alexametrics

Pembelajaran Busana Jawa dengan Metode Scaffolding-Learning

Oleh: Suprahwana Wahyu Diharja, S.S.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Perkembangan zaman merupakan keniscayaan dalam kehidupan masyarakat. Tentu perkembangan zaman membawa perubahan kehidupan. Perubahan yang terjadi akibat perkembangan zaman dalam kehidupan masyarakat adalah busana Jawa. Keberadaan busana Jawa saat ini sangat memprihatinkan. Di mana generasi muda sekarang banyak yang tidak mengerti tentang busana Jawa. Upaya mengatasi memudarnya keberadaan busana Jawa, menumbuhkan rasa cinta, melestarikan serta menguatkan kebudayaan pada generasi muda Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta mengerluarkan Pergub Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 75 tahun 2016 tentang Pakaian Dinas Pegawai Aparatur Sipil Negara dan SE Kadisdikpora Nomor 421/9843 tahun 2017 tentang Pakaian Seragam Sekolah Bagi Peserta Didik SLB, SMA dan SMK.

Dalam peraturan-peraturan tersebut salah satunya mengatur pemakaian pakaian busana Jawa gagrag Yogyakarta pada tanggal dan hari sebagai berikut: peringatan berdirinya Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat, peringatan pengesahan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, peringatan berdirinya Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta, penerimaan gunungan dari Kasultanan bertepatan dengan hari peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW, penerimaan gunungan dari Kasultanan bertepatan dengan Hari Raya Idhul Fitri, penerimaan gunungan dari Kasultanan bertepatan dengan Hari Raya Idhul Adha, dan Kamis Pahing.

Pemakaian busana Jawa gagrag Yogyakarta di sekolah, banyak ditemui siswa yang memakai pakaian Jawa gagrag Yogyakarta belum sesuai ketentuan. Kesalahan-kesalahan para siswa dalam pemakaian busana Jawa diantaranya: memakai batik bukan gagrag Yogyakarta, memakai batik awisan (larangan), memakai surjan Sembagi (surjan kembangan), model blangkon dan jenis batik tidak sesuai, model wiru dan jenis batik tidak sesuai, cara memakai dan model keris, model kebaya, dan lain-lain. Kesalahan-kesalahan ini dikarenakan siswa belum mengetahui dan memahami busana Jawa gagrag Yogyakarta.

Baca juga:  Aktifitas Fisik di Masa Pandemi Terhadap Olah Raga Pasing Atas dan Bawah pada Pembelajaran Daring

Selaian tertuang dalam peraturan-peraturan, pemakaian busana Jawa gagrag Yogyakarta juga ada dalam pelajaran Bahasa Jawa. Materi busana Jawa gagrag Yogyakarta pada pelajaran Bahasa Jawa diberikan di kelas XI semester ganjil. Penggunakan metode yang tepat dalam pembelajaran materi ini sangat penting. Materi busana Jawa gagrag Yogyakarta diajarkan supaya siswa dapat mengetahui dan memahami busana Jawa gagrag Yogyakarta, makna yang terkandung, dan cara memakainya dengan benar dan menarik.

Guru yang mengetahui hal yang disuka/kurang disuka siswanya akan mengambil langkah berbeda saat menyampaikan pelajaran di kelas (Eko Gunawan, 2018: 8). Supaya siswa tertarik dan suka dengan materi yang diajarkan, metode pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran ini adalah metode Scaffolding-Learning. Metode Scaffolding-Learning adalah metode pembelajaran dengan tahap-tahapan tertentu (Suwardi Endraswara, 2009: 145).

Baca juga:  Solusi Mudah Selesaikan Soal HOTS Program Linear dengan Metode Polya

Metode pembelajaran Scaffolding-Learning pada materi busana Jawa pada SMAN 1 Sewon diawali guru melakukan kegiatan pendahuluan. Dilanjutkan dengan guru mengecek jenis busana Jawa yang dibawa oleh siswa, pada pertemuan sebelumnya guru meminta siswa membawa busana Jawa gagrag Yogyakarta. Pengidentifikasian busana Jawa yang dibawa siswa ini untuk menentukan zona of proximal development.

Berdasarkan hasil identifikasi busana Jawa yang dibawa oleh siswa, guru membagi kelompok menjadi dua, yaitu kelompok pertama adalah siswa yang sudah benar busana Jawa gagrag Yogyakarta, dan kelompok kedua adalah siswa yang busana Jawanya belum benar.

Bagi kelompok siswa kedua, guru memberikan penjelasan perbedaan mendasar kain jarit atau batik, blangkon, dan kebaya gagrak Yogyakarta dengan Surakarta. Setelah kelompok siswa kedua paham perbedaan busana Jawa gagrag Yogyakarta dengan Surakarta, guru mengajak kelompok pertama dan kedua untuk dijelaskan ketahap berikutnya.

Pada tahap ini seluruh siswa diajak melihat foto Dimas Diajeng yang memakai busana Jawa gagrag Yogyakarta. Dilanjutkan guru menunjuk bagian foto Dimas Diajeng menjelaskan nama-nama busana Jawa gagrag Yogyakarta urut dari atas serta makna filosofinya.

Tahap selanjutnya setelah siswa paham nama-nama busana Jawa gagrag Yogyakarta serta filosofinya guru melatih siswa membuat wiru laki-laki dan perempuan gagrag Yogyakarta. Dilanjutkan dengan praktik mandiri dengan memberi peringatan supaya antara kain jarit, bentuk wiru, jenis kelamin pemakai serta gagragnya sesuai. Setelah siswa berhasil membuat wiru dengan benar, tahap berikutnya guru mengajari siswa cara melipat kain jarit yang telah diwiru. Setelah siswa bisa mempraktikan melipat kain jarit yang diwiru, tahap selanjutnya guru menjelaskan cara memakai busana Jawa gagrag Yogyakarta dengan urut, dilanjutkan siswa praktik mandiri dan guru mengurangi dukungan bantuan terhadap siswa. Ditahap berikutnya guru mengecek hasil belajar yang telah dicapai siswanya. Ditahap akhir pembelajaran guru menutup pelajaran dan tetap memberikan arahan kepada siswa agar bergerak kearah kemandirian dan pengarahan dalam belajar.

Baca juga:  Pemanfaatan LMS dalam Pembelajaran Uyon-Uyon di Masa Pandemi

Penggunaan metode Scaffolding-Learning pada pembelajaran busana Jawa gagrag Yogyakarta yang dilakukan dengan beberapa tahapan diharapkan bisa membantu siswa memahami busana Jawa gagrag Yogyakarta dengan mudah. Selain memberikan pendidikan dan pemahaman kepada siswa, kita sebagai pendidik juga harus menumbuhkan pada diri siswa rasa cinta, memiliki, dan menjaga busana Jawa gagrag Yogyakarta. Dukungan dari berbagai pihak juga sangat penting dalam upaya menjaga warisan nenek moyang kita ini. (ump2/aro)

Guru SMAN 1 Sewon, Kabupaten Bantul, DIY

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya