alexametrics

Role Play Tingkatkan Keterampilan Menulis Kembali Isi Cerita Kethoprak dengan Ragam Krama

Oleh : Adi Nurcahyono, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Keterampilan berbahasa bagi siswa SMP merupakan dasar untuk mengembangkan dirinya dalam berkomunikasi di masyarakat. Sehingga siswa dituntut menguasai banyak keterampilan. Salah satu di antaranya adalah keterampilan berbahasa untuk memperlancar komunikasi dan berinteraksi satu sama lain. Ada empat macam keterampilan berbahasa yang memiliki hubungan erat satu sama lain, yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.

Menulis adalah suatu keterampilan yang memiliki peran penting dalam dunia pendidikan, keterampilan menulis memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Hal itu disebabkan keterampilan menulis memerlukan penguasaan akan unsur kebahasaan dan unsur di luar kebahasaan yang akan menjadi isi karangan. Unsur kebahasaan maupun unsur di luar kebahasaan harus terjalin dengan baik, agar dapat menghasilkan karangan yang runtut dan padu.

Darmadi, K (1996:22) mengatakan bahwa sebagai puncak kemampuan berbahasa, kegiatan menulis merupakan kemampuan yang kompleks. Keterampilan menulis sebagai salah satu dari keterampilan berbahasa mempunyai peranan yang sangat penting di dalam kehidupan manusia.
Dengan menulis, seseorang dapat mengungkapkan pikiran dan gagasan untuk mencapai maksud dan tujuannya. Di dalam kegiatan menulis harus mengetahui kaidah-kaidah menulis supaya para pembaca dapat mengetahui isi, gagasan, dan tujuan menulis tersebut. Ada banyak hal yang harus diperhatikan untuk dapat membangun suatu karangan dan tulisan. Seseorang yang sedang belajar menulis pun harus mengetahui bahwa untuk menyelesaikan sebuah tulisan yang sederhana, tetap diperlukan sebuah kemampuan.

Baca juga:  Meningkatkan Keterampilan Bertanya pada Pembelajaran di Masa Pandemi

Pembelajaran berdasarkan pengalaman yang menyenangkan di antaranya adalah bermain peran (role play) yakni suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan peserta didik. Metode bermain peran atau role play adalah salah satu proses belajar yang tergolong dalam metode simulasi.

Metode bermain peran (role play) juga dapat diartikan suatu cara penguasaan bahan-bahan melalui pengembangan dan penghayatan dilakukan oleh peserta didik dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Dengan kegiatan memerankan ini akan membuat peserta didik lebih meresapi perolehannya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan pelaksanaan metode bermain peran ini adalah penentuan topik, penentuan anggota pemeran, latihan singkat dialog dan pelaksanaan permainan peran.
Metode role play adalah metode pembelajaran yang di dalamnya menampakkan adanya perilaku berpura-pura dari peserta didik yang terlihat atau peniruan situasi tokoh-tokoh yang ada pada dialog. Metode ini dipercaya bahwa sekelompok peserta didik dimungkinkan untuk menciptakan skenario mengenai situasi kehidupan nyata. Dengan demikian metode pembelajaran ini berusaha mengurangi peran guru yang terlalu mendominasi pembelajaran dalam pendekatan tradisional.

Baca juga:  Seminggu Bisa Gowes Tiga Kali, sambil Promosi Objek Wisata

Pembelajaran menggunakan metode role play merupakan konsep belajar yang mengaitkan antara materi pelajaran dengan situasi dunia nyata siswa dan secara otomatis pula siswa akan membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka.
Proses pembelajaran berlangsung alamiah. Siswa mengeksplorasi, mengelaborasi, mengonfirmasi dan mengalami sendiri, bukan transfer pengetahuan dari dari guru ke siswa.

Role-play tidak sekadar komunikasi dua arah dalam konsep pembelajaran di kelas. Role-play juga bisa diterapkan untuk menyentuh aspek-aspek lain. Misalnya aspek konteks, perkembangan, karakter, atau budaya. Pada hakikatnya semua pembelajaran harus memperhatikan aspek-aspek tersebut.

Pembelajaran harus dilakukan secara kontekstual untuk meningkatkan aspek-aspek perkembangan siswa dan melihat situasi nyata atau budaya apa yang dianut atau dipegang oleh peserta didik. Atau karakter apa yang harus dikembangkan. Pembelajaran juga akan efektif jika menggunakan media dan alat peraga yang tepat dan benda-benda nyata yang ada di sekitar kehidupan siswa-siswi. (gr1/lis)

Baca juga:  Konseling untuk Mengatasi Konflik Anak dan Orang Tua

Guru Bahasa Jawa SMPN 1 Grabag, Kabupaten Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya