harus memiliki kemampuan bercerita.

Baca juga:  Menulis Teks Berita Efektif dengan Teknik Tayasi

Communication Komunikasi Efektif adalah proses pertukaran ide, pemikiran, pengetahuan, dan informasi yang disajikan dengan cara yang paling dipahami oleh penerima sehingga tujuan atau niat dapat terpenuhi dengan sebaik mungkin. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah metode komunikasi yang sesuai sehingga interaksi dan hubungan baik tetap dapat terjalin dengan adanya komunikasi yang efektif. Disinilah teknologi berperan sebagai perangkat yang menghubungkan interaksi sosial. Tetapi apapun HP yang kita gunakan, alat yang paling canggih adalah kemampuan nonteknis diri sendiri yang senantiasa kita kembangkan sesuai dengan kemajuan zaman.

Empowered Teacher: Penerapan Kelas Campuran. Kelas Campuran adalah kelas yang menerapkan pembelajaran campuran sehingga murid mendapatkan pengalaman belajar yang optimal. Dengan mengadaptasi konsep dari Catlin R. Tucker dkk (2017) maka Bukik Setiawan (2021) mendefinisikan Pembelajaran Campuran (Blended Learning) sebagai program pendidikan yang memfasilitasi murid belajar dengan memenuhi empat ciri:

Baca juga:  Angka Kesembuhan di Kendal lebih Tinggi

Satu pembelajaran asinkron yang memungkinkan murid merdeka mengatur waktu, tempat, alur dan tempo belajarnya. Dua pembelajaran sinkron dengan pendampingan guru pada suatu waktu dengan moda belajar tertentu. Tiga menghubungkan beragam modalitas program/mata pelajaran menjadi suatu pengalaman belajar terintegrasi. Empat membantu murid menjadi pelajar merdeka belajar dalam mencapai sasaran belajar yang disepakatinya.

Collaboration: Pembelajaran kolaboratif merupakan sebuah proses di mana peserta didik pada berbagai tingkat kemampuan bekerja sama dalam kelompok kecil menuju tujuan bersama. Pembelajaran dengan pendekatan yang berpusat pada peserta didik.

Bapak dan Ibu guru dengan memiliki kemampuan nonteknis dalam adaptasi teknologi mudah-mudahan kegiatan pembelajaran akan mengasikkan. Siswa tidak merasa bosan pada waktu mengikuti kegiatan pembelajaran. Tujuan pembelajaran akan tercapai. (ump2/zal)

Kepala SDN 1 Wonosari, Kendal

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya