alexametrics

Model CPS, Jadikan Siswa Kreatif Belajar Matematika

Oleh: Rini Suprapti, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, TUJUAN belajar Matematika di SMP seperti termuat dalam Kurikulum 2013 adalah untuk melatih perkembangan dan kecerdasan otak siswa. Dalam hal ini, Matematika diperlukan untuk melatih keterampilan otak, guna menganalisis dan menyelesaikan masalah.Dan agar matematika menjadi pelajaran yang digemari siswa, maka guru dituntut kreatif dan inovatif dalam menggunakan model-model pembelajaran.

Salah satu model pembelajaran yang penulis terapkan dalam pembelajaran Matematika di SMPN 1 Kalibawang, Kulonprogo yakni Creative Problem Solving (CPS). Model ini sangat tepat digunakan, karena siswa dituntut mampu untuk memecahkan suatu masalah dengan cepat dan tepat.

Model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS). CPS adalah suatu model pembelajaran yang melakukan pemusatan pada pengajaran dan ketrampilan memecahkan masalah,yang diikuti dengan penguatan keterampilan (Karen dalam Cahyono,2009).
Sedangkan Marsudiyono (2018) menekankan, model pembelajaran CPS adalah suatu metode pembelajaran yang pemusatannya tertuju pada keterampilan pemecahan masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasian gagasan-gagasan kreatif. Siswa tidak hanya diajarkan cara menghafal tanpa berpikir, namun dituntut untuk memilih dan mengembangkan suatu tanggapan untuk memperluas proses berpikir

Baca juga:  Belajar Bahasa Inggris Lebih Asyik dengan Musik

Model pembelajaran CPS ini, penulis terapkan untuk mengajarkan materi bilangan berpangkat pada kelas IX, semester I di SMPN 1 Kalibawang, Kulonprogo

Adapun langah-langlah yang penulis terapkan dalam pembelajaran dengan model CPS ini sebagai berikut. Pertama, klarifikasi masalah. Klarifikasi masalah meliputi pemberian penjelasan kepada siswa tentang masalah yang diajukan, agar siswa dapat memahami tentang penyelesaian seperti apa yang diharapkan. Klarifikasi masalah diperlukan karena penyelesaian terhadap suatu masalah sangat tergantung pada pemahaman terhadap masalah itu sendiri. Sekali masalah berhasil dirumuskan maka langkah berikutnya dapat dilalui dengan mudah.

Kedua, pengungkapan pendapat.Pada tahap ini siswa dibebaskan untuk mengungkapkan pendapat tentang berbagai macam solusi/penyelesaian masalah. Siswa berusaha untuk menemukan berbagai alternatif penyelesaian masalah. Untuk itu setiap siswa harus kreatif, berpikir secara divergen, dan memiliki daya temu yang tinggi.

Baca juga:  Gitar Akustik dalam Pembelajaran Hukum Mersenne

Ketiga, evaluasi dan pemilihan. Pada tahap evaluasi dan pemilihan ini, setiap kelompok mendiskusikan pendapat-pendapat atau solusi mana yang cocok untuk menyelesaikan masalah. Siswa meninjau kembali pendapatnya dengan memberikan penjelasan dari setiap pendapat yang diungkapkan, dengan demikian dapat dicoret strategi/cara/penyelesaian yang kurang relevan. Pada tahap ini siswa menggunakan pertimbangan-pertimbangan yang kritis, selektif, dengan berpikir secara konvergen. Siswa memilih alternatif terbaik yang digunakan sebagai solusi.

Keempat, implementasi.Pada tahap ini siswa menentukan solusi mana yang dapat diambil untuk menyelesaikan masalah, kemudian menerapkannya sampai menemukan penyelesaian dari masalah tersebut.

Berdasarkan pengamatan penulis, model CPS ini memiliki empat kelebihan. Pertama, melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan. Kedua, berpikir dan bertindak kreatif. Ketiga, memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis.Keempat, mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan. Kelima, menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan. Keenam. merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengantepat. Dan ketujuh, dapat meningkatkan hasil belajar siswa. (pb2/zal)

Baca juga:  Menyanyi Memudahkan Belajar Matematika Materi Bangun Ruang

Guru SMPN 1 Kalibawang, Kulonprogo

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya